Pengendalian Serangga Hama Pertanian Dengan Memanfaatkan Tanaman Refugia Berlandaskan Konsep Keseimbangan Ekosistem

Oleh: Topan Adi Pondra

Gambar 1: Tanaman Refugia Pada Lahan Padi

Pertanian merupakan hal yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pangan suatu bangsa. Dari waktu ke waktu permasalahan yang dihadapai dalam dunia pertanian semakin bertambah. Mulai dari serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) dan berubahnya iklim. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa di wilayah Jawa Barat, Jawa tengah, dan Jawa timur lahan padi yang terkena serangan hama wereng coklat (Nilapartava lugens) seluas 63.075 hektar  dengan gagal panen seluas 20.152 hektar pada periode tanam Oktober 2016 sampai dengan Agustus 2017. Salah satu penyebab berkembangnya hama wereng coklat adalah kemarau basah dan curah hujan bulanan pada tahun 2016 sampai 2017 sehingga meyediakan lingkungan yang lembab dan cocok bagi pertumbuhan hama wereng coklat.(1) Kepala Dinas Tanaman Hortikultura Jawa Barat, menyatakan bahwa lahan yang terkena serangan organisme pengganggu tanaman pada periode 2017 seluas 19.812 hektare. Serangan hama tersebut meningkat sebesar 14,48 % dari tahun 2016.(2)

Serangga dikatakan sebagai hama jika merusak dan menurunkan nilai ekonomi dari suatu tanaman budidaya. Jika serangga yang hidup pada lingkungan pertanian tidak menyebabkan kerugian ekonomi maka serangga tersebut tidak termasuk hama pertanian. Ekosistem memiliki peran yang sangat penting dalam mengendalikan populasi dari hama. Keanekragaman (Diversifikasi) tanaman dalam sebuah ekosistem sangat penting dalam menentukan jumlah organisme yang hidup di ekosistem tersebut. Semakin banyak keanekragaman tanaman pada lahan pertanian maka semakin banyak pula berbagai macam serangga beserta perannya. Seperti kita ketahui serangga ada yang berperan sebagai Predator, Parasit, dan Polinator (Penyerbuk). Dengan hadirnya berbagai macam serangga ini maka keseimbangan ekosistem pada lahan pertanian dapat terjaga.

Penggunaan insektisida kimia oleh petani dalam memberantas hama pertanian sudah dilakukan sejak lama. Penggunaan insektisida secara berlebihan dan terus menerus memiliki dampak yang berbahaya bagi lingkungan. Penggunaan insektisida kimia dapat membuat hama kebal (resisten). Dalam praktek penggunaannya, ada beberapa serangga yang dapat bertahan dari insektisida ini. Hama yang dapat bertahan ini jika berkembang biak dapat menghasilkan keturunan yang kebal terhadap insektisida kimia. Selain itu, residu yang ditinggalkan insektisida kimia pada tanaman dapat menyebabkan keracunan bagi manusia yang mengkonsumsi tanaman tersebut. Hal inilah yang membuat insektisida kimia kurang efektif dalam memberantas hama dalam jangka panjang, selain menyebakan hama kebal (resistant) juga dapat mengancam kesehatan manusia yang mengkonsumsinya.

Baca juga:

Gambar 2:  Jaring Makan Sederhana, serangga hama,      Parasit, dan Predator

Sumber: Balai Besar Penelitian Padi

Untuk mengatasi hama yang semakin berkembang kita dapat menggunakan metode secara alami dan ramah lingkungan dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem pada lahan pertanian. Metode ini adalah menciptakan interaksi antara serangga hama dan serangga predator.(3) (Gambar 2) Sehingga jumlah populasi serangga hama dapat dikendalikan dengan kehadiran serangga predator. Untuk menghadirkan serangga predator kita perlu menciptakan habitat atau tempat tinggal yang nyaman untuk serangga tersebut dengan cara menanam tanaman refugia untuk menarik serangga predator. Tanaman refugia adalah  jenis tanaman yang menyediakan tempat perlindungan, sumber pakan, atau sumberdaya lain bagi serangga predator atau parasit. Beberapa tanaman refugia diantaranya adalah Bunga Matahari (Helianthus annuus), tanaman kenikir (Cosmos caudatus), tanaman bunga kertas (Zinnia peruviana) dan beberapa tanaman gulma berbunga penghasil nektar seperti babadotan (Ageratum conyzoides), Ajeran (Bidens pilosa), dan bunga tahi ayam (Tagetas erecta).(4) Dengan adanya tanaman ini maka serangga predator tinggal dan dapat mengendalikan jumlah serangga hama pada lahan pertanian. penelitian yang dilakukan Weni dkk (2016) mendapatkan hasil bahwa tanaman gulma berbunga disekitar atau pematang sawah dapat mendatangkan serangga predator lebih banyak dibandingkan dengan tanaman jagung dan kacang panjang.(5) Dengan metode ini maka penggunaan insektisida kimia yang dapat merusak lingkungan dapat dikurangi bahkan penggunaannya tidak diperlukan lagi.

Daftar Pustaka

[1]Julianto, Pramdia Arhando. 2017. 63.000 Hektar Sawah Terkena Serangan Hama Wereng. Diambil dari:  https://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/04/152139426/63000-hektar-sawah-terkena-serangan-hama-wereng

[2]Budiman, Asep. 2017. Serangan Hama Meningkat Varietas Baru Solusinya. Diambil dari:  http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/07/07/serangan-hama-meningkat-varietas-baru-solusinya-404722

[3]Nuryanto, Bambang. 2016. Waspada Serangan Hama Tanaman Padi Di Musim Hujan. Diambil dari:  http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/404-waspada-serangan-hama-tanaman-padi-di-musim-hujan

[4]Pradikta, Aliffia Alfa. 2017. Refugia Sebagai Alternatif Pengendalian Alami Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Diambil dari: http://bbppketindan.bppsdmp.pertanian.go.id/blog/refugia-sebagai-alternatif-pengendalian-alami-organisme-pengganggu-tumbuhan-opt

[5]Weni, Hastin Wulan Sekar. Pujiastuti, Y. Umayah, A. 2016. Efek Refugia Terhadap Arthropoda Tanaman Padi (Oryza sativa) di Sawah Pasang Surut. Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal. 20-21 Oktober 2016.       

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *