Mempertahakan Esensi Puasa dengan Menjaga Gizi Seimbang

Bulan Ramadhan telah memasuki minggu ke dua. Biasanya di waktu menjelang berakhirnya bulan Ramadhan, banyak di antara kita yang kualitas ibadahnya menurun atau lebih tepatnya semangat dalam menjalani ibadah menjadi menurun. Banyak faktor yang menyebabkan menurunnya semangat berpuasa, di antaranya niat kurang di-upgrade, kurang banyak melakukan aktifitas yang tidak bermanfaat, dan tidak memperhatikan gizi seimbang serta pola makan yang tepat selama berpuasa.

Puasa memiliki pengertian menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Pada umumnya waktu berpuasa adalah setengah hari (12 jam). Akan tetapi, banyak negara-negara di luar Indonesia yang memiliki waktu berpuasa lebih dari 12 jam, bahkan ada yang mencapai 22 jam. Seberapa lamanya waktu berpuasa, aktifitas harian kita tetap harus terlaksana seperti bekerja, sekolah, dan kegiatan lainnya. Banyaknya aktifitas yang kita lakukan dan asupan yang ada dalam tubuh semakin berkurang (dikarenakan berpuasa) megakibatkan timbulnya rasa lelah bahkan lapar dan haus. Oleh karena itu, penting bagi kita umat Muslim yang menjalani ibadah puasa Ramadhan untuk menjaga gizi dan pola makan pada saat berpuasa.

Menurut Sayyid (2012) terdapat dua aturan penting yang harus dijaga selama menjalani ibadah puasa, yaitu:

Sahur

Sahur merupakan salah satu sunnah yang utama dalam berpuasa. Rasulullah bersabda “Jadikanlah makan sahur sebagai penolong kalian berpuasa di siang hari, dan jadikanlah tidur qailullah sebagai penolong kalian bangun malam”. (HR. Ibnu Majah dari Ibnu Abbas). Dari hadist tersebut dapat diambil hikmah bahwa makan sahur dapat membantu kita untuk menjalani puasa di siang hari. Oleh karena itu, sahurlah walaupun dengan seteguk air putih karena dengan sahur puasa yang kita jalani akan mendapatkan keberkahan.

Berbuka Puasa

Berbuka puasa dilakukan pada saat matahari terbenam atau lebih tepatnya keika maghrib tiba. Menyegerakan berbuka merupakan hal yang sangat dianjurkan, seperti sabda Rasulullah berikut ini, “Manusia masih dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Bukhari Muslim).

Menu makanan yang disunnahkan dan sangat dianjurkan pada saat berbuka dalah makanan yang ringan. Salah satu contohnya menyantap tiga buah kurma. Atau apabila tidak ada kurma maka boleh hanya dengan segelas air. Biasanya menjelang bulan puasa penjual kurma sudah banyak kita temui di pinggir jalan, pasar ataupun supermarket. Di setiap acara berbuka bersama kurma merupakan menu utama yang selalu ada. Mengapa kurma begitu istimewa dan menjadi menu favorit dalam berbuka? Kurma memiliki sifat mudah dicerna. Kandungan Glukosa yang terkandung dalam kurma dapat langsung diserap tanpa harus dicerna oleh dinding usus halus.

Selama berpuasa, lambung tidak bekerja seperti biasanya. Keadaan lambung menjadi lunak dan longgar saat kita berpuasa. Sehingga, sangat dianjurkan untuk menyantap makanan yang ringan ketika berbuka karena apabila kita langsung memasukkan makanan yang berat maka lambung menjadi penuh yang berakibat lambung menjadi sulit dalam mencerna makanan. Akibatnya akan timbul rasa kantuk dan malas yang menghalangi aktifitas ibadah lainnya.

Makan Berlebihan (www.malangtoday.com)

Mengonsumsi makanan secara berlebihan pada saat berbuka sering terjadi. Padahal gizi yang dibutuhkan tubuh pada saat bulan puasa sama saja dengan bulan-bulan lainnya. Kebiasaan buruk ini sangat berdampak pada kinerja sistem pencernaan kita. Seperti mengonsumsi makanan dan minuman dalam kadar yang berlebihan. Sehingga berakibat berkurangnya esensi puasa untuk kesehatan tubuh kita.

Puasa dapat meghindari diri dari berbagai macam penyakit, yaitu:

  1. Penyakit liver, goncangan usus, dan radang lambung.
  2. Gangguan pada usus.
  3. Kegemukan.
  4. Pengerasan pada dinding pembuluh nadi (arterioklerosis).
  5. Rasa sakit pada persendian dan gangguan psikologis.
  6. Peradangan kulit.
  7. Diabetes

Menjaga keseimbangan gizi dan mengatur pola makan selama berpuasa sangatlah penting. Ubahlah mindset dari menganggap setelah berbuka puasa harus ‘balas dendam’ menjadi ‘melawan hawa nafsu’, yaitu membatasi diri dari mengonsumsi makanan secara berlebihan. Berpuasa sangatlah bermanfaat bagi kesehatan tubuh, konsumsilah makanan dan minuman pada saat sahur dan berbuka secara wajar dan sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Ada baiknya, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Hal ini akan menjadikan nafsu makan kita terkontrol. Seperti dalam sabda Rasulullah Muhammad SAW, “Tak ada bejana yang diisi manusia lebih buruk dari perutnya. Cukuplah bagi anak Adam mengisi beberapa suap, suapan yang dapat meneggakan tulanng belakangnya (menunaikan kewajibannya). Kalau dia ingin mengisi perutnya maka sepertiga untuk ruang makannya, sepertiga untuk ruang minumnya, dan sepertiga untuk ruang napasnya. (HR. Turmudzi)

Referensi:

  • Sayyid MBA., Ketika Rasulullah Tidak Pernah Sakit: Gaya Hidup Sehat Islami, Tiga Serangkai, Solo, 2012.
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar