Dapatkah jamur menggantikan peran plastik ?

We don’t manufacture materials, we grow them – Gavin McIntyre

Bicara tentang plastik, topik ini akan panjang sekali bila dibahas layaknya umur plastik itu sendiri. Peran plastik di dunia ini tentunya tidak akan bisa digantikan oleh bahan lain seperti yang sudah dibahas di artikel: Plastik, Manusia, dan Lingkungan; Tiga Hal yang Belum dapat Terpisahkan, sehingga penggunaan plastik tidak bisa dielakkan dan masalah yang timbul hanyalah karena kita masih belum maksimal untuk bijak dalam penggunaannya. Namun, beberapa peneliti berhasil menemukan dan menguji coba bahan sebagai alternatif kemasan menggantikan fungsi plastik. Salah satu bahan yang dapat menggantikan fungsi plastik sebagai kemasan ialah jamur.

Lebih tepatnya pada tahun 2006, Eben Bayer dan Gavyn McIntyre berhasil menemukan bagian dari jamur yang dapat digunakan untuk menggantikan fungsi plastik. Jamur jenis apakah yang digunakan sebagai kemasan? Proses apa yang dilakukan sehingga jamur dapat digunakan sebagai kemasan? Bagiamana kualitas produk kemasan berbahan dasar jamur? Baik, harap tenang, semua akan kita bahas dalam artikel ini.

Sebetulnya, bahan baku yang digunakan untuk memproduksi kemasan yang selalu kita singgung bukanlah seperti yang para pembaca kira. Pasti para pembaca mengira bahwa bahan baku ini layaknya jamur tiram yang suka kita goreng lalu kita makan, dan itu enak. Bukan tentunya ya! Jadi bahan baku yang digunakan ialah limbah dari industri pertanian seperti yang ada pada gambar 1.

Gambar 1. Media tumbuh Mycelia[5].

Tak lain bahan bakunya adalah bonggol jagung juga sekamnya, remah – remah dari tanaman kapas setelah kapasnya dipanen, cangkang barley, cangkang kacang, sekam gandum kuda (soba), sekam sorgum, jerami muda, sekam padi dan jerami gandum[7]. Bahan baku tersebut didapat dari para petani lokal. Sehingga, seperti kutipan salah satu pelopor perusahaan yaitu Gavin McIntyre Mycelia yang merupakan pemebentuk kemasan tumbuh mengkonsumsi media tersebut. Mycelia adalah kumpulan hifa. Hifa diketahui sebagai perkecambahan spora yang terjalin layaknya kain tenun yang membentuk makhluk hidup bersel satu yang cukup lebar. Dimana, perkecambahan spora adalah proses jamur bereproduksi, hal ini dikarenakan jamur tidak bereproduksi melalui biji ataupun fotosintesis. Adapun gambaran Hifa dapat dilihat di gambar 2.

Gambar 2. Hifa[1].

Pertanyaan selanjutnya adalah proses dari pembuatan kemasan. Proses pembuatannya cukup unik. Secara garis besar proses yang dilakukan oleh Ecovative (ialah perusahaan yang memproduksi kemasan dari jamur secara komersil) ialah mencetak media tumbuh Mycelia pada sebuah cetakan sehingga jalinan Mycelia yang akan tumbuh akan tumbuh sesuai dengan cetakannya. Sehingga Mycelia yang tercetak dapat digunakan sesuai dengan kebutuhannya. Salah satu produk yang dihasilkan adalah kemasan botol minuman yang dijual di IKEA. Hal ini merupakan alternatif untuk mengganti styrofoam yang biasa digunakan.

Gambar 3. Botol minuman dan kemasan[4].

Namun, selain itu terdapat pengolahan awal terlebih dahulu sebelum media dapat menumbuhkan Mycelia. Media tumbuh yang merupakan bahan baku terebut dibersihkan terlebih dahulu untuk kemudian diberi bibit jamur. Kemudian bahan baku tersebut dimasukan ke dalam cetakan. Alhasil dalam waktu sekitar 4 – 6 hari Mycelia akan tumbuh dengan mencerna bahan baku yang ada. Mycelia akan tumbuh bebas untuk membentuk tumpukan serat dan mengisi ruang kosong yang ada. Setelah itu Mycelia yang terbentuk diapanaskan untuk menghentikan proses pertumbuhan mycelia dan mencegah Mycelia menumbuhkan jamur[1].

Untuk lebih jelasnya boleh dilihat detail proses dan penjelasannya oleh Eben Bayer yang merupakan CEO dari Ecovative Company.

Produk yang berupa kemasan ini digadang – gadang dapat menggantikan peran Styrofoam. Sehingga bila kita sandingkan antara kemasan dari Styrofoam atau Mycelia, maka Mycelia ini mempunyai banyak keuntungan. Diantaranya [7] :

1. Ketersediaan bahan yang melimpah

Bahan yang merupakan limbah pertanian, membuat kemasan dari jamur ini mempunyai umur ketersediaan bahan yang panjang.

2. Biaya produksi lebih murah

Biaya produksi yang murah tak lain di awali dengan bahan yang murah bila dibandingkan dengan Styrofoam. Plastik yang berupa Styrofoam berasal dari sumber daya alam yang tak terbaharukan berupa minyak bumi tentu mempunyai harga yang lebih tinggi dibandingkan limbah pertanian.

3. Ramah lingkungan dan Biodegradable

Penguraian yg terjadi pada Produk Plastik/Styrofoam dari mycelia terjadi hanya dalam hitungan bulan. Lain halnya dengan Styrofoam yang berasal dari minyak bumi, yang lamanya bisa mencapai 500 tahun [8].

Sejauh ini Mycellia yang berasal dari jamur baru dapat menggantikan bahan styrofoam yang berfungsi sebagai kemasan ataupun pelindung barang – barang elektronik[3]. Apabila warga warstek.com tertarik untuk menggunakan produk kemasan dari Mycelia ini bisa hubungi perusahaannya untuk langsung melakukan kerja sama. Tak hanya itu, bila hanya bermodalkan penasaran dan budget yang minim warga warstek.com nan rupawan bisa memesan bahan baku skala kecil untuk dapat dijadikan sebuah hiasan sesuai dengan cetakannya, mungkin salah satunya bisa mengunakan cetakan yang berasal dari perusahaan ecovative itu sendiri.

Gambar 4. Cetakan berbentuk beruang [5].

Berbicara tentang suatu produk tentu tak bisa luput kita bicarakan spesifikasi dari produk tersebut. Adapun spesifikasi kemasan dari Mycelia adalah sebagai berikut :

 

Tabel 1. Spesifikasi kemasan dari Mycelia [2]

Metric Standard Testing Lab MycoFoam
Density (lbs/ft3) ASTM C303 Ecovative 7.6
Compressive Strength (psi) ASTM C165 Ecovative 18
Compressive Elastic Modulus (psi) ASTM C165 Ecovative 165
Flexure Strength (psi) ASTM C203 Ecovative 34
Compostability (days) ASTM D6400 NSF International 30
Flame Spread ASTM E84 QAI 20
Smoke Emission ASTM E84 QAI 50
Thermal Conductivity, at 10°C (W/mK) ASTM C518 Oak Ridge National Laboratory 0.039
Water Vapor Permeation (dry cup) ASTM E96 Oak Ridge National Laboratory 30
Moisture Storage at 53.5% RH (%) ASTM C1498 Oak Ridge National Laboratory 8
Moisture Storage at 75% RH (%) ASTM C1498 Oak Ridge National Laboratory 12

 

Masih banyak tantangan yang harus kita jawab untuk menemukan bahan yang ramah lingkungan untuk menggantikan peran plastik.

Referensi :

  1. 2018. Cradle to cradle products innovation institute. https://www.c2ccertified.org/innovation-stories/ecovative
  2. Ecovative design. 2018. Official website. https://ecovativedesign.com/ [diakses tanggal : 23 Mei 2018]
  3. Frazier, Ian. 2013. Form And Fungus: Can mushrooms help us get rid of Styrofoam? https://www.newyorker.com/magazine/2013/05/20/form-and-fungus
  4. Gosden, Emily. 2016. Ikea plans mushroom-based packaging as eco-friendly replacement for polystyrene. https://www.telegraph.co.uk/news/earth/businessandecology/recycling/12172439/Ikea-plans-mushroom-based-packaging-as-eco-friendly-replacement-for-polystyrene.html
  5. bio . 2018. An ecovative brand. (link: https://grow.bio/collections/shop ) [diakses tanggal : 23 Mei 2018]
  6. National Science Foundation. 2010. Latest ‘green’ packing material? Mushrooms. https://phys.org/news/2010-07-latest-green-material-mushrooms.html
  7. Schiffman, Richard. 2013. Mushrooms are the new Styrofoam. https://www.newscientist.com/article/mg21829210-300-mushrooms-are-the-new-styrofoam/
  8. Science Learning Hub. 2018. Measuring Biodegrability. https://www.sciencelearn.org.nz/resources/1543-measuring-biodegradability [diakses tanggal : 29 Mei 2018]
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Audia Wira Rachmadi

Audia Wira Rachmadi

Mahasiswa S2 Teknik Kimia

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar