Inovasi Edible Film dari Rumput Laut sebagai Pengemas Bumbu Mie Instan yang Ramah Lingkungan

Plastik merupakan suatu benda yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Sampah plastik tergolong dalam sampah non organik yang sangat berbahaya bagi lingkungan karena membutuhkan waktu dan proses yang lama yaitu 1.000 tahun untuk dapat diuraikan secara alami di tanah dan 450 tahun untuk terurai di air. Penggunaan plastik ini banyak digunakan untuk kemasan pada bahan pangan dan masih bersifat non-biodegradable[1]. Salah satu fungsi kemasan plastik ini adalah sebagai pengemas pada bumbu mie instant yang berasal dari bahan sintetik yang bersifat non-biodegradable dan tidak dapat didaur ulang sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu ditemukan pengganti berupa bahan kemasan ramah lingkungan yang dapat terurai oleh mikroorganisme (biodegradable) yang kuat dan elastis, serta menyerupai kemasan plastik biasa dan aman digunakan untuk diaplikasikan sebagai kemasan pada bahan pangan. Jenis kemasan biodegradable yang dapat dimakan (edible) dan berbentuk film atau lembaran tipis, disebut juga dengan edible film. Edible film sebagai pengemas bumbu mie instant merupakan salah satu solusi alternatif yang dapat digunakan untuk mengurangi masalah pencemaran lingkungan tersebut.

Pengemasan merupakan sesuatu yang penting untuk memberikan perlindungan bagi bahan pangan yang dikemasnya. Secara khusus, pengemasan mempunyai fungsi diantaranya adalah untuk mempertahankan mutu produk pangan agar tetap bersih dan higienis, sehingga aman dikonsumsi oleh konsumen. Fungsi lainnya sehubungan dengan sifat produk adalah untuk menunda proses kerusakan dalam jangka waktu yang diinginkan (meningkatkan umur bahan pangan), mengingat semua bahan pangan bersifat mudah rusak. Pengemasan merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kerusakan pangan atau penyimpanan produk pangan terutama selama proses produksi dan penyimpanan. Selama perlakuan tersebut, terjadi perubahan kondisi lingkungan (RH, suhu, kadar air, dan pH) yang berpengaruh pada produk pangan [3].

Bahan pembuat edible film dibagi menjadi tiga kategori, yaitu: hidrokoloid, lipid, dan kombinasi keduanya atau komposit. Edible film yang dibuat dalam penelitian ini merupakan edible film komposit dari karagenan (hidrokoloid), tapioka (karbohidrat), dan beeswax / lilin lebah (lipid). Keragenan merupakan getah yang bersumber dari rumput laut merah (rhodophyceae) berupa polisakarida sulfat yang memiliki sifat-sifat fungsional lainnya dalam produk pangan, yaitu sebagai pencegah kristalisasi, pengemulsi, pembentuk gel, pengental, koIoid pelindung, dan pengumpal. Beberapa marga rumput laut merah  penghasil  karagenan  antara  lain Chondrus, Eucheuma, dan Gigarlina, namun pada umumnya untuk daerah tropis banyak dihasilkan oleh marga Eucheuma[4]. Pembuatan karagenan menjadi edible film merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pemanfaatan dan nilai guna dari karagenan. Selain itu, pemanfaatan rumput laut menjadi karagenan sebagai salah satu bahan dasar pembuatan edible film dapat memicu peningkatan pendirian industri pangan di Indonesia dalam memproduksi karagenan. Untuk membuat edible film lebih elastis atau lentur, perlu dilakukan penambahan bahan yaitu plasticizer. Dalam penelitian ini, plasticizer yang digunakan adalah gliserol. Sedangkan karbohidrat itu sendiri, sebagai bahan pengisi.

Baca juga:

Edible film komposit yang diaplikasikan sebagai kemasan bumbu mie instan ini, dilakukan percobaaan dengan tahapan sebagai berikut: edible film dibuat dalam bentuk kantong dengan cara di-seal, kemudian bumbu mie instant rebus dimasukkan dan dikemas dengan mie instant sebagai kemasan sekunder, selanjutnya disimpan, dan dilakukan pengamatan. Tahapan teknik formulasi pembuatan edible film komposit ini adalah sebagai berikut: membuat larutan pembentuk film (karagenan dan tepung tapioka), mencampurkan larutan film dengan gliserol dan beeswax (lilin lebah), kemudian dilakukan pemanasan dan pengadukan, dilanjutkan dengan penghilangan gas terlarut, dilakukan penyaringan, pencetakan, pengeringan, pendinginan, pelepasan film dari cetakan, dan terakhir adalah penyimpanan. Dalam penelitian ini, dilakukan penambahan konsentrasi karagenan, sehingga dapat meningkatkan ketebalan, kuat tarik, dan persen perpanjangan edible film komposit. Kombinasi perlakuan karagenan (hidrokoloid) 2%; tapioka (karbohidrat) 0,7%; beeswax (lipid) 0,3% menghasilkan edible film yang mempunyai nilai laju transmisi uap air terendah 752,6 g/m2/hari yang diaplikasikan sebagai pengemas bumbu mie instant rebus (kemampuan menyerap air rendah). Namun, karagenan memiliki masa simpan sekitar 14 hari. Panelis masih menerima edible film komposit dari karagenan hasil ekstraksi penelitian dan karagenan komersial[2].

Referensi:

[1] Adiwijaya, Michael, Peran Pemerintah,Industri Ritel, dan Masyarakat dalam Membatasi Penggunaan Kantong Plastik Sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Lingkungan, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra, 2009.

[2] Amin Haidir kajian pembuatan edible film komposit dari karagenan sebagai pengemas bumbu mie instant rebus uruson Teknologi Hasil Pangan Fakulltas Pertanian Universitas Sulawesi Tenggara. Kendari.

[3] Syarief, R. dan Y. Halid, 1993. Teknologi Penyimpanan Pangan. Penerbit Arcan. Bandung.

[4] Winarno, F.G. dan D. Fardiaz 1990. Pengantar Teknologi Pangan. PT. Gramedia. Jakarta.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *