Akankah Pulau Bangka Krisis Air Bersih?

Setiap tahun diperingatilah hari air sedunia pada 22 maret, hal ini dilakukan untuk saling mengingatkan ancaman air dimasa mendatang. Memperingati yang dipahami sebagai peringatan akan bahayanya keterbatasan air dimasa depan. Peringatan yang tentu harus dipahami dan ditanamkan untuk menjamin dan menjaga air hingga masa mendatang. Namun, kita tentu berpikir keras karena realitanya peringatan tersebut tidaklah menjadikan perilaku berubah. Perilaku yang tidak mengancam ketersediaan dimasa mendatang sama sekali tidak dipraktikan. Justru, yang nampak adalah prilaku berlomba-lomba mencemari air. Hal ini menegaskan bahwa selama ini peringatan yang dibalut dalam kalimat “memperingati” hanyalah sebuah seremonial dan gaya-gayaan untuk unjuk eksistensi sehari.

Kita, seolah lupa kata dasar dari memperingati tersebut, dan larut dalam budaya seremonial untuk dianggap peduli. Kita sudah harus mulai bersama-sama mengusahakan keberadaan air, baik itu air tanah dan air permukaan. Air dalam praktiknya kita butuhkan dalam segala aktivitas kehidupan kita. Rasa-rasanya tidak ada kegiatan yang tidak membutuhkan air, namun hendaknya lah kita lebih bijak dalam menggunakan air. Jika 10 tahun lalu kita bisa menggunakan air dengan mudahnya dikarenakan akses sumber air yang masih mudah didapatkan. Namun, kini kiranya kita tidaklah lagi bisa mendapatkan air dengan semudah itu.

Mungkin, sudah sangat sedikit rumah tangga yang mengkonsumsi air yang dimasak dari sumur galian dirumah. Karena, pada kenyataannya saat ini kita sudah diperbudak dalam praktik privatisasi air yang dilakukan perusahaan air minum. Nampaknya, hal ini akan semakin menjadi-jadi dimasa yang akan mendatang. Saya memprediksikan hal tersebut akan semakin menjadi-jadi dengan alasan akan semakin susahnya akses air bersih dimasa yang akan datang. Akses air bersih akan sangat sulit dimasa mendatang salah satunya dikarenakan menyusutnya volume air tanah.

Volume air tanah di Pulau Bangka sangat rawan mengalami penurunan dikarenakan rusaknya fungsi serapan air. Fungsi serapan air yang dijalankan perakaran tanaman akan sangat sulit diharapkan karena mulai sedikitnya zona perakaran didalam tanah. Zona perakaran yang hanya tinggal 30% dari luasan permukaan daratan. Sangat sulit rasanya mengharapkan air permukaan yang kotor dapat difilter dan diserap perakaran untuk menjadi air tanah. Struktur bentang daratan yang hampir 60% didominasi hamparan tanah gundul baik itu liat dan pasir menjadikan air sangat sulit ditanah sehingga air tanah akan langsung mengalir ke laut.

Selain itu, air permukaan dalam bentuk sungaipun sangat sulit diharapkan dimasa mendatang. Hampir 80% sungai di Pulau Bangka telah mengalami penyempitan dan pendangkalan karena dampak negatif dari aktivitas penambangan. Kualitas air permukaan inipun sangatlah tidak layak lagi untuk dijadikan sumber air minum, mandi dan mencuci. Hal ini dikarenakan umumnya sungai tersebut menyimpan endapan lumpur sehingga sangat keruh. Selain itu, sungai yang tidak diendapi lumpur sisa penambangan umumnya mengandung logam berat pencucian fraksi tanah selama proses penambangan. Logam berat seperti Pb diketahui paling dominan mencemari air di Bangka, sehingga rasa-rasanya kita tidak akan bisa berharap dengan air seperti ini.

Lantas, apakah memang kita akan mengalami krisis air bersih dimasa mendatang. Melihat kondisi yang saya paparkan diatas rasanya sulit untuk mengatakan tidak. Namun, kita sebagai manusia barang tentu dapat menyelesaikan setiap kemungkinan buruk yang dihadapi. Namun, hal itu semua membutuhkan sinergisitas bersama antara pemangku kepentingan, pengambil manfaat alam, dan kita khalayak ramai akar rumput. Kita sudah harus mulai membijakkan diri dalam prilaku bukan hanya sekedar slogan dan semangat semalam mimpi.

Pengelolaan wilayah Hulu
Hulu, menjadi daerah tangkapan air paling awal untuk kemudian air tersebut disimpan guna menunjang keberlangsungan makhluk hidup. Terganggunya wilayah resapan dan simpan air tersebut akan langsung mempengaruhi debit air permukaan dan air tanah. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, pembangunan dan laju transformasi sektor pekerjaan di Pulau Bangka telah menyebabkan penurunan kualitas lingkungan khususnya kualitas air permukaan dan air tanah. Hal ini utamanya ditemukan didaerah yang marak aktivitas pertambangan serta tinggal dikawasan hilir sungai. Penurunan kualitas air permukaan salah satunya dapat dilihat dari kualitas air sungai. Sebagai contoh dalam laporan penelitian Muslih (2014) pada sungai Menduk menunjukkan bahwa terjadi penyusutan vegetasi disekitar sungai karena aktivitas penambangan. Hal ini pada akhirnya menyebabkan sedimentasi pada sungai meningkat, derajat kecerahan air menurun dan sungai menjadi dangkal.

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar