Artificial dan Human Intellegence – Dilema Seni dan Robot

Sebagai masyarakat yang telah terakses dengan dunia global, kita tentunya telah sering mendengar tentang laporan perkembangan robot yang begitu cepat. Perkembangan yang cukup sigifikan sehingga robot-robot dikembangkan sedimikian rupa menyerupai aktifitas dan kegiatan manusia. Kegiatan ini diteliti, didanai dan diproduksi sediemikian massifnya hingga mencapai perkembangan hingga saat ini (kalimat kurang pas, “perkembangan” kan bisa cepat, bisa lambat. Jadi bukan hal yang luar biasa). Artificial intellegence, adalah bagian ilmu yang terlibat langsung terhadap metode pengembangan robot tersebut.

      Gambar 1. Contoh Penggunaan robot untuk kepentingan operasi1

Dalam dunia Kedokteran, arttificial intellegence (AI) juga berkembang pesat (beri penjelasan lebih dulu apa itu AI sebelum masuk ke aplikasi kedokteran). Banyak alat-alat kedokteran yang mulai dikembangkan mengikuti tren baru AI ini. baru-baru ini telah dipublikasikan dalam Journal Neusurgical Focus sebuah alat yang dapat melakukan operasi kepala (pembukaan tulang tengkorak kepala) dengan hitungan 50 kali lebih cepat jika dilakukan oleh dokter bedah saraf secara manual. Robot ini adalah salah satu diantara banyaknya artifial intellegence yang berkembang di dunia Kedokteran saat ini.2

Artificial intellegence adalah klon baru bagi human intellegence. Kecerdasan yang diinginkan dimasukkan dan diprogram khusus sehingga alat yang digunakan hanya akan mengikuri perintah sesuai dengan perintah yang telah “disuntikkan”. Dengan demikian, perintah yang dijalankan oleh robot tadi bersifat rigid tapi menjadi terukur dalam pencapaiannya. beri penjelasan yang lebih mudah. Misalkan kecerdasan buatan atau alat yang dibuat bisa berpikir seperti manusia atau lainnya yang sesuai.

Lalu, bagaimana nasib masa depan human intellegence (gunakan istilah yang lebih familiar) dalam dunia kedokteran selanjutnya? Apakah skill robot akan diadu secara terbuka dan bebas dengan skill dokter bedah (seperti dalam contoh kasus diatas  robot bedah otak diatas atau sesuai dengan yang dimaksud)? Apakah human intellegence  (gunakan istilah yang lebih familiar pada akhirnya akan terkikis oleh semakin marak dan berkembangnya penelitian tentang artificial intellegence?

Dunia Kedokteran adalah dunia yang terlibat dalam dua friksi pengetahuan. Kedokteran adalah perpaduan unik antara sains dan seni (sumber). Sains dalam kedokteran adalah doktrin utama. Seluruh alur penegakkan diagnosis hingga terapi mengikuti prinsip Evidance Based Medicine (EBM) (adakah istilah bahasa Indonesianya?). Seluruh rangkaiannya wajib memiliki bukti ilmiah untuk diterapkan kepada pasien. Contoh, Jika ingin memberikan terapi dengan obat “A” misalnya, maka seorang dokter harus dengan yakin mengetahui bahwa pemberian obat ini telah memilki evidance (bukti) yang jelas (baik telah terpublikasi dalam bentuk Guidline atau jurnal-jurnal terbaru) bukti yang jelas bahwa sakitnya A atau bukti yang jelas bahwa obat untuk sakit A?.

Namun, hal menarik lainnya adalah bahwa kedokteran juga adalah tentang seni. Doktrin kedua, “Medicine is Art”. Ilmu kesehatan (kedokteran) khususnya bukan juga ilmu matematika bahwa satu tambah satu adalah dua. Ilmu kedokteran memiliki banyak sisi humanis. Dalam melakukan operasi contohnya, “art” bagi seorang dokter bedah adalah kemampuan tambahan/insting sehingga dokter bedah ini dapat melakukan operasi yang sesuai standar tapi dengan sentuhan-sentuhan seni (beri contoh).

Karena kedokteran juga adalah seni, maka muncullah dilema dan pertentangan tentang perkembangan artificial intellegence. Siapakah yang harus mengalah dan siapakah yang harus tersisih. Itu adalah pertanyaan besar yang harus diselesaikan. Faktanya, alat yang berkembang sangat membantu dalam memberikan terapi maksimal kepada pasien. Alat-alat ini semakin memberikan keuntungan dengan minimal invasif dalam penggunaannya sehingga pasien juga diuntungkan. Akan tetapi, sebagaimana manusia, alat-alat yang berkembang juga bukan tanpa kesalahan. Ketidakmampuan mendasar yang dapat dilakukan oleh robot-robot perkembangan artifial intellegence ini adalah bahwa alat ini tidak mampu untuk menerapkan doktrin kedua yang saya sebutkan diatas, bahwa mengobati pasien juga adalah bagian dari seni. Sedangkan robot adalah benda mati, terprogram khusus untuk tugas dan ukuran tertentu.

Oleh karena itu, tentu membutuhkan kerjasama dan korelasi antara artificial intellegence dan dokter dengan baik. Perkembangan teknologi alat-alat kedokteran harus disertai dengan perkembangan pengetahuan dan ilmu dari dokter dan paramedis lainnya. Sehingga, keduanya dapat berkolerasi, bukan saling meniadakan. Kolaborasi yang baik antara Human intellegence dan Artifial Intellegence akan melahirnya produktifitas dan tingkat efisisensi yang tinggi sehingga pada akhirnya masyarakatlah yang akan meraskan manfaatnya.

 

Sumber :

  1. https://www.google.co.id/search?biw=1024&bih=504&tbm=isch&sa=1&q=robot+operasi&oq=robot+operasi&gs_l=psy-ab.3..0i24k1.13398.13398.0.16629.1.1.0.0.0.0.191.191.0j1.1.0….0…1.1.64.psy-ab..0.1.188.DZ6tLOgObOQ#imgrc=fW20HzbmBt74SM(gunakan cara sitasi atau penulisan daftar pustaka yang sesuai lihat contohnya di)
  2. Kompas, 22 mei 2017  http://sains.kompas.com/read/2017/05/22/191103123/robot.canggih.ini.bor.kepala.manusia.dan.bedah.otak.dalam.2.5.menit  (gunakan cara sitasi atau penulisan daftar pustaka yang sesuai)

 

 

 

 

 

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar