Alergi dengan Susu Sapi? Coba Ganti dengan Susu Kambing

Alergi pada pangan merupakan sindrom klinis yang dihasilkan dari sensitivitas individu terhadap kandungan protein pada pangan. Biasanya, terjadi pada masa kanak – kanak dan terjadi pada tahun pertama kehidupan, sebagai contoh bayi yang ketika diberi susu akan mengalami kemerahan atau gatal-gatal, sehingga dimungkinkan bayi tersebut terkena alergi.

Alergi yang muncul setelah mengonsumsi susu sapi memang merupakan hal yang jarang. Alergi tersebut terjadi akibat sistem kekebalan tubuh bayi yang bereaksi dengan protein yang ada di dalam susu sapi. Sebagian besar bayi yang mengalami alergi susu sapi dapat mengatasi hal tersebut setelah mereka melewati usia 4 tahun, dan hanya sedikit yang alerginya bertahan hingga dewasa.

Susu kambing telah direkomendasikan sebagai pengganti pangan untuk pasien alergi susu sapi. Pada susu kambing dan sapi ada perbedaan dalam proporsi αs-1, αs-2, ß- dan κ-kasein. Susu sapi memiliki αs-1  kasein yang dominan, sedangan susu kambing memiliki αs-2 kasein yang dominan [1].

Susu kambing juga mengandung protein kasein lebih rendah, sehingga lebih mudah dicerna daripada susu sapi. Susu kambing juga memiliki poliamin, dibanding susu dari mamalia lain. Poliamin penting untuk pertumbuhan optimal dan fungsi sel saluran cerna [2].

Lemak pada susu kambing lebih cepat dicerna daripada lemak susu sapi, karena lipase menyerang ikatan ester asam lemak rantai pendek atau menengah lebih mudah daripada ranti yang panjang. Selain itu proporsi asam lemak seperti asam kaproat, kaprilat, dan kaprat jumlahnya lebih banyak dibanding susu sapi, serta polyunsaturated fatty acid (PUFA) yang lebih tinggi.

Rata – rata komposisi asam lemak susu sapi dan kambing

Pada dasarnya komposisi substansial keduanya tinggi pada kandungan protein. Namun, rerata susu kambing menunjukkan asam amino essensial lebih tinggi daripada susu sapi, yaitu lisin, isoleusin, sistin, treonin, tirosin, dan valin. Flavor susu kambung juga lebih kuat dibadingkan susu sapi.

Rata – rata komposisi asam amino susu sapi dan kambing

Adapun mekanisme hipoalergenik (meminimalisir alergi) pada susu kambing melalui peran sel T regulator, susu kambing (whey) dapat mengurangi reaksi terjadinya inflamasi melalui pengaturan respon Th1 dan reaksi alergi yang dimediasi oleh pengaturan respon Th2 [3].  Namun, sifat anti alergi pada susu kambing tidak menutup kemungkinan tidak akan terjadi alergi, karena hal ini dipengaruhi oleh kepekaan faktor individu terhadap satu jenis atau lebih protein susu yang akan memberikan toleransi terhadap susu kambing.

Referensi

  1. As a Potentially Functional Food: Goats’ Milk and Products. (http://pubs.sciepub.com/jfnr/1/4/6/), diakses 6 Juni 2018
  2. A review on health promoting aspects of goat milk.(http://www.thepharmajournal.com/archives/2017/vol6issue12/PartA/6-11-95-259.pdf), diakses 6 Juni 2018.

  3. The Effect of Goat Milk Supplementation on Th1 and Th2 Responses of Peyer’s patch lymphocyte culture in dinitrochlorobenzene sensitized rat. (https://repository.ugm.ac.id/136358/), diakses 6 Juni 2018

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Muhammad Isa Dwijatmoko

Muhammad Isa Dwijatmoko

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pangan di Institut Pertanian Bogor. Penulis dapat dihubungi di muhammadisa8@gmail.com .

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar