Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Metode Ekstraksi Uranium Dari Air Laut

Sejauh ini, energi nuklir belum dianggap sebagai “energi terbarukan”. Anggapannya, ketersediaan bahan bakar nuklir, yakni uranium dan thorium, terbatas dan bisa habis. Sementara “energi terbarukan” seperti energi surya dan bayu tidak. Walau realitanya, semua moda energi itu terbatas dan suatu saat pasti habis (energi surya dan bayu akan habis ketika matahari menelan bumi di akhir usianya).

Namun, jika dilihat dari perspektif lain, energi nuklir bisa dianggap sebagai “terbarukan”. Caranya adalah dengan mengekstrak uranium dari air laut.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa air laut mengandung uranium. Kelarutan uranium dalam air laut memang kecil, rerata hanya 3 ppb (part per billion), atau sekitar 3 mikrogram per liter air. Namun, mengingat volume air laut sangat besar, sekitar 1,37 milyar km3, maka kandungan uranium di dalamnya juga luar biasa besar, mencapai 4,5 milyar ton [1].

Sebagai perspektif, satu unit PLTN tipe LWR berdaya 1000 MWe membutuhkan 200 ton uranium tiap tahunnya [2], sementara PLTN maju seperti MSR dan SCFR berdaya sama membutuhkan 800-1000 kg uranium tiap tahun [3]. Konsumsi listrik dunia tahun 2016 mencapai sekitar 22 ribu TWh [4]. Jika 10% saja dari potensi uranium air laut bisa diekstrak, menggunakan PLTN maju, maka 10% potensi itu cukup untuk menerangi seluruh dunia selama 161 ribu tahun ke depan!

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju, Bagian 1

Konsentrasi uranium dalam air laut dikendalikan oleh reaksi kimia ajeg antara air dan bebatuan yang [Mohon maaf artikel terpotong]

Artikel dapat dibaca di Majalah Warstek Edisi #3 > Download Majalah Warstek (KLIK)

Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
R. Andika Putra Dwijayanto

R. Andika Putra Dwijayanto

Alumni S1 Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. Peneliti Fisika Reaktor dan Teknologi Keselamatan Reaktor.

2 tanggapan untuk “Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Metode Ekstraksi Uranium Dari Air Laut

  • 13 Juli 2018 pada 08:56
    Permalink

    Semisal PLTN terealisasikan, apakah TDL akan turun? Mengingat hanya membutuhkan sedikit Uranium untuk mencapai energi setara batu bara tang banyak.
    Terima Kasih

    Penilaian Komentar
    Balas
    • R. Andika Putra Dwijayanto
      24 Agustus 2018 pada 10:31
      Permalink

      Kalau cuma satu-dua PLTN, ya jangan harap. Kecuali PLTN menjadi bauran dominan, lebih dari 50%. Baru bisa turun.

      Penilaian Komentar
      Balas

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar