Fakta Baru, Polusi Udara Berkaitan Erat Dengan Peningkatan Jumlah Penderita Diabetes

Polusi udara merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang penting di zaman saat ini. Semakin banyaknya kendaraan dan industri juga meningkatkan polusi udara yang berimbas pada semakin buruknya kualitas udara. Menurut Wold Health Organization (WHO), 9 dari 10 orang di dunia menghirup udara dengan tingkat pencemaran yang tinggi. Menghirup udara yang tercemar sangat membahayakan kesehatan. WHO menyatakan bahwa paling tidak 7 juta orang meninggal setiap tahunya akibat terpapar partikel polutan di udara yang memicu beberapa penyakit seperti; stroke, penyakit jantung, kanker paru-paru , infeksi saluran pernafasan termasuk Pneumonia (2) . Selain penyakit-penyakit tersebut, ilmuwan menemukan fakta terbaru yang mencengangkan, ternyata polusi udara juga memilki kaitan erat terhadap bertambahnya jumlah penderita diabetes tipe 2.

Diabetes  tipe 2 merupakan penyakit kronis yang terjadi apabila produksi hormon insulin menurun yang berakibat pada kenaikan gula dalam darah. Diabetes dapat diobati namun komplikasinya dapat menyebabkan gagal ginjal, penyakit jantung dan stroke (3). Menurut Rogers melalui interestingengineering.com, laporan terbaru menunjukkan 3,2 juta kasus Diabetes di dunia dapat dikaitkan dengan isu global polusi udara. Sebuah studi terbaru dari Washington University School of Medicine dan Veteran Affairs (VA) St. Louise Health Care System dan di publikasi dalam The Lancet Planetary Health menunjukkan ada hubungan kuat antara kenaikan polusi udara dan kenaikan resiko penderita diabetes meskipun tingkat pencemaran masih di kategorikan aman oleh the U.S Enviromental Protection Agency (EPA) dan WHO. PM (Particulate Matter), juga dikenal sebagai polusi partikel, adalah campuran kompleks partikel yang diterbangkan oleh udara dan tetesan cairan yang terdiri dari asam (seperti nitrat dan sulfat), amonium, air, atau unsur-unsur karbon, bahan kimia organik, logam, dan material tanah (kerak) (5)

Penelitian ini melibatkan 1.729.108 partisipan yang berasal dari veteran amerika tanpa riwayat penyakit diabetes dan Fokus pada partikel polutan yang berukuran 0,1-2,5 nanometer yang dikenal dengan PM2.5. Menurut theatlantic.com, PM2.5 dilepaskan oleh alat alat industri dan pembakaran bahan bakar, namun di amerika sumber terbesar PM2.5 adalah Mobil. Para peneliti menghubungkan data para partisipan dengan data udara dari EPA dan NASA, kemudian, mereka menyaring semua penelitian yang berkaitan dengan diabetes dan polusi udara luar dan merancang model untuk mengevaluasi risiko diabetes di berbagai tingkat polusi (7).Batas aman Kandungan PM2.5 menurut EPA adalah 12 microgram per meter kubik udara 12 microgram per meter kubik udara untuk tahunan, serta 65 mikrogram per meter kubik untuk harian (8) dan menurut WHO 10 Microgram per meter kubik udara untuk tahunan serta 25 microgram per kubik udara  untuk harian(9), meskipun menggunakan model matematika kenaikan resiko diabetes meningkat saat kandungang PM2.5 2,4 microgram per meter kubik udara (10).

Menurut guardian.ng Berdasarkan data yang didapat, partisipan yang terpapar PM2.5 dengan dosis antara 5 sampai 10 micrograms per kubik udara menaikan resiko terkena diabetes sekitar 21 %, ketika dosis paparan PM2.5 naik ke 11,9 sampai 13,6 microgram per meter kubik udara resiko naik menjadi 24% , meskipun hanya terpaut 3% saja, namun angka ini mewakili peningkatan dari 5000 hingga 6000 kasus baru diabetes per 100.000 orang per tahunya. Ilmuwan berpendapat bahwa kenaikan jumlah penderita diabetes akibat polusi berkaitan dengan terhirupnya PM2.5.

PM2.5 sangat berbahaya, alasan utamanya adalah ukuran yang sangat kecil dan mengandung logam beracun. Ukurannya memungkinkan untuk menembus paru-paru dan memasuki aliran darah. Di sana, ia bisa beredar ke berbagai organ dan menyebabkan peradangan. Peradangan meningkatkan resistensi insulin. Akhirnya, resistensi insulin ini dapat menjadi begitu parah sehingga pankreas menjadi tidak mampu memompa cukup insulin untuk mengimbanginya dan berimbas pada penyakit diabetes (6).

Menurut Brauer, M. et al. 2016 dalam indexmundi.com , Indonesia masuk dalam peringkat 136 dengan kandungan PM2.5 tahunan 15 microgram per meter kubik udara. Angka tersebut melampaui batas aman kandungan PM2.5 yang ditetapkan WHO yang  sebesar 10 Microgram per meter kubik udara per tahunya. Selain itu pemantuan udara juga pernah dilakukan oleh greenpeace  pada tahun 2017 di 21  kota di Jabodetabek seperti Permata Hijau, Antasari, Warung Buncit, Kebon Jeruk, Kedoya, Utan Kayu, Cilandak, H.R. Rasuna Said, Kebagusan, Cibubur and Setiabudi, Gandul, Kukusan,Citayam,Cikunir, Jatibening and Tambun,Jonggol, Kedung Halang, Parung, Ciledug,dan  Tangerang.Bedasarkan hasil pemantauan didapat bahwa, kualitas udara terburuk adalah Cibubur dengan kandungan PM2.5 sebesar 106 Microgam/m³, diikuti oleh Warung Buncit 97 Mikrogram/m³ and Gandul 84 Microgram/m³, kualitas Udara  Terbaik berada di Jonggol dengan kandungan PM2.5    47 Microgram/m³ (12 ).  Untuk mengetahui kualitas udara di Indonesia secara real time dapat dilakukan dengan mengunjungi situs waqi.info/.

Untuk lebih lengkapnya dapat di baca di arikel yang berjudul The 2016 global and national burden of diabetes mellitus attributable to PM2.5 air pollution.

Referensi:

  1. World Health Organization (WHO). 2018.Air Pollution. http://www.who.int/news-room/air-pollution. Diakses 3 agustus 2018
  2. World Health Organization (WHO). 2018. 9 out of 10 people worldwide breathe polluted air, but more countries are taking action.http://www.who.int/news-room/detail/02-05-2018-9-out-of-10-people-worldwide-breathe-polluted-air-but-more-countries-are-taking-action. Diakses 3 Agustus 2018
  3. Townley,C. 2018. Strong link found between air pollution and diabetes. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322358.php. Diakses pada 3 Agustus 2018
  4. Roger,S. 2018. New Study Links Air Pollution to Global Diabetes.https://interestingengineering.com/new-study-links-air-pollution-to-global-diabetes. Diakses pada 3 agustus 2018
  5. United States Environmental Proectin Agency (EPA). 2017. What is PM?.https://www3.epa.gov/region1/airquality/pm-what-is.html. Diakses pada 3 Agustus 2018
  6. Khazan,O. 2018. A Frightening New Reason to Worry About Air Pollution.https://www.theatlantic.com/health/archive/2018/07/a-frightening-new-reason-to-worry-about-air-pollution/564428/. Diakses pada 3 Agustus 2018
  7. The Guardian. 2018. How air pollution causes diabetes globally.https://guardian.ng/features/how-air-pollution-causes-diabetes-globally/. Diakses pada 3 Agustus 2018
  8. United States Environmental Proectin Agency (EPA). 2017. What are the Air Quality Standards for PM?.https://www3.epa.gov/region1/airquality/pm-aq-standards.html. diakses pada 3 Agustus 2018
  9. World Health Organization (WHO). WHO Air quality guidelines for particulate matter, ozone, nitrogen dioxide and sulfur dioxide Global update 2005 Summary of risk assessment. Geneva: WHO Press http://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/69477/WHO_SDE_PHE_OEH_06.02_eng.pdf;jsessionid=63AC775B0D3F6C2F50F5FB0956C452B4?sequence=1
  10. Scienedaily. 2018. Air pollution contributes significantly to diabetes globally Even low pollution levels can pose health risk.https://www.sciencedaily.com/releases/2018/06/180630153740.htm. Diakses pada 3 agustus 2018
  11. Indeks Mundhi. Tanpa tahun. PM2.5 air pollution, mean annual exposure (micrograms per cubic meter) – Country Ranking. https://www.indexmundi.com/facts/indicators/EN.ATM.PM25.MC.M3/rankings. Diakses pada 5 agustus 2018
  12. Jakarta Globe. 2017. Air Pollution Levels in Jakarta Far Exceed WHO Standards: Greenpeace. http://jakartaglobe.id/news/air-pollution-levels-in-jakarta-far-exceed-who-standards-greenpeace/. Diakses pada 5 Agustus 2018

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Handoko

Handoko

tertarik terhadap sains, teknologi dan lingkungan

Satu tanggapan untuk “Fakta Baru, Polusi Udara Berkaitan Erat Dengan Peningkatan Jumlah Penderita Diabetes

  • 26 Agustus 2018 pada 04:33
    Permalink

    So for the competing measure that CDOT won”t back, what will it take in order to get that on the Colorado ballot?

    Balas

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar