Karat Besi Ternyata Dapat Diaplikasikan dalam Teknologi Anti Radar

Saya tidak dan belum pernah meneliti tentang kegunaan karat selain kenyataan bahwa karat adalah sampah. Sesuatu yang tidak berguna, cenderung merugikan, dan harapannya kalau punya perkakas dari besi, karatnya akan tidak terlalu banyak-banyak amat.

Semenjak kuliah di Teknik Kimia, yang mana didalamnya juga mempelajari tentang karat atau bahasa ilmiahnya adalah korosi, selalu yang dibahas itu adalah cara pencegahan korosi. Korosi adalah fenomena yang membayang-bayangi semua jenis peralatan yang terbuat dari besi. Korosi adalah niscaya. Tidak bisa tidak. Tidak mungkin dihentikan, karena yang mungkin hanya memperlambat lajunya.

Upaya-upaya pencegahannya banyak seperti dengan anoda-katoda, anoda korban, pengecatan (yang sederhana banget) dan lain-lainnya. Hal itu dimaksudkan agar efek dari korosi tidak terlalu membuat masalah. Saya ingat, di perkuliahan ada pula rumus untuk menghitung umur besi sebelum karat benar-benar membuatnya menjadi tak berguna.

karat-besi
Proses korosi. gambar diambil dari The Central Science, 2000

Saya tidak pernah tahu juga bahwa ada teknologi yang memanfaatkan pasir besi sebagai komponen utamanya. Hingga pada subuh hari itu, selepas sholat berjamaah, dihadapan kengkawan yang sudah kehabisan topik obrolan dan bingung mau ngapain, berbicaralah mas Faishol, mahasiswa tingkat akhir dari jurusan Fisika, FMIPA, ITS. Didapuk untuk menjadi pembicara dadakan tentang subjek penelitiannya yang membuatnya beberapa hari ke depan diundang untuk mempresentasikan kertas kerjanya di Jepang.

Riset beliau bersama timnya berangkat dari ide sederhana diatas ; Korosi itu pasti terjadi. sementara besi yang sudah berkarat itu hanya akan menjadi rongsokan saja. Tak berguna. Nah, kira-kira adakah kegunaan atau bisakah rongsokan tersebut atau produk dari karat besi itu dimanfaatkan? Dan ternyata ada!

***

Sudah bertahun-tahun yang lalu teknologi di bidang aeronautika dan antariksa berkembang pesat. Entah itu untuk transportasi, kemiliteran, teknologi atau pengembangan dari riset-riset sebelumnya. Salahsatu teknologi itu adalah anti radar yang dipasang di pesawat (pesawat siluman) atau sesuatu apapun yang keberadaannya perlu diketahui atau dilacak. Pesawat menggunakan radar yang menyampaikan pesan koordinat dimana pesawat itu berada dengan stasiun pemancar (dan penerima) di bandara. Untuk pesawat komersil, radar ini jelas sangat dibutuhkan. Berapa banyak pesawat yang jatuh dan kecelakaan bermula dari hilangnya kontak antara pesawat tersebut dengan awak kru di bandara. Nah, tapi ada juga beberapa hal yang membuat kita tidak ingin dilacak atau diketahui posisinya. Teknologi untuk membuat radar tidak bisa melacak keberadaan pesawat itulah yang disebut anti radar. Dipasang di pesawat yang bersangkutan dan bekerja pada range frekuensi yang tidak bisa dilacak oleh radar di bandara. Simpelnya seperti itu. Cara kerjanya yang lebih detail, mungkin bisa baca-baca di jurnal terkait.

pesawawat-siluman
Ilustrasi pesawat siluman.

Bidang apa yang perlu teknologi ini? Yap, militer. Dalam perang, posisi menentukan prestasi (kalah atau menang). Pernah dengar cerita kan mengapa Hitler dengan nazinya bisa kalah di perang dunia ke-2? Salah satunya karena komunikasi mereka dan posisi setiap kapal perangnya bisa dengan mudah diketahui oleh musuh. Bagi yang pernah menonton film The Imitation Game, yang menceritakan kisah hidup Alan Turing, sang jenius pembuat mesin enigma alias mesin pemecah sandi, akan ketahuan bagaimana vitalnya untuk menyembunyikan keberadaan pesawat atau kapal-kapal perang.

Anti radar ini dibuat dari elemen yang disebut pasir besi, rumus kimianya adalah Fe2O3. disinilah letak kerennya ide mas Faishol diatas itu. Mereka sadar bahwa pasir besi ini mempunyai rumus kimia yang sama dengan karat besi. Yang itu artinya karat besi bisa dimanfaatkan sebagai bahan substitusi untuk membuat anti radar. Bahan yang murah dan cenderung terabaikan kini bisa jadi bermanfaat. Tahu kan bagaimana tambang pasir besi di Lumajang yang sempat heboh kemarin-kemarin itu yang menyebabkan tewasnya aktivis Salim Kancil? Penambangan illegal itu sangat menguntungkan pihak penambang, tetapi sangat merugikan persawahan dan tanah-tanah warga di sekitarnya.

Sebenarnya perkembangan teknologi anti radar ini sudah jauh berkembang. Di Rusia contohnya, mereka sudah bisa membuat teknologi yang bisa mendeteksi pesawat (atau apapun itu) yang menggunakan anti radar. Teknologi yang mereka buat bekerja pada range frekuensi yang lebih besar, panjang dan mencakup range frekuensi pada titik rentang dimana anti radar bekerja. Riset dari tim mas Faishol berfokus pada kegunaan atau pemanfaatan karat besi untuk membuat anti radar. Ini suatu yang menjadi terobosan baru karena belum pernah ada sebelumnya. Teknik konvensional dalam pembuatan anti radar kebanyakan menggunakan pasir besi.

Saya bertanya kepada beliau, Apakah risetnya itu bisa diaplikasikan dan dibuat? Kata beliau, untuk saat ini belum bisa diaplikasikan. Untuk sebentar saya termenung dan berkerut dahi. Lho, kok tidak bisa di aplikasikan? Kata dia, Penelitian ini baru awal banget. Masih permukaan, belum bisa langsung diaplikasikan. Harus didalami dulu terkait kekuatan ketahanan dengan lingkungan dan korosi. Jadi belum bisa. Memang jauh dari sempurna dan perlu pengembangan lebih lanjut. Fokus dari risetnya sendiri adalah untuk mengetahui pada kedalaman range berapa karat besi bisa berguna untuk teknologi anti radar. Lebih dalam dan lebih lebar. Tetapi bila hal itu sudah mungkin dan terbukti. Aplikasinya terbatas hanya untuk militer saja, karena pesaat siluman (sebutan pesawat anti radar) memang untuk militer, karena kalau untuk teknologi di bidang pesawat terbang, ini kebalikan dari logika umum. Pesawat itu perlu di deteksi agar tidak hilang arah dan tak tau kemana arah jalan pulang dan tetap bisa berkomunikasi dengan pihak bandara.

Yang mengejutkan adalah bahwasannya inspirasi dari riset ini bermula dari apa yang diketemukan oleh mas Faishol ketika membaca salahsatu ayat al-Quran yang menceritakan tentang karunia atau anugerah yang diberikan kepada Nabi Daud, lebih kurang dalam al-Quran itu (saya lupa ayat yang disitir oleh beliau) menjelaskan tentang fungsi dari besi sebagai alat untuk melindungi diri di medan perang. Konteksnya saat itu bisa jadi besi dijadikan untuk perlengkapan perang semacam baju besi, tameng, pedang, dlsb. Tetapi lanjutan ayat itu yang membuat mas faishol merenunginya dalam-dalam, bahwa fungsi besi itu lebih luas lagi bagi orang-orang yang benar-benar memikirkannya. Mas faishol jadi kepikiran tentang karat besi yang merupakan produk dari besi itu sendiri yang tak teraplikasikan, apakah ada guna dan manfaatnya atau tidak? Dan memang ternyata ada. 

Referensi bacaan lanjut :

  1. http://artikel.dikti.go.id/index.php/PKM-P/article/viewFile/24/24. Diakses pada tanggal 1 Agustus 2018.
  2.  Alwi, Muhammad Faisol (2017). “Pemanfaatan Bahan Magnetik (Fe3o4) Berbahan Dasar Karat Besi Hasil Korosi Atmosferik Sebagai Radar Absorber Material”. Undergraduate thesis, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
  3. “Pembuatan Pelapis Penyerap Gelombang Mikro Berbasis M-Hexaferrite Dari Pasir Alam Pada Kabin Pesawat “
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar