X
    Kategori KesehatanSains Alam

Bahaya Asbes yang Jarang Diketahui Masyarakat

Gambar 1: Bentuk mineral asbes

Asbes (asbestos) adalah mineral (berbentuk seperti batu) yang terbentuk dari serat-serat kecil halus yang terjadi secara alamiah namun sangat fleksibel dan kuat. Asbes memiliki kekuatan yang luar biasa yaitu anti api dan takkan rusak oleh air. Asbes dirancang untuk bertahan sangat lama, mungkin selama usia seseorang. Asbes seringkali disebut sebagai mineral ajaib, karena memiliki beragam kegunaan yaitu sebagai materi untuk isolasi, tak mengalirkan listrik, dan digunakan sebagai agen penyaring. Sayangnya asbes juga menyebabkan masalah dan musibah, beberapa orang meninggal gara-gara asbes. Sesuai dengan definisi yang diberikan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA), ada enam jenis mineral yang dikatagorikan sebagai bahan asbes, yaitu: chrysotile, riebeckite, grunerite, actinolite, anthrophyllite, dan thremolite[1].

Asbestosis adalah salah satu jenis penyakit paru-paru (pneumokoniosis atau penumpukan debu di paru-paru) yang penyebabnya adalah debu asbes. Asbes merupakan campuran berbagai silikat, meskipun yang terpenting adalah magnesium silikat. Gejala dari asbestosis antara lain sesak napas, batuk, dan banyak mengeluarkan dahak[2]. Menurut Dr. Nicholas Ashford (Mantan Kepala Dinas Kesehatan Publik Amerika) dalam videonya di VICE Indonesia mengatakan bahwa Industri asbes berkembang  karena kurangnya perhatian akan HAM atau hak-hak sipil, yang pada dasarnya mengatur industri tersebut.

Gambar 2: Dr. Nicholas Ashford dalam VICE

Diperlukan penanganan besar-besaran untuk membersihkan rumah-rumah dan bahan bangunan dari paparan asbes. Karena asbes telah membunuh lebih dari 100.000 orang setiap tahun, dan kini asbes telah dilarang di 59 negara. Namun alih alih membiarkannya tetap terkubur, negara seperti Rusia sebagai salah satu produsen terbesar di Dunia menambang sekitar 1jt ton asbes setiap tahunnya dan menyediakan lebih dari separuh pasokan asbes dunia. India dan China merupakan negara yang mengimpor asbes Rusia dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan ketidakmampuan mereka untuk belajar dari pengalaman yang telah di alami negara lain mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh asbes.

Gambar 3: Penambangan Asbes menggunakan Dinamit

Asbes ditambang menggunakan dinamit sehingga sangat besar kemungkinan bahwa serat berbahaya asbes menjadi tersebar di udara. Di Rusia ada sebuah kota yang sangat bangga dengan asbes hingga menamai kota tersebut dengan nama Asbest. Meski banyaknya bukti-bukti ilmiah yang menyatakan bahwa paparan asbes bisa menyebabkan kanker karena asbes mampu mengubah nucleus sel sehingga sel tersebut menjadi sel kanker namun sangat banyak terlihat tanda-tanda kebanggaan kota Asbest terhadap asbes, hal tersebut ditandai dengan sebuah tugu yang dibuat dari sepotong besar asbes.

Gambar 4:  Tugu di Asbest, Rusia

Dulu asbes banyak digunakan dirumah-rumah dan bangunan-bangunan di seluruh dunia. Namun kini asbes dikenal sebagai zat karsinogen yang berbahaya, sebab bahaya kesehatan yang timbul akibat terpapar mineral beracun ini menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit yang mematikan, seperti kanker dan mesothelioma. Mesothelioma adalah kanker yang menyerang mesothelium, yaitu lapisan jaringan tipis yang menyelimuti hampir sebagian besar organ bagian dalam. Beberapa organ tubuh yang memiliki mesothelium, antara lain paru-paru (pleura), perut (abdomen), jantung (pericardial), dan testikel (tunica vaginalis). Di Indonesia sendiri, pengaturan mengenai asbes diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No: Per.03/Men/Tahun 1985 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pemakaian Asbes. Klik untuk download peraturan menteri tersebut (download).

Penanggulangan yang dilakukan untuk mengobati penyakit yang timbul karena asbes

Apakah bahaya dari asbes dapat ditangani dengan terapi? Sampai saat ini belum terdapat terapi untuk menghilangkan efek dari asbes pada alveoli. Terapi hanya berfokus pada pencegahan penyakit menjadi semakin memburuk dan mengurangi gejala. Pasien yang memiliki gangguan bernafas terkadang diberikan obat inhaler, oksigen tambahan untuk mengurangi sesak nafas, obat-obatan untuk mengurangi sekresi jalan nafas dan mengurangi nyeri, jika gejala sangat berat maka dapat dipertimbangkan untuk transplantasi paru[3].

Sumber :

  1. Thamrin, M. Thoyib dan Mukhlis Akhadi. (2004). Dampak Radiologis Pelepasan Serat Asbes. IPTEK Ilmiah Populer, Buletin Alara, Vol. 6 No. 02, Hal 67.
  2. Abidin, Feryy dkk. (2015). Hubungan Paparan Debu Asbes Terhadap Kapasitas Vital Paru pada Pekerja Pembuat Asbes di Area Finishing Line PT. X Jawa Tengah. Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol. 3 No. 01, Hal 365.
  3. Salawati, Liza. (2015). Penyakit Akibat Kerja oleh karena Pajanan Serat Asbes. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Vol. 15 No. 01, Hal 48.
Siti Faridah :