“7 Jurus Menaklukkan Exponential Shock”

Sejak hari minggu lalu saya menulis tentang Exponential Shock. Bahwa Dunia berubah dengan sangat cepat akhir-akhir ini, dan akan semakin bertambah cepat dalam beberapa tahun/dekade kedepan. Bahwa diprediksi oleh 2 orang genius futurists, Ray Kurzweil dan Peter Diamandis (Dua orang Pendiri Singularity University) sebentar lagi kita akan menyambut Era Singularity, dimana kapasitas processing computer diperkirakan akan menyamai otak manusia di tahun 2029, dan akan menyamai kapasitas penjumlahan otak sekitar 8 Milyar manusia di tahun 2038.

Dan bahwa sedang dikembangkan perangkat penghubung untuk mecangkokkan langsung antara otak dan komputer oleh “The Real Iron Man”, Elon Musk dengan perusahaan barunya: “Neuralink”. Jadi anda tidak perlu laptop, dll, krn Otak anda langsung berkomunikasi dng super komputer yg powernya paling tidak sama dng otak anda. Anda akan memiliki kesadaran dan spiritualitas manusia, dengan kecerdasan dan intelektualitas super komputer yg tidak pernah lupa dan tahu apa saja.

Mungkin anda menganggap ini omong kosong dan khayalan science fiction. Saya pun awalnya demikian, Tapi silahkan anda cek kredibilitas dan track record 3 orang yg saya sebut diatas (yg bikin klaim2 fantastis tersebut) dalam mewujudkan hal2 yg tidak mungkin menjadi kenyataan. Dan bagaimana 3 orang tersebut bukan hanya bicara atau bikin prediksi ngawur, tapi mereka benar2 mewujudkan jadi kenyataan satu persatu yg mereka prediksikan. Ada dua pertanyaan yg menggelayuti benak saya. 1. Apakah saya dan anda akan ikut menjadi pemain (kalaupun bukan pemeran utama paling tidak peran pembantu atau minimal figuran, yg penting ikut main), atau cuman bengong terkaget2 saja dan jadi korban? 2. Saat itu terjadi, bagaimanakah caranya agar kita tidak jadi fir’aun yg mengaku Tuhan karena merasa bisa melakukan apapun? atau tidak seperti robot super canggih yg kehilangan emosi dan spiritualitas karena terlalu pintar secara intelektual? Pertanyaan pertama kita bahas kapan2, kita jawab dulu pertanyaan kedua. Apa saja yg perlu kita lakukan agar kita tidak kehilangan “kemanusiaan” kita. Apakah anda mulai merasakan bahwa sebenarnya anda, bahkan anak anda saat ini sudah sangat jauh lebih berpengetahuan dibanding para profesor atau presiden Amerika 15 tahun lalu? bahwa apapun yg ditanyakan pada anda bisa langsung anda jawab dengan rinci dlm waktu 5 menit asal anda ditemani HP yg terhubung internet? Bisakah anda bayangkan bahwa 10 tahun lagi anda akan 1000X lebih “Pintar” dalam mengkases segala informasi? Kalau begitu masih relevankah sekolah yg mengajari hafalan atau cuman menambahi “pengetahuan” ke siswanya, padahal hanya dengan mengintip HP semua pengetahuaan itu akan tersedia jauh lebih rinci. Lalu sekolah sebaiknya mengajarkan apa? Apa yg perlu kita dan anak kita pelajari jika tugas menghafal dan nambah pengetahuan sudah bisa digantikan HP/komputer? Saya menyarankan 7 hal yg paling penting:

1. Intelektualitas: Ketrampilan bikin “pertanyaan” yg bagus, bukan bikin “semua jawaban”. Karena semua jawaban bahkan ketrampilan logika sudah bisa dikerjakan komputer. maka tugas kita yg jauh lebih penting: Ketrampilan bikin pertanyaan. Karena kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas pertanyaan kita. Karena komputer bisa bikin jawaban yg tepat, tapi apakah jawaban itu bermanfaat apa tidak, tergantung kualitas pertanyaan anda.

2. Emosi: Ketrampilan untuk Beradaptasi dengan cepat. Saat perubahan terjadi begitu cepat dan terus bertambah cepat, kita mudah sekali mengalami kebingungan dan kualahan. Belum selesai kagetnya dengan satu hal, muncul hal lain yg lebih mengagetkan. Kalau kita tidak melatih hati kita unt gigih (Grit. Lihat video Angela Duckworth ttg pentingnya kegigihan) dan mudah beradaptasi apapun situasinhya (Adaptability) maka kita bisa bergabung dengan 30% penduduk yg sakit jiwa. Maka saya sengaja mengekspose anak2 saya dengan berbagai macam kondisi: kondisi semua serba ada, kondisi prihatin, kondisi lingkungan sekolah serba islami, kondisi lingkungan di Inggris yg macem2 orangnya, dll. Biar mereka latihan beradaptasi dalam kondisi apapun.

3. Sosial: Ketrampilan mencintai tanpa syarat dan memaklumi orang yg macam2 ragamnya. Dalam dunia yg semakin global dan serba terbuka ini, kalau anda tidak punya hati seluas samudra untuk bisa berempati dan memaklumi sifat orang yg beraneka ragam, anda akan stress sendiri. Lihatlah Indonesia Lawyers Club, tiap minggu menyuguhkan perdebatan. Tengoklah Medsos, penuh dengan kontroversi dimana setiap pihak merasa benar sendiri, dibumbui umpatan2 yg merendahkan orang yg tidak sepaham. Silahkan anda pegang teguh keyakinan agama, aliran madzhab, atau paham politik anda. Tapi milikilah empati dengan orang yg berbeda dengan anda. Anda ndak harus setuju sama mereka, cuman hindarilah melakukan demonisasi (menganggap orang lain demon/sesat). Rilekslah sedikit, milikilah sikap para imam madzhab dulu: “Saya yakin pendapat saya benar, tapi bisa jadi ada salahnya, wong saya manusia biasa. Saya juga yakin pendapat beliau salah, tapi bisa jadi ada benarnya. paling tidak didasari niat baik mencari kebenaran versi dia”. Tirulah semangat orang bijak yg memiliki “benefit of the doubt” (kerendahan hati yg didapat dari “sedikit meragukan” pendapat saya sendiri, biar ndak sok-sok-an). Intinya mari kita tiru akhlaq Nabi: Roufur Rohim.. loving-kindness… mencintai tanpa syarat orang lain, semata2 krn cinta kita pada Pencipta mereka. kalaupun harus membenci, bencilah perbuatannya saja, tetap sayangi dan kasihi orangnya.

4. Fisik: Ketrampilan merawat dan meremajakan diri.. Kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan diperkirakan akan sangat drastis dan fundamental. Siap2lah untuk hidup hingga usia 100 tahun, tapi juga siap kalaupun harus mati besok. Jika ternyata kita dikasih umur hingga 100 bahkan 120 tahun, apakah akan kita habiskan di tempat tidur karena ndak bisa apa2, tapi juga ndak mati2, atau kita tetap punya vitalitas yg cukup tinggi sampai maut menjemput kita?. Silahkan googling “Blue Zone” untuk belajar rahasia komunitas orang2 di 5 pojok dunia yg usianya 100-an tahun dan tetap hidup sehat dan aktif.

5. Estetika: Ketrampilan menghargai keindahan. Nikmatilah setiap momen hidup kita sambil melakukan yg terbaik di setiap kesempatan. Jangan terlalu sibuk sampai lupa berhenti sejenak untuk mengapresiasi keindahan disekitar kita. Dengan perubahan yg terakselarasi secara eksponensial, anda bisa jadi stress, kelelahan dan depresi, atau malah excited, tertantang dan optimis. Yg manakah anda tergantung apakah anda termasuk orang yg menghargai bahwa “Life is So Beautiful”

6. Finansial: Perubahan dunia bisnis akan terjadi sampai level akar2nya. jaman 10-20 tahun lalu, untuk jadi biliyoner atau bahkan triliyuner, anda harus membangun bisnis puluhan tahun dengan ribuan karyawan. Jaman sekarang bisa dengan belasan karyawan dalam waktu 2 tahun saja. Begitu pula perusahaan dengan ratusan ribu karyawan dan berjaya puluhan tahun bisa tutup dalam beberapa bulan saja. Ini era yg bisa jadi menakutkan bagi pecinta kemapanan, tapi juga era kesempatan luar biasa yg tidak pernah terjadi sepanjang sejarah bagi mereka yg siap belajar, berubah, siap menangkap peluang2 dengan kerja keras, cerdas, tuntas, berkualitas dan ikhlas. Ini era yg akan menghasilkan banyak sekali korban bergelimpangan, tapi juga luar biasa banyak para pemenang. kira2 kita yg mana nih?

7. Terakhir, yg paling penting, Spiritual: Jika semua peran berpikir, bekerja bahkan mengambil keputusan sudah diambil alih oleh komputer, maka ada satu hal yg tak tergantikan dan menjadi inti kemanusiaan kita: Kemesraan hubungan kita sama Tuhan. Kalau ada hal yg paling penting untuk saya ajarkan pada anak2 saya, maka itu adalah: “Ketrampilan untuk Jatuh Cinta sama Allah.. dan terus Setia dalam Cinta-Nya sampai akhir Hayat”. sudah itu saja, nanti hal2 baik yg lain akan ngikut. Jika kita bisa terus “Merasakan Cinta-nya dan Mengerjakan segala perbuatan hati, pikiran dan fisik sebagai wujud nyata Cinta Ilahi ini, maka apapun yg akan terjadi, walau dunia mau kiamat sekalipun, semua akan baik2 saja”. Maka walau dunia akan berubah secepat kilat, walau goncangan hidup kedepan akan semakin hebat, walau kita tidak tahu akan seperti apa nasib kita dan keluarga kita nanti.. semua akan baik2 saja asal kita tekadkan: “Tidak menanam apapun selain Cinta.. Tidak menyikapi apapun kecuali dengan hati sepenuh Cinta pada para mahluk-Nya.. Dan tidak berharap apapun selain pelukan Cinta-Nya.. Jum’at, 9 Muharrom 1439 H Dalam kondisi Khouf Wa Roja’..

Dalam Delta Air, perjalanan hampir 5 jam Atlanta-San Fransisco afzan Note: Niat awalnya mau menulis tentang topik dengan judul: “Exponential Change + Mindfulness = Peacful Fighter”. Lha kok malah berakhir dengan tulisan tentang Holistic Person di Era Exponential Change. Ya sudah, begitulah adanya, harap maklum, kancilen diatas pesawat ndak bisa tidur.. semoga bermanfaat..

Bloomington, Ahmad Faiz Zainuddin
Mahasiswa MBA
Warwick Business School, UK
Indiana University, USA
Alumni Singularity University, Silicon Valley, USA

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Abdul Halim

Abdul Halim

Menamatkan program ST dan MT di Jurusan Teknik Kimia ITS. Sedang menempuh PhD di University of Tsukuba. Meneliti pemanfaatan bio-nanomaterial untuk pengolahan limbah cair.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar