Konsumsi Daging Olahan Dapat Berdampak pada Gangguan Mental dan Kejiwaan

Dewasa ini, pilihan konsumsi masyarakat terhadap daging hasil olahan sudah sangat bervariasi. Hal ini juga didukung dengan mudahnya akulturasi kuliner yang masuk ke Indonesia. Dimulai dari olahan rumah seperti sosis, kornet, nugget sampai pada kepopuleran hamburger di restoran cepat saji, kebab ala timur tengah, beaf steak khas western country dan lainnya. Hampir semua menu lezat tersebut bisa ditemukan dengan mudah baik di restoran, warung makan, ataupun kedai pinggir jalan.

Sebagai penikmat sajian-sajian tersebut, ada baiknya kita juga mengetahui kandungan dan efek dari makanan olahan daging. Pada dasarnya, daging olahan adalah daging yang telah dimodifikasi baik untuk meningkatkan cita rasa atau untuk memperpanjang masa kadaluarsanya. Metode pengolahan daging segar bisa berupa penggaraman, pemanggangan, fermentasi, pengasapan, dan pembakaran. Salah satu kandungan yang perlu diperhatikan pada daging olahan adalah senyawa kimia bernama nitrat. Senyawa kimia ini sering kali ditambahkan ke dalam resep daging untuk mencegah pertumbuhan bakteria yang bernama Clostridium botulinum [1].

Mari kita ulas sedikit tentang hubungan antara daging dan nitrat, sejatinya daging adalah bahan makanan yang tidak cukup baik untuk disimpan dalam waktu lama dan mudah rusak. Kekurangan ini membuat kemampuan nitrat sangat dibutuhkan sebagai bahan pengawet daging, mencegah pertumbuhan mikroba, dan juga untuk memperoleh warna merah pada daging agar terlihat segar. Nitrat adalah senyawa dengan ion yang terdiri dari satu nitrogen dan tiga oksigen atom (NO3). Nitrat juga dapat ditemukan pada tumbuhan/sayuran dimana senyawa ini membantu proses fotosintesis. Sayangnya, Nitrat juga memiliki sisi negatif yang dapat menimbulkan kanker pada binatang. Oleh karena itu, tidak dianjurkan kepada bayi dibawah satu tahun untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung senyawa Nitrat [2].

Di sisi lain, terdapat studi terbaru yang mengemukakan bahwa kandungan dalam daging olahan dapat menstimulus otak manusia untuk masuk pada kondisi Mania. Kondisi mania adalah kondisi yang dapat memicu berbagai kelainan kejiwaan dan mental seperti bipolar, hiperaktif, dan insomnia. Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Molecular Psychiatry pada 18 Juli 2018 [5]. Peneliti pada riset tersebut menemukan bahwa mengkonsumsi daging yang mengandung nitrat meningkatkan sifat hiperaktif pada manusia dan menjadi penyebab gangguan bipolar. Pada tingkat yang lebih serius, kondisi mania dapat berdampak pada kondisi gangguan kejiawaan yang parah dan mempercepat kematian. Tentunya hal ini cukup mengejutkan, ketika trend mengkonsumsi daging olahan semakin meningkat di kalangan masyarakat, tetapi ternyata dapat menjadi salah satu pemicu perubahan perilaku.

“Ada sejumlah bukti bahwa bakteri yang terdapat di usus bisa mempengaruhi otak” dikatakan oleh peneliti lain yakni Dr. Robert Yolken, seorang Professor bidang neurovirology kesehatan anak di Universitas John Hopkins, Baltimore, Amerika. Dr. Robert dan koleganya menganalisa data lebih dari seribu orang dengan dan tanpa masalah kejiwaan. Tim peneliti tersebut menemukan bahwa pasien penderita kondisi mania mengkonsumsi daging yang mengandung nitrat 3,5 kali lipat lebih banyak dibanding mereka yang tidak memiliki gangguan kejiwaan yang serius.

Apabila dihubungkan dengan nitrat, tidak hanya nitrat yang menjadi penyebab satu-satunya terhadap kondisi mania. Jadi mengkonsumsi daging olahan sesekali tidak akan memicu penyebab mania. “Baik faktor genetik dan lingkungan memiliki kemungkinan munculnya kondisi mania”. “Hasil eksperimen kami menunjukkan bahwa daging olahan dengan nitrat dapat berperan sebagai salah satu aspek lingkungan pemicu kelainan mania”. Dinyatakan oleh Seva Khambadkone, peneliti hubungan daging olahan dan sifat mania dari Universitas John Hopkins, Baltimore, Amerika. [3]

Kondisi mania dapat memicu kondisi lainnya yang bernama depresi, sehingga kombinasi antara mania dan depresi disebut dengan gangguan bipolar. Gangguan bipolar adalah gangguan yang unik, dimana penderita mengalami kelainan otak yang menyebabkan perubahan tidak biasa dalam suasana hati, energi, level aktivitas dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Ketika berada dalam kondisi mania maka penderitanya akan memiliki energi yang besar, selalu meningkatkan level aktivitasnya, lebih aktif dari biasanya, berbicara dengan cepat, mudah terganggu, terhasut, mengalami gangguan tidur, dan cenderung mengambil resiko yang berbahaya. Sedangkan ketika dalam kondisi depresi maka penderita gangguan bipolar cenderung merasa sedih, kosong, tidak ada harapan, mereka tidak dapat menikmati apapun, memiliki energi yang lebih sedikit, cepat melupakan sesuatu, bermasalah dalam tidur ataupun makan; yaitu terlalu sedikit atau berlebihan.

Perbedaan kondisi mania dan depresi pada penderita gangguan bipolar
(http://depressivedisorder.blogspot.com/2010/03/bipolar-disorder.html)

Faktor Penyebab
Beberapa faktor sebenarnya telah diteliti oleh para ilmuwan tentang penyebab gangguan bipolar. Kebanyakan dari peneliti setuju bahwa gangguan bipolar tidak disebabkan oleh satu faktor. Berikut adalah beberapa faktor tersebut;
• Fungsi dan Struktur Otak: riset pada otak melaporkan bahwa struktur otak penderita bipolar berbeda dengan struktur otak orang sehat.
• Faktor genetik: beberapa riset melaporkan bahwa orang-orang dengan gen tertentu bersifat rentan terhadap gangguanbipolar.
• Riwayat keluarga: anak dengan orang tua atau saudara yang memiliki kelainan bipolar lebih mungkin untuk menderita gangguan bipolar dibandingkan dengan anak yang memiliki catatan keluarga normal.

Diagnosis
Sebenarnya terdapat diagnosa dan bantuan perlakuan kepada penderita gangguan bipolar yang dapat mengarahkan mereka ke kehidupan yang sehat dan produktif. Berkonsultasi kepada dokter dan ahli kesehatan lainnya adalah langkah pertama yang dapat dilakukan. Seorang dokter dapat melengkapi pemeriksaan fisik untuk memeriksa kondisi pasien. Jika tidak ada organ tubuh yang sakit, maka dokter  akan melakukan evaluasi kesehatan mental atau lebih lanjut memberikan saran kepada Psikiater yang ahli dalam mendiagnosa dan merawat penderita Bipolar.

Perawatan dan Terapi
Ketika telah terindikasi gangguan bipolar, maka pengetahuan tentang perawatan dan terapi yang tepat merupakan hal yang sangat penting. Sekalipun pada penderita kelainan bipolar yang parah, perawatan dan terapi yang tepat dapat membantu mengontrol kondisi mood mereka. Sebuah perawatan yang efektif biasanya mengkombinasikan antara obat-obatan dan psikoterapi. Dikarenakan bipolar adalah penyakit jangka panjang, maka dibutuhkan bantuan perawatan berkelanjutan untuk mengontrol gejala ini.

Beberapa jenis obat dapat dikonsumsi untuk mengontrol gejala bipolar tersebut, seperti penyetabil mood, dan obat anti depresi. Selanjutnya, pasien juga harus tetap berkonsultasi dengan dokter atau ahli farmasi tentang dosis penggunaan obat, efek samping yang terjadi, dan dilarang berhenti mengkonsumsi tanpa sepengetahuan dokter. Di sisi lain, terdapat beberapa psikoterapi yang dapat mendukung, mengedukasi, dan membimbing pasien dan keluarganya terhadap gangguan bipolar. Perawatan psikoterapi tersebut adalah; terapi perilaku kognitif/ Cognitive Behavioral Therapy (CBT), terapi dengan pendekatan Keluarga, Terapi Interpersonal dan Ritme Sosial, serta pendidikan psikologis. [4]

                                  

 (a) Obat-obatan dan (b) Psikoterapi

(http://notes.elisyamaranti.com/2017/11/psikoterapi.html)

Nah, begitulah sekilas paparan mengenai pengaruh daging olahan terhadap kondisi psikologis yang berupa kondisi mania. Semoga setelah mengetahui informasi ini, penggemar daging lebih memprioritaskan daging segar dibanding dengan daging olahan.

Daftar Pustaka

[1] Senyawa Nitrat dalam Sayur dan Daging. https://www.ayahbunda.co.id/keluarga-gizi-kesehatan/senyawa-nitrat-dalam-sayur-dan-daging (Diakses pada 07 Agustus 2018).
[2] Efek Nitrat untuk Kesehatan. http://jackapostle.blogspot.com/2011/04/efek-nitrat-untuk-kesehatan.html (Diakses pada 07 Agustus 2018).
[3] Bipolar Affective Disorder. https://consumer.healthday.com/mental-health-information-25/bipolar-affective-disorder-news-60/nitrates-in-meat-may-be-tied-to-mania-study-735832.html . (Diakses pada 07 Agustus 2018).
[4] Bipolar Disorder.https://www.nimh.nih.gov/health/topics/bipolar-disorder/index.shtml . (Diakses pada 07 Agustus 2018).
[5] Khambadkone, S.G., Cordner, Z.A., Dickerson, F., Severance, E.G., Prandovszky, E., Pletnikov, M., Xiao, J., Li, Y., Boersma, G.J., Talbot, C.C. and Campbell, W.W., 2018. Nitrated meat products are associated with mania in humans and altered behavior and brain gene expression in rats. Molecular psychiatry, p.1.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar