Satwa Langka Beruang Hitam Bisa Stres karena Hal Sepele Ini

Beruang hitam merupakan binatang buas karena hidup di hutan dan termasuk hewan karnivora. Beruang hitam memiliki ciri-ciri berbulu tebal, memiliki cakar tajam dan kuat yang digunakan untuk menggali, menangkap dan merobek mangsanya serta bermoncong panjang hingga dapat berdiri dengan dua kaki.

Beruang hitam pun dilengkapi dengan pendengaran dan penciuman yang sangat baik dan bentuk telinga bundar. Adapun, beruang hitam yang terkenal adalah beruang hitam Amerika, Asia, Formosa dan Himalaya.

Ilustrasi beruang hitam yang sedang stres (liputan6.com)

Saking langkanya satwa mamalia seperti beruang hitam, membuat populasinya kini semakin terancam. Sebagai solusinya, beruang hitam dikarantina untuk dapat dilestarikan. Tidak hanya itu, mereka pun mendapat pelayanan prima di kebun binatang.

Namun, beruang hitam yang satu ini memiliki perilaku repetitif yang dilakukan secara obsesif, berulang-ulang dan tanpa tujuan atau disebut juga perilaku abnormal. Lalu, seperti apa gerak-gerik abnormal tersebut? Hewan yang seperti ini, biasanya menunjukkan gerakan berayun-ayun, bergoyang, dan mondar-mandir.

Apakah perilaku tersebut dapat mengindikasikan sebagai bentuk stres satwa terhadap lingkungan?

Di sepanjang tahun 2013, Indonesia Society for Animal Welfare (ISAW) rupanya melakukan observasi ke sejumlah kebun binatang di berbagai tempat, termasuk Jakarta, Bandung dan Surabaya untuk memetakan tingkat kesejahteraan satwa di wahana konservasi itu.

“Hasilnya mengejutkan, perilaku abnormal ini terlihat jelas dilakukan satwa, khususnya kelompok mamalia darat seperti gajah, harimau, dan beruang,” katanya sebagaimana diwartakan nasional.tempo.co (03/05/2014).

Menurut Direktur Eksekutif ISAW, Kinanti Kusumawardani tingkat stres tinggi pada satwa disebabkan ketidaksesuaian lingkungan dengan habitat asli satwa.

“Ada tekanan berkepanjangan di lingkungan yang tidak nyaman pasti satwanya akan gelisah dan stres,” ujar dia.

Sedangkan, Ketua PROFAUNA Indonesia, Rosek Nursahid mengatakan bahwa kontak fisik antara pengunjung dengan satwa dalam bentuk apa pun seharusnya ditiadakan karena dapat memicu stres.

“Ketika satwa stres, bisa memunculkan tindakan agresif,” imbuhnya sebagaimana dilansir mongabay.co.id (06/05/2018).

Lalu, apakah karena melihat banyaknya pengunjung di kebun binatang membuat beruang hitam menjadi pusing tujuh keliling? Bagaimana dengan pendapatmu?

Beruang hitam yang sedang tertekan (rivenanidya.blogspot.com)

Referensi:

  1. Risanti. https://nasional.tempo.co/read/574988/tingkat-stres-satwa-di-kebun-binatang-tinggi (diakses pada 31 Juli 2018)
  2. Petrus Riski. http://www.mongabay.co.id/2018/05/06/jangan-asal-swafoto-dengan-satwa-begini-jadinya (diakses pada 31 Juli 2018)
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Adenardirham

Adenardirham

Adenar Dirham, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta prodi Manajemen Pendidikan Islam (S1). Karya-karyanya tersiar di beberapa media lokal dan nasional. Buku antologi puisi terbarunya, “Melukis Pelangi” (2017). Di kampusnya, ia mengasuh Komunitas Sastra Goresan Pena. Alamat: Wisma Shinchan, Pedak Baru, Karang Bendo, Banguntapan, Bantul, DIY, 55198. Kontak person bisa melalui No. HP : 083-8959-74402 | Email: adenardirham@gmail.com

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar