X
    Kategori Pilihan EditorSains Alam

Penelitian Terbaru Desak agar Pluto Kembali Diklasifikasikan Sebagai Planet

Gambar 1. Ilustrasi Pluto yang dikeluarkan dari sistem tata surya (Sumber: pinterest.com)

Pluto ditemukan pada 18 Februari 1930 dan mendapatkan nama resmi pada 24 Maret 1930 dari seorang gadis kecil bernama Venetia Burney asal Oxford, Inggris. Venetia Burney adalah keponakan dari Henry Madan yang memberi nama Phobos dan Deimos untuk nama bulan di Mars. Pluto resmi menjadi planet kesembilan dari sistem tata surya ketika itu. Sebuah penemuan besar yang diliput oleh seluruh dunia.

Namun, pada tahun 2006, sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) ke-26 di Praha, Republik Ceko, menetapkan definisi baru tentang planet yang kemudian menyebabkan Pluto dikeluarkan dari daftar planet tata surya.

Dalam definisi IAU, sebuah planet haruslah mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga dapat mempertahankan bentuk bulatnya dan memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak terhalang benda langit lain). Sementara Pluto, ukurannya terlalu kecil untuk disebut sebagai planet dan orbitnya bersinggungan dengan planet lain dan membahayakan.

Setelah 76 tahun menjadi bagian dari sistem tata surya, tepatnya 24 Agustus 2006 dalam sidang umum IAU, Pluto resmi dikeluarkan dari sistem tata surya. Pluto kemudian menyandang nama baru, yaitu Planet Kerdil atau Planet Kurcaci atau Planet Katai (bahasa inggrisnya adalah dwarf planet). Planet lain yang digolongkan sebagai planet kerdil adalah Ceres yang berada di sabuk Asteroid, Haumea yang berada di sabuk Kuiper, dll.

Gambar 2. Ilustrasi Planet Katai atau Kerdil (Sumber: amazine.co)

Berselang hampir 12 tahun sejak peristiwa bersejarah itu. Ternyata pembahasan Pluto tidak berhenti begitu saja. Entah karena ada yang tidak setuju dengan putusan IAU atau hanya tidak senang dengan nama pemberian gadis kecil dari Oxford, entahlah!.

Kemudian muncul sebuah teori baru yang dipublikasikan di Jurnal Icarus pada 23 Mei 2018, artikel jurnal tersebut menyatakan bahwa Pluto mungkin hanyalah sebuah komet raksasa yang terbentuk dari kumpulan 1 miliar komet yang menumpuk dan kemudian melebur yang disebut istilah dengan aglomerasi. Dugaan itu muncul dari hasil riset tersebut yang mengindikasikan unsur kimiawi pembentuk Pluto mirip dengan unsur yang terdapat pada komet.

Setelah eksplorasi di tahun 90-an, para peneliti menyadari bahwa ada sejumlah objek es kecil lain mirip Pluto di wilayah Tata Surya yang berada dari sekitar orbit Neptunus. Penelitian tersebut didasari keberhasilan misi wahana antariksa New Horizons dan Rosetta di daerah tersebut.

Dari temuan tersebut, riset terus berlanjut hingga kemudian Chris Glein, ilmuwan di Southwest Research Institute (SWRI) di San Antonio menjelaskan bahwa Pluto memiliki memiliki komposisi kimia yang mirip dengan komet seperti komet 67P/Churyumov–Gerasimenko yang merupakan pecahan dari Jupiter.

Kemudian, fakta lain yang memperkuat bukti bahwa Pluto terbentuk dari miliaran komet adalah kandungan Nitrogen di permukaanya yang mencapai 98 persen mirip dengan metana di Titan, satelit terbesar Saturnus. Nitrogen tersebut diperkirakan membentuk aliran yang mengikis bebatuan komet yang membuat Pluto berevolusi.

Peneliti meyakini Pluto terbentuk dari 1 miliar komet yang termodifikasi secara kimia oleh cairan yang mungkin ada di bawah permukaan pluto sehingga menjadi inti Pluto sehingga terlihat seperti sebuah planet yang padahal hanyalah sebuah komet raksasa.

Klasifikasi Ulang (Reklasifikasi) Pluto Sebagai Planet

Gambar 3. Pluto (Sumber: sciencemag.org)

Namun, setelah lebih dari 1 dekade Pluto kehilangan tempatnya, sebuah penelitian terbaru dari University of Central Florida di Orlando mengungkap bahwa alasan Pluto kehilangan statusnya sebagai planet sebenarnya tidak valid. Merujuk ke kesepakatan pada tahun 2006 yang dibuat dalam pertemuan IAU.

Pada saat itu, ditetapkan definisi planet yang mengharuskannya untuk “membersihkan” orbitnya atau dengan kata lain menjadi gaya gravitasi terbesar di orbitnya. Tapi, seperti diketahui, bahwa gravitasi Neptunus yang sangat besar mempengaruhi planet tetangganya yaitu Pluto. Pluto membagi orbitnya dengan gas dan benda langit beku lainnya dari sabuk Kuiper Neptunus, wilayah yang berada setelah orbit Neptunus, sehingga Pluto kemudian kehilangan status planetnya.

Namun pada penelitian terbaru yang diterbitkan pada 7 September 2018, juga dalam jurnal Icarus, ilmuwan planet UCF Philip Metzger, bersama dengan University Florida Space Institute melaporkan bahwa standar untuk mengklasifikasikan planet itu tidak didukung oleh literatur penelitian. Penelitian ini menekankan kepada kemungkinan mereklasifikasi atau klasifikasi ulang definisi dan status Pluto di dalam sistem tata surya.

Gambar 4. Ilustrasi sistem tata surya hingga jarak terjauh Kuiper belt object (KBO). (Sumber : nasa.gov)

Metzger yang memimpin penelitian tersebut mengatakan telah meninjau literatur ilmiah dari 200 tahun terakhir dan hanya menemukan 1 publikasi dari tahun 1802 yang menggunakan persyaratan orbit kosong atau lintasan orbit yang bersih untuk mengklasifikasikan planet dan itu didasarkan pada alasan yang tidak ilmiah.

Dengan demikian, menurut Metzger sudah seharusnya Pluto dipulihkan statusnya menjadi planet kembali, karena jika merujuk ke definisi yang saat ini secara harfiah, maka tidak ada yang namanya planet, karena tidak ada planet yang dapat mengatur orbitnya sendiri apalagi membersihkan lintasannya dari benda langit lainnya.

Rekan penulis, Kirby Runyon dengan Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory di Laurel, Maryland, mengatakan definisi yang dibuat IAU jelas sangat salah karena menggunakan literatur yang tidak relevan sebagai standar untuk membedakan asteroid dan planet. Hal itu jelas, menurutnya, adalah klaim sejarah yang salah.

Seharusnya, untuk mendefinisikan planet, lanjutnya, harus didasarkan pada sifat instrinsiknya daripada dinamika tidak konstan yang bahkan tidak memiliki keteraturan seperti lintasan orbit yang bersih. Menurutnya, definisi yang lebih mungkin digunakan untuk mendefinisikasikan planet adalah jika benda langit itu cukup besar sehingga gravitasinya memungkinkannya untuk berbentuk seperti bola, daripada mempermasalahkan lintasan orbitnya yang tidak bersih yang landasan ilmiahnya juga tidak begitu jelas.

Bagaimana menurutmu, apakah seharusnya Pluto direklasifikasi?

Referensi
[1] Wall, Mike. 2018. Pluto May Have Formed from 1 Billion Comets. Diakses dari : https://www.space.com/40687-pluto-formation-1-billion-comets.html Pada 11 September 2018

[2] University of Central Florida. 2018. New research suggests Pluto should be reclassified as a planet. Diakses dari : https://www.eurekalert.org/pub_releases/2018-09/uocf-nrs090718.php pada tanggal 11 September 2018

[3] Philip T. Metzger, Mark V. Sykes, Alan Stern, Kirby Runyon. 2018. The Reclassification of Asteroids from Planets to Non-Planets. Journal Icarus. DOI: 10.1016/j.icarus.2018.08.026

[4] Waite Jr, Hunter. R Gelin, Christopher. 2018. Primordial N2 provides a cosmochemical explanation for the existence of Sputnik Planitia, Pluto. Journal Icarus. DOI: 10.1016/j.icarus.2018.05.007

Ricky Jenihansen B :