Revolusi Kesehatan Digital di Afrika, Ketika Rwanda Menjadi Penjelmaan dari Wakanda

Wakanda Forever! Penggemar film Marvel pasti tidak akan asing lagi mendengar kalimat penyemangat ini. Black Panther, film fiksi adaptasi dari komik Marvel ini telah berhasil membuat kita terpukau dengan menyaksikan keindahan Wakanda, tidak hanya keindahan saja yang tersaji, kita juga menyaksikan betapa canggihnya teknologi futuristik yang ada di Wakanda pada saat kita menyaksikan pahlawan superhero tersebut beraksi. Seperti di kutip dari laman IDNtimes yang membahas tentang potret keindahan Wakanda Black Panther di dunia nyata, maka kita dapat mengetahui dengan seksama bahwa lokasi syuting dari film tersebut banyak mengambil adegan di tempat-tempat wisata dan keindahan alam yang ada di Afrika. [1]

Image result for wakanda

Gambar 1. Wakanda di Film Black Panther, Via Medium

Selain keindahan alam Wakanda yang di sajikan dalam film Black Panther, kita juga dapat melihat bagaimana Wakanda juga menyimpan banyak hal menarik seputar kecanggihan teknologi. Tentu kita masih mengingat jelas adegan  bagaimana penyembuhan dengan menggunakan teknologi tingkat tinggi di Wakanda ketika agen CIA Everett Ross ditembak pada bagian tulang belakang oleh salah satu penjahat utama yaitu Klaue. Tim Wakanda membawa Everett Ross kembali ke negara wakanda untuk melakukan proses rehabilitasi medis.

Di laboratoriumnya, Shuri, saudari Raja T’Chala menggunakan Virtual Reality dan ditambah juga dengan menggunakan pencitraan diagnostik super cepat untuk mendiagnosa kondisi Ross. Lalu kemudian Everett Ross bangun setelah 24 jam lamanya, dan lukanya sembuh total. Kita bisa melihat bagaimana dia berdiri dari tempat tidur, di mana semua data medis dapat di ketahui di sekitar kepalanya.

Hari ini, kita bisa menyaksikan teknologi kesehatan canggih itu ada di Rwanda. Bagi penggemar sepakbola, pasti akan langsung mengetahui tentang Rwanda bila melihatnya, tahun ini, klub Premier League Inggris yaitu Arsenal, menyematkan Logo Sponsor Visit Rwanda di jersey home and away pada musim ini, 2018/2019. Awal musim lalu, Paul Kageme, selaku Presiden Negara Rwanda memutuskan bekerja sama dengan Arsenal sebagai brand tourism ambasador bagi negara Rwanda. [2]

Hasil gambar untuk visit rwanda arsenal

Gambar 2, Arsenal Toursim Partner, via EastAfrika

Wakanda Menjadi Nyata di Rwanda

April hingga Juli 1994, persisnya 100 hari, itulah masa terkelam dalam kehidupan sebuah bangsa bernama Rwanda. Konflik dua suku besar, Tutsi dan Hutu membuat negeri itu menjadi ladang pembataian. Antara 800 ribu hingga 1 juta jiwa melayang, yang mayoritas adalah orang Tutsi. Saat itu, efek keganasan yang timbul membuat orang berpikir bahwa negeri yang hancur ini mungkin akan lama bangkit. Atau mungkin tak akan pernah bisa bangkit, terkubur akibat nafsu kejam anak-anak bangsanya sendiri. Betapa tidak, setelah genosida, Rwanda berada di ujung kemusnahan sebuah negara bangsa. 70% yang selamat dari populasi adalah perempuan. Desa-desa hancur lebur. Kohesi sosial retak. Banyak yang kemudian melarikan diri dari Rwanda, menyebar menjadi diaspora, menyusul mereka yang sebelumnya telah pindah untuk mencari penghidupan yang lebih baik.

Tapi apa yang tak mungkin itu justru benar-benar terjadi. Rwanda kini sudah sangat jauh berubah 180 derajat. Selama lebih satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi bergerak di kisaran lebih dari 8% pertahun. Investasi terus mengalir. Sekalipun tanpa sumber daya alam, ekonomi menggeliat. Jalan-jalan bersih. Transportasi lancar. Bahkan di bis-bis yang ada di ibu kota, Kigali, dilengkapi wifi gratis. Rwanda adalah keajaiban ekonomi di Afrika abad 21. Tak berlebihan bila anggapan seperti itu muncul.

Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 1 juta rakyat Rwanda berhasil mengangkat dirinya dari garis kemiskinan. Angka kematian bayi juga menurun. Anak-anak yang berusia 7 tahun pergi ke sekolah dengan ceria. Mayoritas penduduk yang berjumlah 11,2 juta jiwa mendapat asuransi kesehatan. Tingkat kejahatan rendah. Perempuan aman berjalan di malam hari. Ulasan di laman SWA ini cukup menarik untuk kita pahami bersama bahwa selalu ada hikmah di balik tragedi kelam yang pernah terjadi, dan saat ini kita pun belajar dari sebuah negara yang pernah chaos yaitu Rwanda namun kini telah bangkit dari keterpurukan dan berhasil meningkatkan taraf kehidupan bagi masyrakatnya. [3]

Seperti di kutip dari laman medical futurist, saat ini negara Rwanda merupakan sebuah negera yang sangat pesat dalam menggunakan teknologi digital pada kesehatan. Warga Rwanda di desa-desa terpencil menggunakan algoritma berbasis kecerdasan buatan pada ponsel mereka untuk mendapatkan diagnosis untuk masalah kesehatan, saat ini dokter di daerah Kigali, Ibu Kota Rwanda, dapat berkonsultasi dengan rekan-rekan mereka di Provinsi Cyangugu tentang kasus radiologi melalui telemedicine, di lain hal juga pengiriman kebutuhan darah saat ini juga sudah dapat dilakukan oleh drone medis dengan menggunakan Zipline, dan sistem pencatatan kesehatan elektronik juga memastikan bahwa seluruh data di dikumpulkan untuk mengetahui kondisi kesehatan di masyarakat. Rwanda adalah negara pelopor dalam kesehatan digital di Afrika – perwujudan Afrofuturistik nyata dari Black Panther Wakanda. Mari kita lihat bagaimana dan mengapa itu semua dapat terjadi.

Hasil gambar untuk bucky barnes in wakanda

Gambar 3, Bucky Barnes di Film Civil War tangannya putus mendapat penanganan medis di Wakanda. Via CBR

Sementara itu, ekonomi Rwanda tidak didasarkan pada materi yang kuat seperti vibranium di Wakanda, kemajuan teknologi terutama pada bidang engineering telah menciptakan masyarakat digital yang didukung dengan kesehatan serba digital pula dan dapat membedakan Rwanda dari lingkungan di belahan penjuru dunia lainnya. Kecerdasan buatan, telemedicine, drone medis, aplikasi kesehatan, dan solusi seluler membawa negara ini ke abad teknologi 21. Dan seperti halnya di Wakanda, mereka menggabungkan teknologi tingkat tinggi dengan tradisi dan unsur yang kental akan budaya. Mari kita perhatikan secara detail, bagaimana itu bisa terjadi dengan menganalisa beberapa faktor yang ada. [4]

Dari asuransi kesehatan berbasis masyarakat melalui broadband hingga kesehatan digital

Seperti di kutip dari laman WHO, Setelah  tragedi genosida yang menghancurkan Rwanda 24 tahun yang lalu, pemerintah Rwanda harus membangun kembali seluruh negeri, termasuk sistem perawatan kesehatan mereka. Pemerintah telah sangat berkontribusi terhadap perkembangan ini, misalnya, pengeluaran untuk perawatan kesehatan telah meningkat dari 3,2 persen pada tahun 1998 menjadi 9,7 persen pada tahun 2008, dan ini tidak berhenti sampai di situ. Reformasi besar besaran yang dilakukan untuk menciptakan kesehatan utama yang baik kepada masyarakat di Rwanda telah membuat angka kematian menurun selama bertahun-tahun – mulai dari memperkenalkan skema asuransi kesehatan wajib dari tahun 2008 di. Sepuluh tahun kemudian, lebih dari 90 persen populasi sudah dilindungi oleh skema asuransi kesehatan berbasis masyarakat. Skema Asuransi itulah yang sangat memberikan dampak positif bagi perkembangan kesehatan di Rwanda.

Gambar 4, Babyl, layanan konsultasi Kedokteran dengan menggunakan saluran telepon, via TMF

Tapi itu baru permulaan. Selangkah demi selangkah, sejalan dengan perkembangan teknologi yang pesat di seluruh dunia, Rwanda merangkul teknologi digital di setiap level. Dr. Zuberi Muvunyi, Direktur Jenderal di Departemen Layanan Kesehatan Klinis dan Umum, mengatakan kepada The Medical Futurist bahwa “pemerintah Rwanda telah menjadikan kesehatan pintar sebagai salah satu pilar kebijakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) mereka. ICT, Information and Comunication Technology, benar-benar menjadi sesuatu yang sangat di terapkan oleh pemerintah dan menempatkannya pada prioritas pertama untuk pengembangan negara ini.”

Baca juga:

Broadband, Kabel, dan Telepon; Tulang punggung masyarakat digital Rwanda

Rwanda bertujuan untuk melakukan digitalisasi di banyak daerah dalam negaranya. Sebagai negara dengan 12 juta orang dan tidak ada sumber daya alam yang signifikan, pemerintah mengakui bahwa sektor jasa dapat sangat berarti sebagai jalur pengembangan potensial untuk Rwanda. Mereka juga mengidentifikasi program besar pemerintahnya di sektor ICT, Information and Comunication Technology sejak awal. Semuanya dimulai dengan kabel dan broadband. Pemerintah telah menginvestasikan seratus juta dolar dalam membangun infrastruktur jaringan serat optik atau bandwidth di atas tanah seluas 2,796 mil. Masih di kutip dari laman TMF, Dr. Zuberi Muvunyi mengatakan bahwa 90 persen dari seluruh negara ditutupi oleh 4G. Beberapa bahkan menggunakan 5G, sementara kabel serat optik meliputi hampir seluruh negara. [6]

digital health in Africa

Gambar 5, Kemudahan Akses Internet di Rwanda dan Afrika , Via TMF

Penggunaan ponsel pintar sudah mencapai angka 75 persen, dan penetrasi ponsel cerdas tersebut mulai meroket dalam beberapa bulan terakhir di Rwanda. Seperti di katakan Tracey McNeill, Kepala Petugas Mobilisasi di Babylon Health, yang telah menjadi CEO Babylon Rwanda, “Ketika saya pertama kali pergi ke Rwanda dua setengah tahun yang lalu, setiap toko telepon seluler memiliki ponsel berfitur canggih, dan ponsel pintar berada di rak paling atas. Sekarang, apa yang terjadi adalah setiap rak terisi oleh smartphone kecuali untuk rak paling bawah karena headdset baru dan murah membanjiri negara-negara Afrika dari tempat-tempat seperti China” Demikian yang dijelaskan Tracey di kutip dari laman TMF, beliau telah bekerja di negara ini selama hampir tiga tahun untuk membangun layanan kesehatan berbasis fitur telepon di negara Rwanda. [7]

Faktor Utama Kemajuan di Rwanda adalah Peran Pemerintah Yang memahami Teknologi Digital

Pada tahun 2016 lalu, Pemerintahan Rwanda telah memperkenalkan Kartu Identitas berbasis Elektronik dan di tahun 2018 ini juga telah menggunakan paspor elektronik untuk keperluan para penduduknya. Selain itu, Rwanda juga memperkenalkan layanan catatan kesehatan atau yang biasa kita kenal dengan medical record dimana saat ini penyakit HIV masih tercatat dalam banyak kasus. Pemerintah Rwanda juga telah bekerja sama dengan WHO, Global Fund, OCDC dan Pemerintah Amerika Serikat untuk memperluas sistem tersebut.

Masih dalam penjelasan Dr. Zuberi Muvunyi oleh tim TMF, saat ini, mereka menggunakan e-LMIS (Electronics Logistic Management Information System) untuk manajemen persediaan medis, sistem manajemen laboratorium untuk logistik di laboratorium dan sistem pendataan yang cepat. Dengan menggunakan update informasi terakhir, sekitar 60.000 pekerja kesehatan masyarakat di negara tersebut dapat melaporkan tentang keadaan darurat ke Kementerian Kesehatan dalam waktu singkat. Setidaknya sudah tercatat bahwa saat ini, mereka mengintegrasikan semua berbagai elemen sistem secara bersama-sama, dan kira-kira dalam sepuluh tahun mendatang, lanskap medis Rwanda akan sepenuhnya berubah dengan fokus yang kuat pada kesehatan digital.

Kolaborasi Sebagai Kunci Utama Inovasi di Rwanda Dan Tidak Adanya Regulasi Yang Berlebihan

Babylon, fasilitas pelayanan kesehatan dengan menggunakan sambungan telepon, saat ini adalah layanan kesehatan berbasis fitur telepon tersebut yang telah memiliki lebih dari 2 juta pengguna, dan mereka telah melakukan 200.000 konsultasi hanya di dalam jangka waktu dua tahun. Selain itu, saat ini Pemerintah Rwanda juga telah bekerja sama dengan sebuah start up medis asal Amerika Serikat yaitu Zipline, perusahaan Drone Medis yang menyediakan layanan transportasi berbagai keperluan medis dengan Drone.

Pada tahun 2016, pemerintah Rwanda bekerja sama dengan Zipline, sebuah perusahaan manufaktur drone medis untuk mengirim pasokan medis ke lima rumah sakitnya. Startup Amerika Serikat tersebut muncul lebih awal di pasar Afrika daripada di AS sendiri, hal tersebut terjadi karena pemerintah Rwanda mendukungnya dan adanya peraturan yang lebih longgar sehingga dapat memperbolehkannya. Setelah sukses dan dirasa efektif, Rwanda juga mendapat bantuan pendanaan dari Gedung Putih yang mengulurkan bantuan ke Zipline dan memberikan minat dalam pengiriman obat dan darah ke bagian pedesaan AS.

Ketika The Medical Futurist menanyakan kepada Justin Hamilton, juru bicara Zipline, mengapa start-up Zipline dapat di percaya oleh pemerintah Rwanda, ia menyebutkan dua faktor: “Di satu sisi karena kebutuhan medis yang tinggi sehingga memerlukan teknologi transportasi yang memadai, di sisi lain Rwanda juga masih memiliki kemampuan sinyal yang masih rendah untuk kegiatan navigasi pada wilayah udara. Dibandingkan dengan Amerika Serikat yang sudah memiliki sinyal cukup bagus dalam navigasi, maka Rwanda menjadikan Zipline dapat mengeksplorasi Drone milik mereka agar semakin kompetibel bila di tempatkan pada kondisi sinyal navigasi yang belum memerlukan, untuk itulah Zipline sangat tertarik untuk dapat berkolaborasi dengan pemerintah Rwanda.

digital health in Africa

Gambar 6, Zipline, perusahaan Drone yang menyediakan layanan transportasi berbagai keperluan medis Via TMF

Namun, kemudahan regulasi pemerintah yang diberikan oleh Rwanda bukan berati tanpa celah. Bila terjadi kurangnya regulasi pun juga akan berdampak pada kurangnya minat start up untuk berperan, faktor yang sangat penting dari hal ini adalah bagaimana start up tersebut dapat memiliki keamanan berinvestasi dan kelayakan dalam menjalankan hasil yang di inginkan, sehingga pemerintah Rwanda dalam hal ini juga sangat mendorong kerja sama yang efektif antara Kementerian Kesehatan dan Informasi Teknologi agar dapat memfasilitasi keberadaan start up tersebut. Sejauh ini, populasi keberadaan start up masih terbilang ramai karena pemerintah sangat memberikan kemudahan akan akses pelayanan berbasis digital dan tentunya sangat banyaknya di bidang kesehatan.

Well, melihat perkembangan teknologi di Negara Rwanda yang hari ini sudah sangat pesat dengan kecanggihan teknologi Digital Healthcare tentunya juga akan semakin mengenalkan kepada kita bahwa gambaran masyarakat modern kedepan adalah terciptanya akses kemudahan seseorang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang terjangkau dan sangat efektif dalam menangani berbagai kasus penyakit. Semoga apa yang dilakukan Negara Rwanda tersebut juga dapat kita pelajari lebih jauh di Indonesia agar kedepan pelayanan kesehatan di negera kita tercinta Indonesia bisa terus maksimal setiap saat.

Referensi

[1] Potret Keindahan Wakanda di Black Panther, https://www.idntimes.com/travel/destination/andi-aris/10-potret-keindahan-wakanda-black-panther/full, di akses pada 12 September 2018

[2] Rwanda dan Sponshorship Arsenanl, https://www.theguardian.com/world/2018/may/29/rwandas-30m-arsenal-sponsorship-divides-opinion, di akses pada 12 September 2018

[3] Rwanda, Bangkit di Tangan Diasporanya, https://swa.co.id/swa/trends/rwanda-bangkit-di-tangan-diasporanya, di akses pada 12 September 2018

[4] Rwanda and the Dreamers of Digital Health in Africa, https://medicalfuturist.com/digital-health-in-rwanda, di akses pada 12 September 2018

[5] Skema Asuransi dari WHO di Rwanda, http://www.who.int/bulletin/volumes/86/11/08-021108/en/, di akses pada 12 September 2018

[6] Investasi seratus juta dolar di Rwanda, https://www.dr-hempel-network.com/health-policies-in-india/digital-health-sector-in-rwanda/, di akses pada 12 September 2018

[7] Layanan Kesehatan Berbasis Telepon, Babylon, https://www.babylonhealth.com/ , di akses pada 12 September 2018

[8] Negara Baltik Estonia, Pengembangan ICT, https://medicalfuturist.com/what-the-hell-is-blockchain-what-does-it-mean-for-healthcare-and-pharma, di akses pada 12 September 2018

[9] Elektronik ID, Rwanda, https://www.biometricupdate.com/201605/rwanda-to-introduce-new-eid-card, di akses pada 12 September 2018

[10] Zipline, Medical Drone, http://www.flyzipline.com/,  di akses pada 12 September 2018

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Ade Firdaus

Ade Firdaus

Alumni Teknik Elektromedik, Politeknik Kesehatan Jakarta II, Kementerian Kesehatan Indonesia. Menekuni Biomedical Engineering, Kecerdasan Buatan, Radiologi, Medical Robotic & IV-D.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *