Penjelasan tentang Fenomena Suhu Udara Ektsrim Dingin pada Akhir Juli hingga Agustus di Indonesia

Ditulis oleh Muclishin Pramono Guntur Waseso*

 *Peneliti di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Jl. Angkasa I, No.2 Kemayoran, Jakarta Pusat 10720

Pada Bulan Juli hingga Bulan Agustus, telah terjadi fenomena suhu udara dingin yang dirasakan di beberapa daerah khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Berdasarkan data pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tercatat suhu udara mencapai kurang dari 15oC selama 1 hingga 5 Juli 2018 di dataran tinggi/kaki gunung seperti Ruteng (NTT), Wamena (Papua), dan Tretes (Pasuruan). Suhu terendah tercatat di Ruteng (NTT) dengan nilai 12oC pada tanggal 4 Juli 2018. Fenomena suhu udara dingin ini merupakan fenomena yang terjadi secara alami yang terjadi pada bulan – bulan kemarau (Juli – Agustus).

Maraknya desas desus masyarakat dalam mengaitkan fenomena ini adalah salah satu dampak dari Aphelion. Menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr. Thomas Djamaluddin, pada website kumparan.com, beliau mengatakan bahwa fenomena ini tidak ada hubungannya dengan Aphelion. Ditambahkan kembali penjelasan dari Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Drs. Mulyono R. Prabowo, M. Sc, dalam website BMKG, beliau mengatakan bahwa sebenarnya fenomena Aphelion ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli dan pada waktu yang sama, secara umum pada wilayah Indonesia berada pada periode musim Kemarau. Karena bersamaannya fenomena ini terjadi, seolah – olah fenomena Aphelion memiliki dampak pada penurunan suhu udara Indonesia.

Di sisi lain, adanya pengaruh Angin dari benua Australia menuju benua Asia atau yang disebut angin muson timur, membawa sedikit uap air atau bersifat kering sehingga menyebabkan sedikitnya awan yang terbentuk dan mulai memasuki musim kemarau seperti pada gambar 1.

Gambar 1. Angin Muson Timur dan Angin Muson Barat

(Sumber website: referensibebas.com,2017)

Tutupan awan yang sedikit atau kurang menjadi salah satu alasan suhu menjadi lebih dingin daripada biasanya di malam hari. Secara fisis, rendahnya kandungan uap air di atmosfer ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer. Ketika energi dilepaskan, otomatis suhu bumi menjadi turun. Jika masih ada tutupan awan, energi tersebut  masih bisa kembali ke bumi seperti pada gambar 2.

Gambar 2. Neraca Kesetimbangan Energi

(sumber: Revana, 2015)

Sedangkan penjelasan lebih lanjut, perlu diketahui fenomena Aphelion merupakan istilah astronomi untuk menunjukkan bumi berada di titik terjauh dari matahari seperti gambar 3.

Gambar 3. Ilustrasi Fenomena Aphelion

(sumber website: pontianak-tribunnews, 2018)

Referensi:

  1. Juli 2018. Penjelasan BMKG Terkait “Aphelion, Suhu Udara Dingin, dan Embun Beku”. https://www.bmkg.go.id/press-release/?p=penjelasan-bmkg-terkait-aphelion-suhu-udara-dingin-dan-embun-beku&tag=press-release&lang=ID diakses pada 26 September 2018
  2. Idhom, Addi M. BMKG: Aphelion Tidak Memicu Suhu Turun Ekstrem di Indonesia. https://tirto.id/bmkg-aphelion-tidak-memicu-suhu-turun-ekstrem-di-indonesia-cNEW diakses pada 26 September 2018
  3. Januari 2015. Hubungan Neraca Kesetimbangan Radiasi Terhadap Perubahan Iklim. http://revana-hadiani.blogspot.com/2015/01/hubungan-neraca-kesetimbangan-radiasi.html diakses pada 26 September 2018
  4. —. Januari 2017. Akibat Dari Adanya Angin Muson Barat dan Angin Muson Timur. https://www.referensibebas.com/2017/01/akibat-dari-adanya-angin-muson-barat.html diakses pada 26 September 2018
  5. —. Juli 2018. Bukan Aphelion, ini Penyebab Suhu di Bandung dan Yogya Jadi Dingin. https://kumparan.com/@kumparansains/bukan-aphelion-ini-penyebab-suhu-di-bandung-dan-yogya-jadi-dingin-27431110790540295 diakses pada 26 September 2018
  6. —. Juli 2018. Aphelion Tak Terkait Suhu Dingin di Indonesia, Meski Jarak Bumi Lebih Jauh dari Matahari. http://pontianak.tribunnews.com/2018/07/06/aphelion-tak-terkait-suhu-dingin-di-indonesia-meski-jarak-bumi-lebih-jauh-dari-matahari diakses pada 26 September 2018
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Warung Sains Teknologi

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri. Sampai saat ini, sains dan teknologi berkesan ekslusif yang hanya ada di laboratorium dan tidak mampu secara langsung berdampak kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat, pemerintah dan industri tidak menjadikan sains sebagai sarana mengatasi permasalahan atau membuat kebijakan. Untuk itu, warstek hadir untuk menjawab tantangan tersebut.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar