X
    Kategori Pilihan EditorSains Alam

Kenapa Kita Bisa Bosan? Ini Dia Sains dibalik Rasa Bosan

Mungkin semua orang pernah mengalami bosan dan banyak diantaranya mudah sekali diserang kebosanan. Saat menunggu antrean tiket, menunggu seseorang, atau menunggu pacar yang sedang melukis alis. Pada saat seperti itu apa yang akan kita lakukan untuk mengusir kebosanan atau kejenuhan? Mendengarkan musik, membuka media sosial, menonton youtube, atau hanya sekedar menggeser – geser menu handphone saja? Tapi apa yang mendasari terjadinya kebosanan? Kenapa kita bisa bosan? Dan apa sih bosan itu?

Berdasarkan penelitian ilmuwan psikologi bernama John Eastwood dari Universitas York di Ontario Kanada dan rekan-rekannya di University of Guelph dan University of Waterloo di bidang ilmu psikologi dan ilmu saraf mendefinisikan kebosanan sebagai keadaan yang monoton atau berulang dan kita tidak melakukan aktivitas yang dapat keluar dari keadaan tersebut[1]. Hasil penelitian ini diterbitkan oleh Association for Psychological Science pada jurnal Perspectives on Psychological Science edisi September 2012.

Tinjauan tahun 2012 terhadap penelitian kebosanan yang dilakukan dalam pengaturan pendidikan menunjukkan bahwa kebosanan adalah kombinasi dari kurangnya hormon kegembiraan dan adanya kondisi ketidakpuasan, frustrasi atau tidak tertarik akan suatu hal, yang semuanya disebabkan oleh kurangnya sesuatu yang dapat menghibur diri[4].

James Danckert, profesor ilmu saraf kognitif di University of Waterloo di Ontario dalam sebuah wawancara dengan Live Science mengatakan, “Satu aspek yang disetujui oleh sebagian besar orang adalah bahwa kebosanan itu tidak menyenangkan. Dengan cara ini, kebosanan tidak sama dengan sikap apatis, karena orang – orang yang bosan dalam beberapa hal termotivasi untuk mengakhiri kebosanan mereka”[4].

Kebosanan juga berbeda dari keputusasaan dan depresi. Dibandingkan dengan keputusasaan, “kebosanan mungkin melibatkan perasaan terjebak dalam situasi yang tidak memuaskan, tetapi tidak melibatkan kepercayaan bahwa kesuksesan  tidak mungkin tercapai di masa depan,” kata Taylor Acee, asisten profesor pendidikan pengembangan di Texas State University, San Marcos,, dalam wawancara E-mail dengan Live Science[4]. Bosan juga berbeda dengan depresi, karena depresi cenderung melibatkan hal yang negatif sedangkan bosan hanya perasaan negatif yang muncul dari kurangnya hiburan atau menginginkan sesuatu yang baru.

Penyebab dari kebosanan ada bermacam – macam, contohnya melakukan hal yang monoton atau berulang. Kebosanan serupa dengan kelelahan mental dan disebabkan oleh pengulangan dan misalnya, pekerjaan yang memerlukan perhatian terus menerus, narapidana yang dipenjara, atau menunggu pesawat yang delay di bandara[2].

Beberapa orang cenderung lebih mudah bosan daripada orang lain karena mereka butuh akan hal – hal yang baru dan mereka merasa bahwa dunia bergerak lambat. Kebutuhan akan rangsangan eksternal dapat menjelaskan mengapa ekstrovert cenderung sangat rentan terhadap kebosanan. Mencari sesuatu yang baru dan mengambil risiko adalah cara orang – orang ini mengobati diri sendiri untuk menyembuhkan kebosanan mereka[3].

Orang – orang dengan kecerdasan tinggi ternyata mudah terserang kebosanan. Mereka lebih sering menghabiskan waktu bermalas – malasan daripada melakukan kegiatan fisik. Penelitian yang dilakukan di Amerika mengungkapkan bahwa orang dengan IQ tinggi merasa cepat bosan karena mereka merasa semua mudah dilakukan, sehingga membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk terlibat dalam pemikiran saja ketimbang melakukan aktifitas fisik[7].

Kebosanan juga terkait dengan masalah perhatian. Apa yang membuat kita bosan tidak pernah benar – benar menarik perhatian kita. Lagi pula, sulit untuk tertarik pada sesuatu ketika Anda tidak dapat berkonsentrasi pada hal itu. Orang dengan masalah perhatian kronis, seperti gangguan hiperaktif memiliki kecenderungan untuk bosan lebih tinggi[3].

Untuk mengatasi kebosanan, kita juga perlu mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena orang yang kekurangan sumber daya batin untuk mengatasi kebosanan secara konstruktif akan bergantung pada stimulasi eksternal. Dengan tidak adanya keterampilan hiburan batin, dunia luar akan selalu gagal memberikan kegembiraan dan kebaruan yang cukup[3].

Kunci untuk menghindari kebosanan adalah pengendalian diri. Mereka yang memiliki kapasitas kontrol diri yang lebih tinggi cenderung tidak mengalami kebosanan dan orang yang memiliki control diri dari kebosanan mempunyai kreativitas yang tinggi. Karena orang yang bosan cenderung punya hasrat atau usaha lebih untuk keluar dari kebosanan tersebut[4].

Dengan mendorong kontemplasi dan melamun, itu bisa memacu kreativitas[5]. Sebuah penelitian di Inggris meminta subyek untuk menyelesaikan tantangan kreatif. Satu kelompok subjek melakukan aktivitas yang membosankan terlebih dahulu, sementara yang lain langsung ke tantangan. Alhasil, kelompok yang melakukan aktivitas membosankan terlebih dahulu yang lebih produktif[6]. Karena subyek yang merasa bosan akan berusaha keluar dari kebosanannya dan mencari hal baru untuk dikerjakan.

Referensi :

[1]. www.psychologicalscience.org. “I’m Bored!” – Research on Attention Sheds Light on the Unengaged Mind. Diakses pada 5 September 2018.

[2]. Toohey, Peter (2102), Boredom: A Lively History. New haven: Yale University Press

[3]. www.psychologytoday.com. Eight Reasons Why We Get Bored. Diakses pada 5 September 2018.

[4]. www.livescience.com. The Science of Boredom. Diakses pada 5 September 2018.

[5]. www.theatlantic.com. The surprising benefits of stultification. Diakses pada 5 September 2018.

[6]. Schubert, “Boredom as an Antagonist of Creativity” (Journal of Creative Behavior, Dec. 1977).

[7]. today.line.me. 6 Fakta Ilmiah Tentang Kebosanan yang Harus Diketahui. Diakses pada 5 September 2018.

Fauzan Shani :Pecinta perkembangan teknologi