Senyum Bukan Tandanya Senang! Ini Dia Fakta Senyuman Seseorang Berdasarkan Eksperimen

Pernahkan kalian mendengar bahwa “senyum adalah sedekah”?. Ya memang benar guys kalau yang namanya sedekah bukan hanya berupa harta atau uang saja. Senyum ini merupakan sedekah yang paling mudah untuk kita lakukan. Kita hanya perlu sedikit energi melakukannya.

Hanya dengan menarik sedikit wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang manis dan indah adalah sedekah.

Senyum
Ilustrasi Orang Tersenyum. Sumber: Kompas.com

Secara fisiologi, senyum merupakan ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang tersenyum untuk memperlihatkan kebahagian dan rasa senang.

Memang senyum itu datang dari rasa kebahagiaan atau kesengajaan karena adanya sesuatu yang membuat dia tersenyum, bertambah raut wajahnya dengan menjadi lebih cantik daripada wajah biasa saja atau ketika marah.

Eits jangan berpikir kalau orang tersenyum itu tandanya bahagia. Nyatanya banyak orang yang sering tersenyum, tapi memiliki hati yang luka. Dengan artian dia tidak bahagia. Hal ini juga dilakukan oleh seorang peneliti yang menemukan 16 jenis senyuman, tapi hanya 6 jenis senyum saja yang berhubungan dengan bahagia.

Ternyata senyuman yang benar-benar menandakan kebahagian adalah senyuman Duchenne. Ketika kita melakukan senyum jenis ini, bagian dari otot wajah diaktifkan pada waktu yang bersamaan.

Fakta Tentang Senyum Duchenne

Kalian tahu patung Monalisa yang dilukis oleh Leonardo Da Vinci yang mashur itu? Ternyata kamu juga bisa loh tersenyum lebih indah dari Monalisa. Bagaimana caranya? Ya dengan melaukan senyum Duchenne.

Senyum manis
Ilustrasi Senyum. Sumber: Tribunnews

Senyum Duchenne ini merujuk pada Duchene de Bolougne, seorang pakar fisiologi dari Prancis yang menjadi penemu senyum pertama pada abad ke-18. Menurutnya, senyuman yang paling baik adalah senyum yang melibatkan otot di sekitar mata. Cirinya adalah mata yang mengkerut.

Jenis senyum yang satu ini dipercaya memiliki efek yang positif terhadap orang lain. Orang dengan senyuman ini punya kebahagian atas hidup yang lebih baik. Mereka yang sering melakukan senyuman ini juga dipercaya bisa hidup tujuh tahun lebih lama ketimbang mereka yang tidak mau senyum dengan gigi terlihat dan mata mengkerut.

Lalu sih arti sebenarnya dari senyuman-senyuman manusia itu? Para peneliti dari Brighton and Sussex Medical School di Inggris baru-baru ini memberikan penjelasannya.

Dr. Harry Witchell dan rekan-rekannya telah melaukan penelitan mengenai senyuman manusia yang bertujuan untuk mengetahui apakah para relawan cenderung tersenyum dalam suatu kondisi atau kejadian, dan mengapa hal itu terjadi.

“Menurut beberapa peneliti, senyum yang tulus itu mencerminkan keadaan batin dari keceriaan atau hiburan. Ini yang akan kita cari tahu,” ucap Dr. Witchel dalam forum European Conference on Cognitive Ergonomics.

Para peneliti ini mengamati data dari 44 peserta yang sehat, 26 diantaranya adalah perempuan dengan usia 18-35 tahun.

Setiap peserta duduk dalam suatu ruangan dan ditinggalkan sendiri dengan sebuah computer. Nah wajah mereka ini akan direkam dengan menggunakan suatu perangkat lunak pengenal wajah khusus.

Setiap peserta juga harus menjawab kuis yang pertanyaannya cukup sulit yang ditampilkan di komputer dengan batas jawaban 175 detik. Dengan tingkat kesulitan yang tinggi serta durasi waktu yang pendek, para peneliti melihat ternyata para peserta tersebut sering memberikan ekspresi wajah yang salah.

Setelah itu, para peneliti itu menilai hubungan antara suasana hati para peserta dan waktu dimana mereka tersenyum dengan melakukan pendekatan dua arah.

Dari soal kuis tersebut, 12 nomor pertama terkait dengan suasana hati, seperti rasa bosan, tertarik, dan frustasi. Pada satu sisi, para peserta harus menilai pengalaman mereka masing-masing dengan pertanyaan ini. Sementara di sisi lainnya, para peneliti menggunakan perangkat pengenal wajah untuk melhat seberapa seringkah para peserta tersebut tersenyum.

Secara keseluruhan, para peserta tidak tersenyum ketika mereka sedang menjawab pertanyaan pada kuis. Sebaliknya, mereka ini cenderung tersenyum setelah menjawab pertanyan karena computer akan mengkonfirmasi apakah jawaban mereka benar atau salah.

Ilustrasi Nenek Tersenyum
Ilustrasi Nenek Tersenyum

Berdasarkan penelitian tersebut, tersenyum itu tidak didorong oleh kebahagiaan. Tapi terkait dengan keterlibatan subjektif yang bertindak seperti kondisi social untuk tersenyum, bahkan ketika bersosialisasi dengan computer sekalipun. Namun, yang paling menonjol adalah ketika para peserta tampak tersenyum paling sering ketika mereka mengetahui kalau mereka telah menjawab pertanyaan yang salah.

Dari penelitian ini, para peneliti menyimpulkan bahwa suasana hatilah yang tampaknya menjadi hubungan dengan seberapa sering seseorang tersenyum. Seseorang akan tersenyum ketika menemukan ketertarikan dengan sebuah kondisi atau keadaan sosial. Mereka sepakat bahwa senyum itu terkadang muncul sebagai reaksi sosial yang tidak diadari.

Jadi, senyum itu bisa dijelaskan oleh penilaian diri dari keterlibatan, bukan oleh peringkat kebahagiaan atau rasa frutasi.

Nah hal ini juga senada dengan seorang psikolog Universitas California bernama Alan Fridlund. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari senyuman itu cenderung untuk menyertai salam. Sebagian besar orang terbiasa berbohong dengan sopan tentang perasaan hati mereka yang sebenarnya. Mereka cenderung mengatakan kalau mereka baik-baik saja.

Patti Wood, Ma yang merupakan seorang ahli Bahasa tubuh asal Atlanta menyatakan bahwa senyum yang dimaksud dinamai Dupper’s Delight atau Duping Smile, yaitu senyuman kecil yang biasa muncul ketika seseorang berbuat curang, berbohong, menipu atau bahkan mengelabuhi.

Senyuman seperti ini juga mungkin terjadi karena kamu merasa kurang suka atau kurang cocok dengan seseorang. Dalam budaya Timur, emosi negative sering disembunyikan dengan senyuman seperti ini untuk menjaga harmoni sosial.

ilustrasi orang jepang tersenyum
Ilustrasi orang jepang tersenyum. Sumber: Baca

“Darimana saya berasal, Indonesia, kemarahan biasanya tidak dianggap dapat diterima secara sosial. Sebaliknya, orang cenderung banyak tersenyum ketika mereka marah,” ujar Zara Ambadar yang merupakan psikolok kognitif dari University of Pittsburgh.

Hal ini seperti menjelaskan kenapa di jepang kalau etika menyatakan bahwa emosi sebaiknya ditampilkan di depan umum. Tersenyum dengan ekspresi dan bentuk mata menjadikan penekanan yang lebih besar.

Bahkan perbedaan ini sampai kepada cara senyuman yang diketik dengan karakter, yaitu secara vertical dengan mulut datar dan mata yang menyempit, yang merupakan lawan dari mata bertitik dengan mulut melengkung. Ilustrinya digambarikan seperti ini ^_^, ketimbang :),.

Referensi:

[1] Muslimah. Sedekah Tak Sekedar Rupiah. https://muslimah.or.id/7165-sedekah-tak-sekedar-rupiah.html. Diakses pada 1 Oktober 2018.

[2] Nia Hidayati. Senyum Adalah Ibadah yang Paling Mudah. http://www.niahidayati.net/awali-dengan-senyuman.html. Diakses pada 1 Oktober 2018.

[3] Tempo. Senyuman Duchenne Lebih Indah Daripada Monalisa. https://gaya.tempo.co/read/564379/senyuman-duchenne-lebih-indah-daripada-monalisa. Diakses pada 1 Oktober 2018.

[4] Beritagar. Senyum Bukan Tanda Bahagia. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/senyum-bukan-tanda-bahagia. Diakses pada 1Oktober 2018.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar