Analgesik Alternatif dari Nuklir Sebagai Pengganti Morfin Bagi Penderita Kanker

Apa itu kanker?

Kanker adalah pembentukan secara cepat sel-sel abnormal yang tumbuh melampaui batas dan yang kemudian dapat menyerang bagian tubuh lain atau menyebar ke organ lain, nama lainnya adalah tumor ganas atau neoplasma[1]. Pasien yang menderita penyakit kanker stadium lanjut biasanya akan berkembang menjadi penderita kanker tulang metastasis yaitu penyebab utama kematian akibat kanker. Pasien akan mengalami nyeri yang sangat hebat[2].

Terapi paliatif merupakan terapi yang dapat mengurangi rasa sakit pada penderita kanker dengan menggunakan morfin yaitu analgesik yang berasal dari golongan narkotika (opioid). Cara penggunaannya adalah disuntikkan ke otot atau pembuluh darah[3]. Mekanisme kerja morfin adalah berikatan dengan resptor opioid pada SSP (vaskular, jantung, paru-paru, system imun pencernaan), menghambat jalur nyeri, mengubah persepsi dan respon terhadap rasa sakit karena bekerja langsung pada sistem saraf pusat, menghasilkan depresi umum SSP. Morfin dimetabolisme di dalam hati, ekskresinya melalui kemih, empedu dan siklus entrohepatis dan tinja[4]

Karena penggunaan analgesik narkotika/opioid dalam kurun waktu lama menimbulkan efek samping pada peningkatan dosis dan menyebabkan ketergantungan, maka pada tahun 2018, Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka, Badan Tenaga Nuklir Nasional (PTPR Batan) bekerja sama dengan Business Development salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang industri farmasi yaitu Kimia Farma, menciptakan sebuah inovasi baru analgesik radiofarmaka­ yang bernama T-Bone KaeF bagi penderita kanker yang dihasilkan dari senyawa nuklir 153Samarium sebagai pengganti morfin. Sejak tahun 2008 sudah diteliti serta dikembangkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Stand T-bone KaeF di acara Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia 2018

Harga satu dosis T-Bone KaeF cairan injeksi 40-60 mCi,mL, untuk digunakan selama 40 hari adalah Rp. 3.000.000. Secara harga lebih mahal dari obat bius morfin, tetapi lebih aman karena tidak menimbulkan efek ketergantungan, lebih berkhasiat dan meringankan biaya pengobatan yang berulang tentunya[5,6].

Bagimana 153Samarium dihasilkan?

153Samarium dihasilkan dari hasil reaksi aktivasi neutron 40 mg 152Sm-oksida (Sm­2O3) diiradiasi menjadi 153Sm-oksida di dalam Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy Serpong, yang berkapasitas 15MW, dengan aktivitas spesifik tinggi (fluks neutron 1,2543×1014 netron cm-2sec-1, 15 MW selama 120 jam. Hasil iradiasi dilarutkan dengan asam klorida 1N (HCl) dan 3 mL akubides, membentuk 153Sm-klorida. Penandaan EDTMP dengan 153Sm (1 elektron kelebihan dari nuklida Sm berikatan dengan 1 elektron yang belum berpasangan pada atom struktur dasar P-N-P pada molekul EDTMP maka terbentuk senyawa kompleks 153Sm-EDTMP, sambil melepaskan energinya (sinar beta dan gamma) pada proses menuju ke kestabilan (peluruhan megatron beta) dengan waktu paruh 1,95 hari atau 46 jam[2,7]­.

Bagaimana hasil uji klinisnya?

Pemberian injeksi 153Sm-EDTMP dilakukan secara intravena dengan dosis keradioaktifan sebesar 0,5-1,0 mCi/kg berat badan (rata-rata 50 mCi per satu kali penyuntikan). Kemudian dipindai dengan kamera gamma pada seluruh tubuh setelah 24 jam penyuntikan. Uji dilakukan kepada 10 orang pasien penderita kanker tulang metastasis, didapatkan hasil dengan rincian 4 orang merasakan rasa nyeri hilang secara keseluruhan, 5 orang merasakan rasa nyeri berkurang secara bertahap dan 1 orang tidak dapat dinilai efeknya karena tidak ada rasa sakit sebelum pengobatan. Selain itu juga terlihat pengurangan intensitas/jumlah metastasis pada 2 orang pasien dan toksisitas ringan pada 1 orang berupa menurunnya jumlah leukosit yang bersifat reversible/bolak-balik. Serta uji biodistribusi terhadap tikus, dapat dilihat pada tabel 1. aktivitas dari organ darah, hati, ginjal, otot, tulang, lambung dan usus halus dalam bentuk % dosis obat suntik per gram organ menunjukkan bahwa 153Sm-EDTMP terakumulasi lebih tinggi pada tulang dibandingkan organ lunak lainnya  [2,7].

Hasil uji biodistribusi radiofarmaka 153Sm-EDTMP
Dari kanan ke kiri, hasil pencintraan kamera gamma pada tubuh pasien penderita kanker tulang metastasis, pada 2, 24, 48 dan 120 jam setelah pemberian dosis 6mCi/kg 153Sm-EDTMP[8]

153Sm-EDTMP sudah mempunyai izin beredar di pasaran dan digunakan di berberapa rumah sakit karena teruji mampu menggantikan posisi analgesik opioid morfin sebagai zat paliatif dalam pengobatan nyeri kanker tulang metastatis karena menghasilkan partikel beta yang dapat menghambat atau menghentikan pertumbuhan sel kanker tulang metastasis dengan presentase 60-80% dan terhindar dari rasa nyeri satu sampai dua bulan. Produk ini menjadi pelengkap untuk produk radiofarmasi sebelumnya yang telah tersedia di pasaran yaitu Bonescan, Renalscan, Cardioscan, Endoneuroscan.

153Sm-EDTMP sebagai radioterapi untuk penanganan paliatif kanker tulang metastasis telah mendekati kriteria sediaan parenteral yang ideal, dikarenakan sifat-sifatnya antara lain: stabilitas radionuklida 153Sm (sebagai obat) dan EDTMP (sebagai pembawa), senyawa kompleks tersebut cukup stabil/terjaga secara perjalanannya dan secara in-vivo dan tidak menimbulkan toksisitas serta pembawa mencapai jaringan spesifik yang menjadi sasaran (pembawa tidak menuju sel yang bukan sasaran), reprodukisibilitas formulasi, mudah dalam penanganan dan pemberian, karena memberikan paparan radiasi yang tinggi ke bagian meliganan di dalam organ atau jaringan tubuh sel kanker, tetapi membatasi paparan radiasi pada sel sehat di sekitarnya[2]

Referensi :

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Tazkia Qonita Zahra tazkiaqonita@gmail.com

Tazkia Qonita Zahra

Berprofesi sebagai analis kimia lulusan D3 AKA Bogor dan melanjutkan S1 Teknik Lingkungan USAHID Jakarta. Mempunyai minat pada ilmu kimia dan lingkungan.

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar