Pernah “Ketindihan Jin”? Ini Penjelasannya Menurut Sains

Gambar 1. Ilustrasi “Ketindihan Jin” atau Sleep Paralysis (Sumber: scienceoholic.com)

Di Indonesia ada satu mitos yang cukup dikenal di tengah masyarakat yang disebut dengan “Ketindihan Jin” atau di beberapa daerah disebut dengan istilah arep-arep atau areup-areup. Kondisi di mana saat seseorang merasa lumpuh saat tidur meski dirinya merasa telah memiliki kesadaran penuh atas dirinya. Fenomena tersebut seringkali dikaitkan dengan hal-hal mistis dan ghaib, namun ternyata ada penjelasan ilmiahnya.

Dalam dunia ilmiah, fenomena “Ketindihan Jin” disebut dengan kelumpuhan tidur atau Sleep Paralysis. Dijelaskan Dr. Jan Dirk Blom, ahli psychiatry, kondisi itu terjadi saat seseorang masuk ke dalam fase tidur yang paling dalam yaitu tidur REM (Rapid Eye Movement) yang ditandai dengan gerak mata cepat dan bermimpi, sehingga membuat otak menyugesti tubuh untuk relaksasi dan otot-otot dilemaskan oleh alam bawah sadar kita.

Dalam kondisi otot yang lemas, tentu menjadi sangat sulit untuk dapat menggerakan tubuh secara mendadak, butuh kesadaran yang penuh. Hal inilah yang kemudian membuat orang yang sedang tidur kemudian merasa lumpuh mendadak, dan jika tidak disikapi dengan baik, malah membuat panik. Akibatnya, beberapa diantaranya malah merasa tercekik karena kecemasan yang melanda, bahkan ada yang sampai berhalusinasi karena sikap paranoid atas kondisi tersebut. Tentu kondisi itu menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan saat tidur.

Gambar 2. Bagaimana Sleep Paralysis terjadi dalam fase tidur. (Sumber: scienceoholic.com)

Para ahli mengungkapkan bahwa mengapa seseorang sampai mengalami kelumpuhan tidur. Fase tidur yang paling dalam bisa terjadi saat keadaan tubuh seseorang yang sangat lelah atau sangat butuh istirahat, kondisi itulah yang kemudian memicu otak untuk mengistirahatkan tubuh dan merelaksasikannya saat tidur.

Penelitian yang dipimpin Dr. Jan Dirk Blom tersebut telah dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychiatry berjudul “Prevalence Rates of the Incubus Phenomenon: A Systematic Review and Meta-Analysis” dan mengungkapkan bahwa setidaknya 1 dari 10 orang atau sekitar 10 persen dari populasi umum pernah mengalami kelumpuhan tidur setidaknya sekali dalam hidup mereka, jumlah kejadiannya bahkan melebihi dari perkirakan selama ini.

Umumnya, kondisi tersebut banyak dialami oleh mereka dengan usia diantara 20 hingga 30 tahun. Namun tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada mereka yang lebih tua. Namun demikian, ini sebenarnya bukan kasus medis yang serius. Jadi, jika anda tiba-tiba mengalaminya, jangan panik, cobalahnya untuk membangkitkan kesadaran penuh anda dengan perlahan.

Kemudian kata Dr. Blom, dalam kelompok tertentu seperti misalnya orang-orang dengan gangguan jiwa, pelajar dan pengungsi memiliki kemungkinan kelumpuhan tidur yang lebih tinggi hingga 50 persen. Kemudian mereka yang mengkonsumsi alkohol dan tidur terlentang juga memiliki kemungkinan prevalensi atau tingkat kejadian yang lebih tinggi.

Lebih lanjut menurut Dr. Blom, meski kelumpuhan tidur bukanlah kasus medis yang membahayakan, namun penderita kelumpuhan tidur jika tidak mendapatkan perlakuan yang tepat dapat mengembangkan gangguan kejiwaan seperti kecemasan, sulit tidur bahkan delusional.

Hal menarik lainnya mengenai kelumpuhan tidur yang diungkap dalam penelitian tersebut adalah sosok halusinasi yang dipersalahkan saat seseorang mengalami kelumpuhan tidur ternyata berkaitan erat dengan latar belakang budaya seseorang. Seperti misalnya seorang muslim, akan membayangkan dirinya “Ditindih” jin atau setan. Tapi di kasus lain, seorang remaja putri justru melaporkan merasa melihat seekor penguin saat mengalami kelumpuhan tidur, alih-alih takut, ia justru merasa gemas dengan sosok tersebut, yang artinya sosok tersebut hanyalah halusinasi sesuai apa yang mereka pikirkan.

Gambar 3: Ilustrasi Fakta dan Mitos. (Sumber: 123rf.com)

Bagaimana mengatasi sendiri permasalahan “ketindihan jin” tersebut?

Jika tidak punya cukup akses atau waktu untuk berkonsultasi ke ahli, dalam taraf yang ringan mungkin beberapa cara berikut disarankan para ahli untuk mengatasi kondisi tersebut, karena sebenarnya kebanyakan orang tidak terlalu memerlukan perawatan medis untuk mengatasi kelumpuhan tidur. Saran berikut bisa dicoba untuk mengatasinya, kecuali pengidap narkolepsi atau kram kaki hendaknya segera berkonsultasi dengan dokter.

1. Memperbaiki Kebiasaan Tidur

Hal pertama yang bisa dilakukan untuk mengatasi kelumpuhan tidur adalah memperbaiki kebiasaan tidur. Memastikan tidur enam sampai delapan jam setiap malam bisa membantu untuk mendapatkan kualitas tidur yang baik.

Jika sulit mendapatkan siklus tidur yang baik, Anda mungkin bisa menggunakan obat anti depresan dengan pengawasan dokter untuk membantu mengatur siklus tidur.

2. Mengobati Masalah Mental dan Tidak Mengkonsumsi Alkohol

Anda bisa mencoba mengobati masalah mental yang mungkin menjadi salah satu penyebab kelumpuhan tidur. Anda bisa mengkonsultasikannya ke psikolog.

Tapi jika permasalahan mentalmu dipicu oleh minuman beralkohol, sebaiknya segeralah berhenti mengkonsumsi minuman beralkohol.

3. Mengobati Gangguan Tidur Lainnya

Jika kelumpuhan tidurmu disebabkan karena gangguan tidur lainnya seperti narkolepsi atau kram kaki, Anda mungkin sebaiknya mengkonsultasikannya ke dokter untuk mengobati narkolepsi tersebut.

4. Relaksasi Sebelum Tidur dan Berpikir Positif

Untuk memberikan kualitas tidur yang baik maka sudah selayaknya Anda mencoba relaksasi sebelum tidur, mengurasi tingkat stres dan mencoba berpikir positif.

5. Mencoba Posisi Tidur Baru

Anda bisa mencoba posisi tidur yang baru. Jika selama ini tidur dengan terlentang yang memang dilaporkan lebih sering memicu kasus kelumpuhan tidur, mungkin Anda bisa mencoba posisi miring ke kanan yang menurut banyak penelitian merupakan posisi tidur yang baik untuk kesehatan.

6. Berdoa

Bagi umat beragama, apapun agamanya, mungkin anda perlu berdoa sebelum tidur, bukan untuk dikaitkan dengan hal-hal mistis, doa dapat meyakinkan kita bahwa tuhan bersama kita saat tidur, secara psikologi hal itu membantu otak kita berpikir lebih jernih dan tentunya mengurangi stress.

Sekali lagi, sudah saatnya Anda tidak lagi terlalu khawatir jika menjadi salah satu yang mengalami ketindihan. Ini bukanlah kejadian mistis, tidak ada hubungannya dengan jin sama sekali. Anda harus tetap tenang.

Tapi, jika kamu tiba-tiba mengalaminya, cobalah untuk jangan panik, rilekskan tubuh dan yakinkan diri bahwa semua baik-baik saja, cobalahnya untuk membangkitkan kesadaran penuh anda dengan perlahan dan bernafas dengan normal.

 

Referensi

[1] Specktor, Brandon. 2017. Sleep Paralysis Is Linked to Stress (and Supernatural Beliefs). Diakses dari: www.livescience.com/61123-sleep-paralysis-stress-supernatural.html pada 7 Oktober 2018

[2] Molendijk, Marc L. Montagne, Harriët. Bouachmir, Ouarda. Alper, Zeynep. Bervoets, Jan-Pieter. Blom, Jan Dirk. 2017. Prevalence Rates of the Incubus Phenomenon: A Systematic Review and Meta-Analysis. Jurnal Frontiers in Psychiatry. DOI: 10.3389/fpsyt.2017.00253

[3] Mehexdy. 2016. Sleep Paralysis. Diakses dari: http://scienceoholic.com/sleep-paralysis/ pada 7 Oktober 2018

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar