Industri 4.0 – Menakar Kebermanfaatan dan Menjawab Tantangan

Berkenalan dengan Industri 4.0

Adakah kamu merasa kehidupan sehari-hari kita saat ini yang berhubungan dengan teknologi telah mengubah bagaimana kita berkoordinasi? Yang mungkin agak luput dari kesadaran kita adalah bagaimana teknologi kini membentuk perilaku yang tidak sama dengan orang tua kita terdahulu. Misalnya, bagaimana miliaran orang di dunia kini dapat saling terhubung dalam platform-platform sosial media dengan fitur dan kegunaannya yang semakin beragam.

Bersosialisasi melalui Facebook, terhubung secara profesional melalui LinkedIn, semakin beragam dan mudahnya cara komunikasi pribadi maupun kelompok melalui WhatsApp, menonton siaran tunda semakin mudah dengan akses gratis melalui Youtube, memesan beragam menu santap harian atau sekadar kudapan melalui Go-Food, memesan transportasi melalui Grab. Dan kamu mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi platform saat ini yang happening dengan berbagai fitur yang menawarkan kemudahan akses barang/ jasa yang kita nyaman menggunakannya.

Gambar 1. Lingkungan Industri 4.0 [Deloitte AG, 2015]

Disadari maupun tidak, kini kita memasuki era otomasi dimana mesin telah berintegrasi dengan koneksi internet yang ditunjang oleh akses data serba cepat, yang juga mempengaruhi peran kita sebagai produsen, distributor maupun konsumen produk/ jasa. Yap!, selamat berkenalan dengan era Industri 4.0.

Istilah Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan dalam Hannover Fair, Industrie 4.0, di Jerman pada tahun 2011. Sekelompok perwakilan orang dari beragam latar belakang, dari bisnis, politik dan akademisi berkumpul membahas bagaimana  meningkatkan daya saing negara Jerman di bidang industri yang mengacu pada “High-Tech Strategy for 2020”. Industri 4.0 yang diinisiasi tersebut memiliki visi Cyber-Physical Systems, dimana suatu sistem yang berjalan dan didukung oleh teknologi mutakhir terkini, seperti mesin cerdas (smart machines), sistem penyimpanan data (storage systems) dan fasilitas produksi yang selanjutnya meletakkan dasar untuk perkembangan proses di industri, baik di bidang manufaktur, teknik, penggunaan material, rantai penyediaan barang/ jasa dan manajemen siklus hidup [5].

Industri 4.0, di beberapa belahan negara lain memiliki istilah yang lebih populer digunakan untuk memperbincangkan era tersebut, semisal di Amerika Serikat lebih dikenal dengan era “Internet of Things“[2].

Sejak Kapan Industri 4.0 Memasuki Kehidupan Manusia?

Klaus Schwab dalam bukunya yang juga merupakan kompilasi artikel yang ditulis olehnya di weforum.org, berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Schwab menjelaskan pembagian empat era industri berdasarkan teknologi yang berkembang  di masing-masing era.

Gambar 2. Grafik Pembagian Era Industri 1.0 hingga 4.0 [Deloitte AG, 2015]

Dimulai dari Revolusi industri pertama yang terjadi antara tahun 1760 – 1840 yang ditandai dengan penemuan mesin uap dan pembangunan rel kereta api. Revolusi industri kedua yang dimulai pada awal abad ke – 19  sampai memasuki awal abad ke – 20 ditandai dengan mulai maraknya pemasangan instalasi listrik yang memungkinkan berbagai jenis produk dapat diproduksi secara massal. Sementara memasuki tahun 1960-an, era revolusi industri ketiga yang diwarnai dengan perkembangan semikonduktor, digunakannya alat-alat digital dan internet yang mulai digunakan banyak orang di awal tahun 1990-an. Era revolusi industri keempat sendiri, di samping perdebatan kapan dan apa yang menandainya, Schwab mendeskripsikan era revolusi industri keempat sebagai era yang berkembang dari pondasi era revolusi industri ketiga, era yang ditunjang dengan berbagai teknologi mutakhir dan mampu menjangkau serta menyelesaikan tugas di banyak aspek kehidupan manusia [8].

Menakar Kebermanfaatan 

Mari ambil contoh dari beberapa artikel yang terbit di  Warung Sains Teknologi. Sahabat pembaca tentu mendapati beberapa artikel yang membahas beragam teknologi yang berkembang dan memiliki kemampuan melakukan pekerjaan dengan handal, seperti bagaimana  kecerdasan buatan (Artificial intelligence) yang salah satunya diaplikasikan untuk memecahkan kasus hukum dengan performa identifikasi dan mampu mengulas permasalahan kasus lebih handal dari seorang pengacara manusia [1].

Lalu, mulai ramainya pembahasan trend Big Data,  sebagai teknologi penyimpanan data dalam jumlah besar dan mampu melakukan pengolahan data dengan cepat yang menunjang pekerjaan di berbagai sektor bisnis dalam mengumpulkan, menganalisis dan hasilnya kemudian dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan/ kebijakan dalam berbisnis. Selanjutnya aplikasi cyber-physical systems ini juga merambah pada bidang lain yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti bagaimana petani kini memiliki kesempatan untuk menggunakan acuan data dalam mengatur, mengoptimalkan sekaligus melakukan efisiensi produksi pertaniannya.

Masyarakat perkotaan pun memiliki kesempatan menikmati akses layanan barang/ jasa lebih mudah dan cepat, seperti yang penulis sempat paparkan mengenai platform teknologi terkini pada awal artikel ini, dimana ternyata di tingkat pemerintahan, teknologi cerdas dapat dioptimalkan untuk kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, semisal di Kota Barcelona yang sempat ramai menjadi perhatian dan perbincangan dunia akan betapa saat ini teknologi internet telah terintegrasi dengan banyak infrastruktur dan pelayanan pemerintahannya,  setidaknya ada 22 program yang menjadikan Kota Barcelona sebagai salah satu smart city di dunia [4].

Di Indonesia sendiri, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian Indonesia telah mencanangkan 10 strategi prioritas nasional dalam menyiapkan Indonesia menyambut tantangan era Industri 4.0 dengan tiga prioritas utama adalah memperbaiki alur aliran material, mendesain ulang zona industri dan peningkatan kualitas SDM. Lima  sektor industri prioritas dari segi kontribusi terhadap total PDB akan dimaksimalkan dalam upaya menghadapi kompetisi manufaktur di era Industri 4.0.

Gambar 3. 10 Strategi dan Sektor Prioritas Nasional Indonesia di Era Industri 4.0 [Kementerian Perindustrian RI, 2018]

Tidak dapat dipungkiri dengan berkembangnya teknologi dan semakin banyaknya sektor ekonomi-bisnis yang terintegrasi dengan sistem (cyber-physical systems) dan berhubungan langsung dengan kehidupan kita sehari-hari, kemudian memunculkan banyak tanggapan mengenai potensi perubahan yang akan muncul dan eksistensi yang akan hilang seiring dengan perkembangan dan meluasnya pengaruh Industri 4.0.

 

Menjawab Tantangan

Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali, mengemukakan pendapat jika era Industri 4.0 merupakan suatu era disruptif yang akan dirasakan dalam waktu panjang dan menyebabkan banyak sektor industri berbasis teknologi IT akan musnah [7]. Namun, di sisi lain, secara lebih optimis oleh pakar dan pelaku bisnis, Ahmad Faiz Zainuddin, mengemukakan jika era disrupsi yang saat ini banyak dijadikan topik perbincangan sebagai sosok menakutkan di era Industri 4.0, menyatakan jika disrupsi  hanyalah satu fase (fase ketiga) dari enam fase kejadian Exponential Shock yang pasti dihadapi dalam era tantangan dan perubahan yang ditawarkan dalam persaingan Industri 4.0, dimana pada akhirnya, era tantangan dan perubahan ini akan membawa keberlimpahan bagi semua orang [11].

Membahas apa yang akan hilang atau kesempatan apa yang akan datang. Memperdebatkan bagaimana menghadapi perubahan dan pergeseran pola kehidupan. Sebagai manusia, kita pasti akan merasa terancam ataupun tertantang oleh keadaan yang tidak dapat dihindari karena kemajuan bidang sains dan teknologi kini memungkinkan banyak penyesuaian dan hal-hal baru yang mungkin tidak sempat terpikir sebelumnya. Lalu, dimanakah peran kita sebagai makhluk paling sempurna dalam tatanan semesta di era dimana di banyak sektor dapat menggantikan peran kita sebagai pemeran utama roda kehidupan?.

Harapan datang dari mana saja. Rania Al-Abdullah membawa keoptimisan di panggung forum EBRD Annual Meeting and Business Forum Speech dengan menyampaikan pesan sarat motivasi, jika peran dan kesempatan yang mampu kita kreasikan sebagai manusia di era Industri 4.0 akan lebih banyak didominasi oleh sesuatu yang hanya dianugerahkan oleh sang pencipta semesta kepada manusia. Sesuatu itu tidak dimiliki oleh mesin-mesin yang dibekali teknologi cerdas, sesuatu yaitu manusia dengan kecerdasan emosional dan kreativitas nya dalam membuat peluang baru bagi sesama yang tidak dapat dilakukan oleh teknologi mutakhir yang hanya mampu menyelesaikan tugas sudah di desain peruntukannya.

Tidak bisa dielakkan dengan perkembangan sains dan teknologi kini, di sisi lain, juga menimbulkan tantangan baru bagi masyarakat di negara berkembang, seperti Indonesia. Dengan total penduduk usia produktif di tahun 2018 dengan kategori usia 14-64 tahun mencapai 179,13 juta jiwa dari total penduduk 265 juta jiwa [3]. Dengan keadaan tersebut, perekonomian yang digerakkan oleh cyber-physical systems menjadi gagasan yang “tidak ramah” bagi iklim ketenagakerjaan masyarakat Indonesia. Namun, permasalahan yang ada bukan untuk dihindari. Menjadi bagian masyarakat yang proaktif dan keinginan untuk maju bersama, kita pasti mampu menghadapi tantangan yang ada.

Lebih lanjut, mengenai tantangan ketenagakerjaan yang disorot pula oleh Challenge Advisory adalah mengenai keterampilan pekerja [1]. Tentu penyesuaian adalah keharusan seiring banyak pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi hilang dan diambil alih oleh mesin, terutama pekerjaan yang bersifat administratif dan dilakukan oleh seseorang secara repetitif (semisal juru ketik dan kasir). Oleh karenanya, peningkatan keterampilan tenaga kerja perlu dilakukan secara kooperatif melibatkan mulai dari pengambil kebijakan hingga pemilik usaha untuk tetap memberdayakan dan memperkaya tenaga kerja dengan pelatihan dan pengetahuan baru terkini untuk dapat bersinergi menjawab tuntutan pelayanan dan bersama-sama siap menghadapi tantangan perubahan Industri 4.0.

 

 

Sumber:

[1] Challenge Advisory. The Challenges of Industry 4.0/ IIOT. https://www.challenge.org/industry-4-0-3-3/challenges/

[2] Dadang, Wayan. Aplikasi Kecerdasan Buatan dalam Dunia Hukum, Pengacara Kecerdasan Buatan Lebih Cepat  dan Akurat dibanding Pengacara Manusia. https://warstek.com/2018/04/12/hukum/

[3] Databoks. 2018, Jumlah Penduduk Indonesia Mencapai 265 Juta Jiwa. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/05/18/2018-jumlah-penduduk-indonesia-mencapai-265-juta-jiwa

[4] Deliotte AG. Industry 4.0 Challenges and solutions for the digital transformation and use of exponential technologies. 2015.

[5] Dadang, Wayan. Memahami Kecerdasan Buatan berupa Deep Learning dan Machine Learning. https://warstek.com/2018/02/06/deepmachinelearning/

[6] Kurnia, Muhamad Asep. Barcelona 5.0 Smart City. https://warstek.com/2018/05/24/barcelona/

[7] Martin, Industry 4.0: Definiton, Design Principles, Challenges, and the Future of Employment. https://www.cleverism.com/industry-4-0/

[8] Pasinggi’, Eko Suripto. Agriculture 4.0: Revolusi Pertanian Tahap Keempat. https://warstek.com/2018/05/22/agri/

[9] Sam, Nurandini Alya. Rhenald Kasali: Disrupsi Akan Semakin Kuat. https://ekonomi.kompas.com/read/2017/12/07/051800626/rhenald-kasali–disrupsi-akan-semakin-kuat

[10] Schwab, Klaus. The Fourth Industrial Revolution. 2016. World Economic Forum

[11] Queen Rania. EBRD Annual Meeting and Business Forum Speech. Youtube.

[12] World Economic Forum. The Fourth Industrial Revolution | At a glance (Subtitled). Youtube.

[13] Zainuddin, Ahmad Faiz. Era Disrupsi atau Era Kreasi?. https://warstek.com/2017/12/08/erakreasi1/

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Nailul Izzah

Nailul Izzah

Pembelajar | Penikmat kopi | DIII Teknik Kimia Undip Alumni | Semarang | nailul.izzah91@gmail.com

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar