Tahukah Kamu ? Awalnya Panda Merupakan Karnivora dan Tidak Makan Bambu

Bagikan Artikel ini di:

Siapa sih yang tak tahu panda? Pasti semua orang tahu hewan lucu asal Negeri Tiongkok ini. Hewan lucu dengan bulatan berwarna hitam di matanya dan bertubuh gembul ini kita ketahui suka sekali memakan bambu. Setidaknya panda membutuhkan kurang lebih 12,5 kilogram bambu setiap hari dan menghabiskan waktu setidaknya 14 jam sehari untuk makan bambu [1]. Namun tahukah kamu bahwa hewan mamalia ini sebenarnya tidak memakan bambu?

Hasil studi dari America Society for Microbiology, mBio, menunjukkan bahwa pada pencernaan panda terdapat bakteri Streptococcus dan Escherichia atau Shigella yang biasa ditemukan pada sistem pencernaan hewan karnivora [1] dan tidak terdiri dari bakteri penghancur tanaman seperti Ruminococcaceae dan Bacteroides. Lantas mengapa panda memakan bambu? Panda raksasa (Ailuropoda melanoleuca) yang kita kenal saat ini sebenarnya berevolusi dari beruang – beruang pemakan daging dan tumbuhan. Menurut para peneliti, panda raksasa kuno mulai memakan bambu kemungkinan sekitar tujuh juta tahun yang lalu, tetapi kemudian mulai memakan bambu ekslusif sejak dua tahun yang lalu [1]. Panda tidak dipaksa untuk menjadi herbivora melainkan berevolusi dari jenis beruang pemakan daging. Namun saat ini belum diketahui penyebab beruang berevolusi.

Banyak orang berpikiran bahwa panda yang kita kenal saat ini adalah herbivora. Justru sebaliknya, hewan bertingkah lucu ini secara resmi diklasifikasikan sebagai karnivora. Meskipun panda raksasa memiliki dinding yang lebih tebal di esofagusnya untuk melindunginya dari serpihan, usus panda terlalu pendek untuk mencerna bambu seperti yang dilakukan herbivora yang lain [4]. Dengan kata lain, meskipun panda memiliki pola makan seperti herbivora, bagian dalamnya lebih mirip karnivora.

Meskipun secara taksonomi (cabang ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup) ia adalah karnivora dan makanannya sebagian besar tumbuh – tumbuhan, hampir hanya bambu saja. Namun, panda juga bisa disebut omnivora, karena mereka juga makan telur dan serangga – serangga kecil. Kedua makanan ini adalah sumber protein yang diperlukan panda [5].

Menurut Dr. Zhihe, ilmuwan dari Pusat Penelitian Pengembangbiakan Panda Raksasa di Chengdu, Tiongkok mengatakan “Tidak seperti binatang lain yang makan tanaman yang sudah berhasil berevolusi secara anatomi dalam hal sistem pencernaan, khususnya untuk secara efektif mendekonstruksi tanaman berserat, panda raksasa masih memiliki saluran gastrointestinal yang biasanya dimiliki hewan karnivora” [3].

Baca juga:

Panda Raksasa juga masih bersaudara dengan Panda Merah, mereka dinamai mirip karena kebiasaan mereka memakan bambu. Selama puluhan tahun klasifikasi taksonomi panda yang tepat diperdebatkan karena Panda Raksasa maupun Panda Merah memiliki ciri – ciri seperti beruang dan rakun. Namun, pengujian genetika mengungkapkan bahwa Panda Raksasa adalah beruang sejati dan termasuk keluarga Ursidae. Namun, masih diperdebatkan apakah Panda Merah termasuk keluarga Ursidae atau keluarga rakun, Procyonidae [5].

Binatang bernama latin Ailuropoda melanoleuca ini memiliki perilaku hidup yang lamban dan pemalas, bahkan lebih malas dari koala serta memiliki metabolisme yang rendah. Hasil penelitian dari Institut Zoologi di Bejing mengungkapkan bahwa panda hanya mengeluarkan 38% energinya dibandingkan satwa lain yang berukuran sama [2]. Ilmuwan Tiongkok pernah mengukur energi yang dihabiskan seekor panda di Kebun Binatang Beijing dengan cara menyuntikkan air yang mengandung isotop dan oksigen. Hasilnya, panda ternyata menghabiskan rata – rata 4,6 Megajoule energi perhari setara dengan membakar 1.100 Kilokalori. Terbilang rendah untuk golongan hewan bertubuh besar. Hasil penelitian ini dipublish di jurnal Science. Di kebun binatang, panda diberi makan potongan bambu dan makanan lain sebagai nutrisi tambahan seperti, berbagai macam buah – buahan dan kue yang terdiri dari tepung jagung, beras, kedelai, telur ayam.

Saat ini status panda tidak lagi masuk dalam daftar spesies yang terancam punah, menyusul upaya penyelamatan oleh kelompok pelestari lingkungan Tiongkok selama puluhan tahun. Status hewan yang disayangi masyarakat ini berubah dari “terancam” menjadi “rentan” karena populasinya yang tumbuh kembali di tiongkok. Upaya pemerintah tiongkok berhasil menyelamatkan spesies panda raksasa dari kepunahan.

Laporan IUCN (International Union for Conservation of Nature) dalam satu dekade hingga tahun 2014, populasi panda raksasa meningkat hingga 17 persen, dan saat ini diperkirakan terdapat 1.864 panda dewasa di alam liar di Tingkok. Perkiraan tersebut membawa total angka populasi yang mencapai sekitar 2.060 ekor [6]. Langkah yang dilakukan pemerintah Tiongkok untuk meningkatkan penyelamatan hutan dan jumlah habitat untuk panda sangatlah efektif.

Referensi :

[1]. ketahui.com. Inilah Fakta Sebenarnya Dibalik Panda Memakan Bambu. Diakses pada 5 September 2018.

[2]. cnnindonesia.com. Terungkap Rahasia Panda Bisa Hidup Hanya Makan Bambu. Diakses pada 5 September 2018.

[3]. bbc.com. Bambu tidak cocok untuk usus panda raksasa. Diakses pada 5 September 2018.

[4]. sassafrasscience.com. Are Giant Pandas Herbivores Or Carnivores?. Diakses pada 5 September 2018.

[5]. id.wikipedia.org. Panda. Diakses pada 5 September 2018.

[6]. nationalgeographic.grid.id. Tiongkok dan Keberhasilan Mengeluarkan Panda dari Status Terancam Punah. Diakses pada 26 Oktober 2018.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan