Nursaka, Potret Anak Perbatasan Indonesia-Malaysia yang Dapat Menata Motivasimu

Bagikan Artikel ini di:

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. (KOMPAS.com)

Nursaka, anak 8 tahun yang setiap harinya harus melintasi dua negara agar dapat bersekolah. Anak dari pasangan Sudarsono dan Julini ini berdomisili di Tebedu, Serawak, Malaysia. Keluarga  kecil yang merupakan warga negara Indonesia tersebut tinggal di Malaysia. Sang ayah mengaku anaknya lebih baik disekolahkan di Entikong karena kemudahan untuk mendapatkan akses pendidikan seperti warga Indonesia lainnya.

Bocah SD kelas 3 ini akrab dipanggil Saka. Setiap jam 05.30 pagi, ia memulai aktifitasnya. Setelah siap, Sudarsono mengantarnya menuju ke tempat angkutan yang biasa dinaikinya setiap hari.

Sesampainya di perbatasan Malaysia-Indonesia dengan berjalan kaki, Saka melintasi pos lintas batas antar kedua negara. Saka taat aturan. Ia membawa dokumen administrasi yang lengkap mulai dari Paspor sampai Kartu Pas Lintas Batas. Khusus PLB, dokumen tersebut hanya bisa dimiliki oleh warga yang tinggal di perbatasan yang sudah ditentukan sesuai kesepakatan bilateral antara Indonesia dan Malaysia melalui kebijakan Sosek Malindo.

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Setiap hari, dia harus terus membawa pas batas negara dan melintasi Imigrasi. (KOMPAS.com)

Satu per satu tempat pemeriksaan dilewatinya. Keluar dari pos Entikong, Ibu Emi, tukang ojek yang biasa mengantar Saka ke sekolah sudah menunggu di pintu keluar pos. Diantarlah Saka ke sekolahnya di SDN 03 Sontas, Kecamatan Entikong.

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. (KOMPAS.com)

Baca juga:

Di dalam kelas Saka terbilang anak yang pendiam, namun Saka tidak pernah canggung jika diminta guru untuk maju mengerjakan soal di papan tulis. Halijah, kepala sekolah SDN 03 Sontas mengatakan “Karena jarak yang ditempuh Saka cukup jauh, anak ini biasa terlambat sampai sekolah. Meski terlambat, Saka tetap mengikuti proses belajar mengajar seperti biasanya. Di kelas dia lumayan pintar,” kata Halijah.

Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Di luar jam sekolah, Nursaka membantu ayahnya mengumpulkan kaleng bekas atau merawat ayam peliharaan. (KOMPAS.com)

Sepulang sekolah, Saka biasanya membantu orang tuanya seperti memberi pakan ternak ayam dan bebek yang dipelihara sang ayah. Ia juga membantu memetik hasil kebun seperti lada, cabai, gambas, dan lainnya. Untuk menambah penghasilan keluarga, tak jarang Saka mencari kaleng alumunium di pinggir jalan dan di sekitar rumah makan yang ada di Tebedu.

Saat petang menjelang, seperti pada umumnya anak-anak lain, Saka kumpul bersama keluarga dan makan malam bersama. Setelah Nurman, adik bungsunya tidur, barulah Saka belajar ditemani sang ibu.Begitulah aktifitas Nursaka setiap harinya,  bersemangat tinggi untuk menuntut ilmu meski melintasi dua negara setiap hari. Bocah ini punya cita-cita mulia dengan menjadi dokter gigi.

Bagaimana sahabat Warstek? Cukup menginspirasi bukan, kisah bocah kecil bernama Saka ini?

Referensi :

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan