Penelitian yang Membahas tentang Sinergisme antara Media Sosial, Kinerja sekolah, dan Pembelajaran siswa

Bagikan Artikel ini di:

Sejak abad milenium, bukan hanya orang dewasa, melainkan anak-anak pun mulai mengenal alat komunikasi. Seiring dengan perkembangan teknologi, anak-anak pun mengenal media sosial pada aplikasi dalam alat komunikasi sehingga masa sekolah mereka turut dipengaruhi oleh keberadaan media sosial.

Penggunaan media sosial yang berimbas pada anak-anak tidak dapat dihindari. Selama usia kanak-kanak, rasa ingin tahu mereka tinggi sehingga mereka tertarik untuk mencoba berbagai hal baru, salah satunya bermain dengan alat komunikasi orang dewasa. Anak-anak akan menekan tombol-tombol tertentu sehingga aplikasi media sosial dapat terbuka. Media sosial terlihat menyenangkan bagi anak-anak karena media sosial berisi foto, gambar, animasi, kartun, motion graphic, video, dan tulisan. Media sosial pun sarat akan informasi yang dibutuhkan oleh anak. Jawaban dari pertanyaan sang anak yang tidak mampu dijawab oleh orang tua atau wali dapat dicari secara langsung oleh anak di media sosial. Media sosial memiliki berbagai fungsi, salah satunya adalah sebagai jejaring sosial[1].

Media sosial ialah sekumpulan situs web dan sistem berbasis web yang dimanfaatkan untuk saling berinteraksi, bercakap-cakap, dan berbagi dengan anggota lainnya dalam suatu jaringan[2]. Peningkatan penggunaan media sosial sebagai media komunikasi sejalan dengan semakin tingginya jenjang pendidikan seseorang[3]. Media sosial turut memperbaiki kemampuan percakapan siswa[4]. Membagikan informasi di media sosial sangat penting di zaman sekarang seiring dengan peningkatan pemahaman tentang konsep pekerjaan terintegrasi atau pembelajaran kolaboratif di penjuru dunia[1]. Media sosial yang dimaksud ialah Facebook, Twitter, Instagram, Snapchat, WhatsApp, YouTube, Wikipedia, blog, email, dan lainnya.

Artikel ini akan membahas penelitian tentang hubungan timbal balik antara jejaring sosial, kinerja sekolah, dan pembelajaran siswa. Hubungan timbal balik yang dimaksud ialah antar elemen saling mempengaruhi dan dipengaruhi, misalnya jejaring sosial mempengaruhi pembelajaran siswa dan jejaring sosial dipengaruhi oleh pembelajaran siswa. Negara tempat penelitian ini berlangsung, yakni Uni Emirat Arab, merupakan salah satu dari beberapa negara yang menjadi konsumen media sosial terbesar di dunia[5]. Akses internet mudah ditemukan sehingga sebagian penduduk terdorong menggunakan media sosial yang notabane membutuhkan jaringan internet. Facebook, Twitter, dan Instagram merupakan media sosial yang paling digandrungi, lalu disusul oleh Snapchat yang sangat populer dikalangan kawula muda. Mereka memakai media sosial untuk terhubung dengan para kerabat dan teman serta belajar. 91,7% dari 31.000an anak yang disurvei memiliki akses internet di rumah[6] sehingga orang tua mengeluhkan anak-anaknya semakin mengabaikan belajar harian, penyelesaian tugas sekolah, bahkan berkomunikasi dengan anggota keluarga[7].

Persepsi anak tentang kinerja sekolah serta alasan penggunaan, sikap, pencapaian anak, efek, dan aspek negatif pada jejaring sosial dibentuk untuk menyusun dasar dari bangunan model[8]. Persepsi terhadap kinerja sekolah dikaitkan dengan rata-rata nilai rapor dari tahun akademik terakhir. Apa yang telah dicapai siswa selama menggunakan jejaring sosial didasari oleh penggunaan jejaring sosial selama 12 bulan terakhir. Survei dilakukan secara online dengan mengirim surel kepada siswa yang berisi tautan. Mayoritas siswa berasal dari Abu Dhabi, sedangkan sisanya yakni Al Ain dan Gharbia. Siswa berasal dari jenjang kelas 3 (9 tahun) hingga kelas 12 (18 tahun).

Model pengukuran divalidasi melalui analisis penjelas faktor (exploratory factor analysis/EFA) agar model dapat dijadikan sebagai pondasi model persamaan struktural (Structural Equation Model/SEM). Model pengukuran berisi bangunan-bangunan yang menunjukkan hubungan antara suatu indikator yang dapat diamati dan variabel laten (variabel yang tidak dapat diamati). Setelah proses validasi, model persamaan struktural dapat dibangun dari hubungan antar variabel laten. Selanjutnya setiap bangunan diuji dengan analisis persetujuan faktor (confirmatory factor analysis/CFA).

Sikap siswa yang menggunakan jejaring sosial untuk berkomunikasi berkaitan erat dengan sikap siswa yang memakai jejaring sosial untuk belajar. Berkomunikasi di jejaring sosial membuka kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi secara online sehingga kinerja sekolah meningkat. Alasan siswa menggunakan jejaring sosial dan sikap siswa untuk belajar dari jejaring sosial meningkatkan kinerja sekolah. Mayoritas siswa menggunakan jejaring sosial untuk terhubung dengan keluarga dan teman sehingga besarnya pengaruh dan pengawasan dari orang-orang terdekat diperkirakan turut mendongkrak kinerja sekolah siswa. Melalui jejaring sosial, siswa tidak hanya belajar tentang materi dari sekolah, melainkan kepedulian siswa terhadap keberagaman manusia, budaya, dan pendapat meningkat serta mereka semakin memahami isu dan berita yang hangat dibicarakan sehingga wawasan mereka semakin luas. Efek negatif dari penggunaan jejaring sosial muncul jika siswa melihat konten negatif di jejaring sosial (melihat luka fisik, menemukan obat-obatan terlarang, dan tindakan bunuh diri) sehingga kinerja sekolah menurun. Tidak hanya melihat konten negatif, ketidakmampuan siswa untuk membatasi waktu penggunaan jejaring sosial dan sedikitnya waktu yang dialokasikan untuk mengerjakan tugas sekolah turut menurunkan kinerja sekolah.

Gambar 1. Berbagai hubungan dan parameter dalam model persamaan struktural (SEM) sederhana

(Sumber: Badri dkk., 2017)

Topik-topik yang bertebaran di jejaring sosial memiliki pengaruh besar terhadap dampak penggunaan jejaring sosial. Jika topik yang dibaca di jejaring sosial berkaitan dengan tema negatif, kinerja siswa di sekolah dipastikan menurun karena siswa terpengaruh oleh topik tersebut saat bersekolah. Tidak hanya topik, kegiatan yang dilakukan di jejaring sosial, sikap siswa terhadap jejaring sosial untuk berkomunikasi, dan sikap siswa terhadap jejaring sosial untuk belajar pun mempengaruhi dampak yang ditimbulkan dari penggunaan jejaring sosial, namun tidak sebesar pengaruh topik.

Baca juga:

Gambar 2. Berbagai hubungan dan parameter dalam SEM yang diperluas

(Sumber: Badri dkk., 2017)

Pelaksanaan sekolah mempengaruhi tiga hal, secara berurutan dari yang tertinggi yakni dampak jejaring sosial, alasan penggunaan jejaring sosial, dan sikap belajar dari jejaring sosial. Contoh pengaruh ini dapat dilihat dari siswa yang baik atau terkadang disebut sebagai siswa teladan. Siswa teladan memiliki pengaruh untuk membuat jejaring sosial berefek pada kehidupan mereka karena manusia membutuhkan persepsi diri (self-perceived). Semakin tinggi persepsi diri mereka maka semakin tinggi persepsi mereka tentang dampak negatif jejaring sosial dari segi kesehatan, perilaku, dll., sehingga mereka menggunakan jejaring sosial untuk keperluan belajar. Selain itu, efek jejaring sosial berasal dari aktivitas, topik, sikap berkomunikasi, dan sikap belajar di jejaring sosial serta kinerja sekolah.

Gambar 3. Berbagai hubungan dan parameter dalam SEM efek timbal balik

(Sumber: Badri dkk., 2017)

Seluruh model memperlihatkan bahwa kinerja sekolah meningkat berdasarkan sikap siswa untuk belajar dari jejaring sosial, namun kinerja sekolah menurun jika siswa termakan dampak negatif dari penggunaan jejaring sosial. Penggunaan jejaring sosial bagaikan dua sisi koin, yaitu digunakan secara baik atau tidak. Penggunaan yang baik akan berbuah manfaat bagi siswa, yaitu peningkatan kinerja sekolah dan berujung pada peningkatan prestasi di sekolah. Penggunaan yang tidak semestinya tentunya berakibat buruk pada kinerja akademis siswa. Kini pilihan berada di tangan siswa, menggunakan jejaring sosial sebagai penunjang atau sampingan dari kegiatan belajar. Meskipun hasil pembelajaran dipengaruhi oleh pilihan siswa terhadap situasi (jejaring media sosial dan partisipasinya) dan teman sebaya (jaringan pertemanan)[9], siswa dapat membuat keputusan yang benar pada penggunaan sosial media untuk menunjang kegiatan akademiknya.

Kini teknologi memegang peranan penting dalam kehidupan sehingga para guru dan orang tua hendaknya menyikapi penggunaan jejaring sosial oleh anak secara bijak. Sekolah sebaiknya mendorong para guru untuk mengintegrasikan media sosial dengan kelas dan pekerjaan rumah (PR) siswa. Proses tersebut memudahkan guru untuk mengingatkan siswa tentang PR dan melontarkan berbagai ide untuk memancing diskusi[8]. Akan lebih mudah bagi guru yang melek teknologi untuk berinteraksi dengan siswa demi peningkatan kualitas penyampaian materi dengan cara yang inovatif dan mengakomodasi orientasi mengajar yang baru, dimana gaya pembelajaran menjadi diarahkan oleh siswa (student-directed)[10]. Orang tua dapat mempelajari program dan aplikasi media sosial yang digunakan anak, menjadi teman mereka di media sosial, dan menunjukkan ketertarikan pada dunia online mereka[11] agar anak terarah untuk mengakses informasi yang berkaitan dengan kegiatan sekolah demi peningkatan prestasi akademisnya.

Referensi:

[1]Ali, M., Yacoob, R.A.I.B.R., Endut, M.N.A.B.,  dan Langove, N.U. (2017). Strengthening the academic usage of social media: An exploratory study. Journal of King Saud University – Computer and Information Sciences, 29(-), 554-561. doi: 10.1016/j.jksuci.2016.10.002

[2]Murphy, J., Link, M.W., Childs, J.H., Tesfaye, C.L., Dean, E., Stern, M., Pasek, J., Cohen, J., Callegaro, M., dan Harwood, P. (2014). Social media in public opinion research: Executive summary of the aapor task force on emerging technologies in public opinion research. Public Opinion Quarterly, 78(4), 788-794. doi: 10.1093/poq/nfu053

[3]Chai-Lee, G. (2013). The Use of Social Media in Education: A Perspective. 2nd International Higher Education Teaching and Learning Conference 2013. Sarawak, Malaysia. Diambil dari http://www.curtin.edu.my/tl2013/PDF/The Use of Social Media in Education_ APerspective.pdf.

[4]Al-rahimi, W.M., Othman, M.S., dan Musa, M.A. (2013). Using TAM model to measure the use of social media for collaborative learning. International Journal of Engineering Trends Technology, 5(2), 90–95. ISSN:2231-5381. Diambil dari www.ijettjournal.org.

[5]Anonim. (2016, 22 Maret). Latest Social Media Statistics in the UAE for 2016. Clouds-Media. (2016). Diambil dari http://uae.cloudsonline.net/blog/latest-social-media-statistics-in-the-uae-for-2016

[6]Badri, M., Alnuaimi, A., Guang, Y., Al Rashedi, A., Temsah, K. (2016). School children’s use of digital devices, social media and parental knowledge and involvement – the case of Abu Dhabi. Education and Information Technologies, 22(5), 2645-2664. doi: 10.1007/s10639-016-9557-y

[7]Al Sayigh, F.H. (2013, 26 Juni). The Impact of Social Media on UAE Society. Diambil dari http://www.ecssr.ac.ae/ECSSR/print/ft.jsp?lang=en&ftId=/FeatureTopic/Fatma-AlSayegh/FeatureTopic_1698.xml.

[8]Badri, M., Al Nuaimi, A., Guang, Y., dan Al-Rashedi, A. (2017). School performance, social networking effects, and learning of school children: Evidence of reciprocal relationships in Abu Dhabi. Telematics and Informatics, 34(8), 1433-1444. doi: 10.1016/j.tele.2017.06.006

[9]Bandura, A. (1997). Self-efficacy, the exercise of control. New York: W. H. Freeman and Company.

[10]Blair, R., dan Tina M. Serafini. (2014). Integration of education: using social media networks to engage students. System Cybernetworking Information, 12(6), 28–31. Diambil dari http://www.iiisci.org/journal/CV$/sci/pdfs/HA312LG14.pdf

[11]Caring For Kids. (2018). Social media: what parents should know: Selebaran. Kanada: Canadian Paediatric Society.

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan