Fakta Air Murni Yang Bisa Menyebabkan Kematian, Tetapi Kok Banyak Dijual?

Fakta Air Murni Yang Bisa Menyebabkan Kematian, Tetapi Kok Banyak Dijual?
Bagikan Artikel ini di:

Gambar 1: Ilustrasi seorang perempuan minum air (Sumber: shutterstock.com)

Ada banyak perusahaan air minum di seluruh dunia yang menyematkan kata ‘murni’ dalam produk air minum dalam kemasan mereka, termasuk di Indonesia. Air murni berbeda dengan air alkali, air dengan pH di atas 7 yang belakangan juga marak dipromosikan sebagai air minum yang baik untuk kesehatan. Sepertinya kata murni digunakan untuk menggambarkan bahwa air yang mereka jual itu bersih, jernih, alami dan menyegarkan. Tapi sebenarnya penggunaan istilah murni atau branding “air murni” untuk air minum merupakan suatu hal keliru.

Fakta sebenarnya adalah air murni itu tidak bisa diminum dan justru membuat sakit, lemas dalam sekejap bahkan menyebabkan kematian. Air murni itu bukanlah air yang menyegarkan dan sama sekali tidak layak diminum oleh manusia karena dapat menyebabkan tubuh kehilangan mineral dan ion dengan cepat.

Lantas mengapa banyak air minum kemasan yang menggunakan label air murni? Nah inilah yang dimaksud dengan pemahaman yang salah yang disampaikan ke masyarakat, karena sebenarnya air minum kemasan yang dijual itu bukan air murni. Definisi air murni adalah air yang hanya terdiri dari molekul air dengan 2 atom H dan 1 atom O, sedangkan air minum kemasan yang banyak dijual dengan istilah “murni” itu adalah air dengan kandungan sedikit mineral, sedikit garam, bahkan mungkin sedikit gula.

Sebagai contoh salah satu penelitian di Amerika, hasil analisis tahun 2001 yang telah diterbitkan dalam Journal of General Internal Medicine, air minum di kawasan Amerika utara ternyata mengandung kadar Ca2+, Mg+ dan Na+ yang tinggi dan dapat memberikan porsi yang penting secara klinis dari kebutuhan mineral dan ion tubuh.

Hal yang sama juga terjadi dengan air-air minum di belahan dunia manapun, termasuk Indonesia. Air yang kita minum adalah air yang mengandung mineral dan ion yang penting bagi tubuh. Air hujan ketika masuk ke tanah dan menjadi air tanah adalah air yang baik karena dengan cepat menyerap mineral tanah dan sangat baik bagi tubuh.

Mengapa air murni tidak dapat diminum?

Gambar 2: Air murni justru bisa berbahaya bagi manusia, bahkan bisa menyebabkan kematian (Sumber: baomoi.com)

Menurut laporan yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), air demineralisasi atau air dengan kadar mineral terlalu rendah tidak dianggap sebagai air minum yang ideal, dan oleh karena itu, mengkonsumsi air tersebut mungkin tidak menyediakan kecukupan mineral yang memadai bagi tubuh manusia karena hilangnya beberapa mineral bermanfaat.

Kemungkinan konsekuensi buruk dari konsumsi air dengan kadar mineral rendah menurut laporan WHO adalah sebagai berikut:
• Efek langsung pada membran mukosa usus, metabolisme dan keseimbangan mineral dalam tubuh atau fungsi tubuh lainnya.
• Kecukupan kalsium rendah.
• Rendahnya asupan elemen-elemen penting dan mikro.
• Kehilangan kalsium, magnesium, dan unsur-unsur penting lainnya dalam makanan olahan.
• Kemungkinan peningkatan asupan makanan dari logam beracun.

Tapi dalam laporan itu juga disebut bahwa air mineral dengan kandungan yang sangat tinggi juga tidak baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, laporan WHO itu mendefinisikan bahwa kadar terlarut mineral dalam air adalah minimal 100 bagian part per million (ppm) atau mg/liter dan maksimal 500 ppm, air destilasi atau air murni memiliki kandungan terlarut di bawah 50 ppm. WHO merekomendasikan kadar kalsium, magnesium, dan kesadahan air berikut ini harus terpenuhi untuk air minum.

• Untuk magnesium, minimal 10 ppm dan maksimal sekitar 20-30 ppm
• Untuk kalsium, minimal 20 ppm dan maksimal sekitar 50 (40-80) ppm
• Untuk kesadahan air total, jumlah kalsium dan magnesium harus 2 sampai 4 mmol/l

Gambar 3: Setiap molekul air dapat membentuk 4 ikatan hidrogen dengan molekul disekitarnya (Sumber: pinterest.com)

Sementara itu May Nyman, seorang profesor kimia di Oregon State University, mengatakan bahwa air murni dengan bentuk struktur kimia air (H2O) yang unik seperti telinga Micky Mouse dapat mengikat ion dan mineral di sekelilingnya dengan cepat, air murni sangat mudah melarutkan zat lain. Dengan inti hidrogen dan 2 atom O di kedua ujungnya yang memiliki muatan elektron yang berbeda, akan menarik sebagian besar atom yang ada di sekelilingnya.

Air murni, jika masuk ke tubuh, maka akan dengan cepat menyerap ion-ion yang ada di tubuh kita. Alih-alih bisa merasakan kesegaran karena minum air murni, kita justru akan menjadi lemas dengan cepat. Bahkan jika diminum berlebihan, maka air murni justru bisa menyebabkan kematian.

Air murni mirip seperti vakum cair yang dapat menyerap ion mineral, elektrolit dan zat-zat lainnya. Seperti dilaporkan oleh Fast Company, air yang mendekati kemurnian sangat penting dalam proses pembuatan semi konduktor, mikrochip dan peralat elektronik kecil lainnya. Digunakan sebagai pelarut, atau pembersih kotoran karena sifatnya yang seperti vakum dan dapat melarutkan apapun.

Meski demikian, air yang mendekati kemurnian yang digunakan dalam skala laboratorium pun sebenarnya bukan air murni, air murni hampir mustahil didapatkan karena sifat struktur kimianya yang mudah mengikat zat lainnya. Jadi air murni itu sebenarnya tidak ada.

Apakah air murni itu ada?

Baca juga:

Gambar 4: Air Destilasi yang diperuntukan bagi penggunaan di laboratorium (Sumber: amazon.co.uk)

Menurut May Nyman, air murni hampir tidak mungkin ditemukan atau dibuat. Karena air murni akan sangat cepat menyerap zat apapun yang ada di sekitarnya. Jikapun ada ilmuwan yang berhasil membuat air murni dalam keadaan vakum, maka ketika air itu berada dalam keadaan normal, akan dengan cepat menjadi tidak murni karena sifatnya yang sangat mudah mengikat dan melarutkan zat lain. Ia lebih memilih menyebut air murni itu tidak ada, tidak nyata.

Tapi dalam skala laboratorium, air dalam bentuk paling murni -dengan kandungan terlarut di bawah 50 mg/l- yang bisa diketahui dan banyak diproduksi, disebut sebagai air destilasi dan air deionisasi. Air destilasi adalah air yang dibuat dengan memanaskan air hingga kemudian uapnya ditampung dengan wadah khusus yang mengubahnya kembali menjadi air, sehingga pengotor dan mineralnya tertinggal karena tidak ikut menguap. Sedangkan air deionisasi adalah air yang dimurnikan dengan menghilangkan ion-ionya seperti Cu2+, Ca2+, dan Mg2+ tapi air deionisasi belum tentu bebas dari mineral dan pengotor lainnya.

Air-air itu memiliki banyak kegunaan di laboratorium, dari pelarut hingga pembersih perangkat elektronik karena sifatnya yang mudah melarutkan. Air destilasi dan deionisasi itu tidak disarankan untuk diminum karena akan mengikat mineral dan ion di dalam tubuh, meski ada beberapa terapi khusus yang menggunakannya namun dengan kontrol ketat karena bisa membahayakan.

Sementara itu, dalam sebuah laporan ilmiah menyebutkan bahwa air paling murni dari sumber alami di dunia dapat ditemukan di perairan segar di Puerto Williams di Chile selatan. Tim ilmuwan dari the University of North Texas (UNT), University of Magallanes and Institute of Ecology and Biodiversity of the University of Chile telah menganalisis sampel air yang telah diambil selama lebih dari 10 hari dari beberapa saluran air alami di dekat Puerto Williams.

Hasilnya, Dr. Guido F Verbeck, peneliti utama yang juga direktur laboratorium Mass Spectrometry Imaging mengatakan bahwa para peneliti menyimpulkan bahwa perairan di sana bersih, perairan yang paling murni di planet bumi. Bisa jadi maksud dari penemuan tersebut adalah, air dengan kondisi yang paling mendekati kemurnian dibandingkan air lain yang ada di seluruh dunia.

Penelitian yang mereka lakukan, katanya lebih lanjut, bahkan dapat mendeteksi hingga dua bagian per juta (ppm) dari air yang menjadi sampel dengan instrumen canggih yang mereka miliki. Dan, dari hasil identifikasi itu, tim ilmuwan tidak menemukan kandungan apapun, sangat murni.

Selain itu, para peneliti juga mengumpulkan banyak literatur untuk membandingkan hasil penelitian tersebut dengan dokumentasi air di banyak tempat lain di seluruh dunia. Menurut para peneliti, mereka sama sekali tidak menemukan catatan dari situs lain di seluruh dunia dengan air yang lebih murni dari air yang ada ditempat itu.

Para peneliti mengatakan bahwa penelitian ini sangat penting bagi dunia karena air adalah salah satu senyawa paling penting di dunia karena kelangkaannya. Penemuan ini dapat menempatkan Cagar Biosfer Cape Horn, salah satu daerah hutan belantara terakhir yang tersisa di dunia, sebagai laboratorium alami.

Peneliti juga menjelaskan, faktor yang mungkin membuat air di lokasi tersebut sangat murni adalah karena faktor geografis, dengan lokasi 55 derajat lintang selatan, jauh dari arus udara yang dapat membawa polutan hasil industri yang mungkin muncul dari belahan bumi bagian utara.

Air di sana, lanjut peneliti adalah kondisi yang sangat langka, dari seluruh air yang ada di seluruh dunia, hanya ada sekitar 0,003 persen air yang tidak tercemar dan itu berada di kota yang dijuluki kota paling selatan di dunia itu.

Referensi
[1] Laguipo, Angela. 2015. This Is Where The World’s Purest Water Can Be Found. Diakses dari: https://www.techtimes.com/articles/119774/20151229/this-is-where-the-worlds-purest-water-can-be-found.htm pada 1 Januari 2018
[2] Faletto, Joanie. 2017. You Should Not Drink Ultra-Pure Water — It’s Dangerous. Diakses dari: https://curiosity.com/topics/you-should-not-drink-ultra-pure-water-its-dangerous-curiosity/ pada 1 Januari 2018
[3] Letzter, Rafi. 2017. Does Pure Water Exist?. Diakses dari: https://www.livescience.com/61302-does-pure-water-exist.html pada 1 Januari 2018

[4] Anwardah. 2017. Perbedaan Air suling (aquadest) dan Air deionisasi. Diakses dari: https://sainskimia.com/perbedaan-air-suling-aquadest-dan-air-deionisasi/ pada 1 Januari 2018

[5] Kozisek, Frantisek. 2006. Health Risk From Drinking Demineralised Water. Diakses dari https://www.who.int/water_sanitation_health/dwq/nutrientschap12.pdf pada 2 Januari 2019

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan

5 + 2 =