SpaceX Berhasil Meluncurkan Satelit Nusantara Satu, Apa Keunggulannya?

SpaceX Berhasil Meluncurkan Satelit Nusantara Satu, Apa Keunggulannya?
Bagikan Artikel ini di:

Roket Falcon 9 meluncur membawa satelit Nusantara Satu menuju orbit (sumber: SpaceX)

Armada satelit Indonesia bertambah setelah SpaceX sukses meluncurkan satelit Nusantara Satu untuk PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN). Peluncuran dilakukan pada tanggal 21 Februari 2019 pukul 20:45 waktu setempat atau 22 Februari 2019 pukul 08:45 Waktu Indonesia Barat dari Pangkalan Udara Cape Canaveral, Florida.

Peluncuran Nusantara Satu menandai misi ke-70 SpaceX dan misi kedua yang membawa satelit untuk perusahaan Indonesia — pada Agustus 2018, SpaceX mengirim satelit Merah Putih menuju orbit. Selain itu, misi ini juga menandai kerjasama pertama SpaceX dengan PT. Pasifik Satelit Nusantara.[1]

Satelit Nusantara Satu merupakan satelit besutan perusahaan satelit swasta Indonesia, PT. Pasifik Satelit Nusantara, yang telah berkiprah di bidang teknologi komunikasi satelit selama 27 tahun. Pengerjaan satelit dengan nama awal PSN VI tersebut diserahkan kepada anak perusahaan Pasifik Satelit Nusantara yang bernama PT. PSN Enam Indonesia. Pendanaan proyek satelit dibantu oleh Export Development Canada (EDC). Perjanjian kerjasama antara dua pihak tersebut ditandatangani pada 25 Oktober 2017. [2]

PSN mengontrak Space System Loral yang bermarkas di Palo Alto, California untuk membangun satelit dan melakukan berbagai pengujian sebelum layak terbang. Awalnya, PSN mengontrak Boeing untuk membangun satelit dan mencarikan konsumen lain untuk meluncur bersama Nusantara Satu agar meringankan biaya peluncuran. Namun Boeing tidak dapat mencari konsumen lain sehingga PSN memindahkan kontrak menuju SSL. Misi peluncuran satelit diserahkan kepada SpaceX menggunakan roket Falcon 9.

Nusantara satu menggunakan platform satelit (bus) SSL-1300 yang bermassa 4100 kg saat peluncuran dengan sistem pendorong utama elektrik. Sistem pendorong elektrik mampu melakukan kinerja lebih efisien ketimbang pendorong bahan bakar konvensional. Oleh sebab itu, Nusantara Satu dapat mencapai usia pakai >15 tahun setelah diluncurkan.

Satelit komunikasi ini memiliki 46 transponder dengan rincian 26 transponder C-band, 12 transponder Extended C-band, dan 8 transponder Ku-band. Dengan teknologi High Throughput Satellite (HTS) pertama di Indonesia, satelit dapat memberikan kapasitas internet broadband lebih besar daripada satelit konvensional saat ini.[3]

Apa itu HTS?

Sebelum mengenal apa itu HTS, kenali dahulu apa itu spot beam. Anggap saja kita memiliki senter. Senter akan memfokuskan cahaya yang dihasilkannya menuju suatu area yang dituju, sehingga tidak membuang-buang energi untuk menyinari area yang tidak diinginkan.

Sama seperti analogi senter, spot beam adalah mekanisme untuk memfokuskan transmisi signal satelit. Transmisi signal satelit difokuskan pada area dengan pengguna satelit besar, sehingga transmisi signal tidak terbuang sia-sia (ke tengah samudera misalnya).

Satelit konvensional biasanya hanya memiliki satu spot beam dengan jangkauan luas, namun satelit dengan teknologi HTS tidak demikian. Teknologi HTS bekerja dengan cara menggunakan beberapa spot beam dengan jangkauan area yang lebih sempit. Dengan menggunakan metode ini, pengiriman informasi dapat mencapai kecepatan 10 Gbps per transponder. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan satelit konvensional yang hanya dapat mencapai kecepatan 155 Mbps per transponder. Ilustrasi tentang perbedaan satelit konvensional dengan satelit HTS dapat anda lihat dibawah ini.[4]

Ilustrasi perbedaan satelit HTS (kanan) dengan satelit konvensional (kiri) (sumber: Pasifik Satelit Nusantara)

Muatan lain

Bukan hanya satelit Nusantara Satu, misi peluncuran ini juga membawa dua wahana antariksa lainnya. Kedua muatan tersebut adalah lander Bulan “Beresheet” milik organisasi non-profit dari Israel bernama SpaceIL dan satelit mikro S5 untuk Angkatan Udara Amerika Serikat.

Kedua satelit ini dikoordinasi oleh perusahaan Spaceflight Industries yang sebelumnya telah melakukan perjanjian dengan PSN. Langkah ini dilakukan supaya biaya peluncuran dapat dibagi ke seluruh pihak yang meluncurkan satelit sehingga biaya peluncuran dapat lebih hemat.[5]

Lander Beresheet dikelola oleh SpaceIL untuk mendarat di Bulan pada pertengahan 2019. Awalnya, lander ini dibuat untuk kompetisi Google Lunar X Prize (yang mana saat ini telah dibatalkan). Namun SpaceIL tetap melanjutkan pengerjaan Beresheet dengan bantuan berbagai pihak.[6]

Satelit lain yang menumpang, S5, memiliki massa 60 kg dan digolongkan sebagai satelit mikro. Satelit ini merupakan misi percobaan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mendeteksi dan melacak objek di sekitar orbit geostasioner.[7]

Foto satelit Nusantara Satu sebelum dimasukkan kedalam fairing roket Falcon 9. Lander Baresheet juga nampak diatas satelit (sumber: SSL)

Proses pembangunan dan peluncuran

Di penghujung tahun 2019, pengerjaan satelit Nusantara Satu rampung dan dikirim menuju area peluncuran, disusul oleh lander Beresheet beberapa minggu kemudian. Setelah sampai di area peluncuran, satelit dan lander kemudian dipindahkan menuju ruangan khusus untuk diproses. Memrosesan tersebut meliputi pengisian bahan bakar dan pengecekan setelah pengiriman satelit dari pabrikan. Setelah semua pengecekan usai, satelit disatukan dengan adaptor dan fairing (pelindung atau hidung roket) sebelum disambungkan ke badan roket Falcon 9.

Baca juga:

Pendorong Falcon 9 yang digunakan bernomor seri B1048.3 yang menandai peluncuran ketiganya dan menjadi pendorong pertama yang melakukan peluncuran ketiga dari landasan di Cape Canaveral. Pendorong tersebut sebelumnya digunakan untuk misi Iridium-7 dan SAOCOM-1A pada tahun 2018.[5]

Setelah roket Falcon 9 melakukan gladi bersih peluncuran berupa tes static fire dan muatan satelit telah dimasukkan kedalam fairing, bagian roket dan satelit disambungkan. Rangkaian roket Falcon 9 dan satelit dipindahkan menuju landasan peluncuran Launch Complex-40 dan diposisikan vertikal 12 jam sebelum peluncuran.

Roket Falcon 9 sesaat setelah meluncur dari Space Launch Complex-40 membawa satelit Nusantara Satu, lander Beresheet, dan satelit mikro S5 (sumber: SpaceX)

Setelah hitung mundur yang mulus, Falcon 9 sukses meluncur dan menyinari langit malam pantai timur Florida. Dua menit setelah meluncur, dua bagian roket dipisahkan. Pendorong roket (stage 1) menyelesaikan tugasnya dan melakukan manuver sebelum pendaratan, sementara tahapan kedua (stage 2) Falcon 9 terus menyalakan mesinnya untuk membawa satelit Nusantara Satu dan muatan lainnya menuju orbit.

Delapan menit setelah meluncur, pendorong roket Falcon 9 sukses mendarat di kapal tanpa awak (droneship) bernama Of Course I Still Love You yang telah bersiaga di Samudera Atlantik. Pendaratan ini menandai pendaratan terakhir bagi pendorong dengan nomor seri B1048 sekaligus pendaratan dengan kondisi paling ekstrem yang pernah dialami roket Falcon 9. Selanjutnya, pendorong ini akan diluncurkan kembali pada misi tes wahana Crew Dragon dengan kemungkinan yang cukup kecil bagi pendorong roket untuk bertahan utuh setelah misi berakhir.

Setelah stage 2 melakukan dua kali manuver untuk menempatkan muatan menuju orbit geostasioner, lander Beresheet milik SpaceIL dilepaskan dari atas satelit Nusantara Satu. Proses ini menandai awal dari perjalanan Beresheet menuju Bulan yang memakan waktu dua bulan.

Sebelas menit setelah pelepasan Beresheet, muatan utama yaitu satelit Nusantara Satu dilepaskan dari badan roket stage 2. Nusantara Satu kemudian mengembangkan panel suryanya dan melakukan manuver pertamanya setelah meluncur, seperti yang dikonfirmasi oleh SSL.

Kedepannya, satelit Nusantara Satu akan melakukan berbagai manuver selama dua minggu untuk mencapai orbit geostasioner dengan slot orbit 146° Bujur Timur diatas Papua. SSL kemudian melakukan serah terima satelit kepada PSN setelah manuver berhasil dan pengecekan kondisi satelit di orbit selesai dilaksanakan sehingga PSN dapat mengoperasikan satelit untuk operasional di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.[8]

Dalam 15 tahun kedepan, Nusantara Satu akan menunjang jasa komunikasi suara, video, data, serta internet broadband di wilayah Asia Tenggara. Kehadiran satelit ini juga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah terpencil Indonesia.

Tayangan ulang peluncuran dapat anda saksikan di video berikut ini

Referensi

  1. https://www.spacex.com/news/2019/02/23/nusantara-satu-mission diakses pada 2 Maret 2019
  2. https://psn.co.id/psn-membangun-satelit-baru/ diakses pada 2 Maret 2019
  3. https://psn.co.id/nsatu diakses pada 2 Maret 2019
  4. High Throughput Satellite sebagai Salah Satu Solusi Pemerataan Broadband Internet Akses di Indonesia oleh Wahyu Krisyanto diakses pada 2 Maret 2019
  5. http://www.spacex.com/sites/spacex/files/nusantara_satu_press_kit.pdf diakses pada 2 Maret 2019
  6. www.spaceil.com/tag/beresheet/ diakses pada 2 Maret 2019
  7. https://space.skyrocket.de/doc_sdat/s5.htm diakses pada 2 Maret 2019
  8. http://m.tribunnews.com/amp/section/2019/02/23/5-fakta-satelit-nusantara-satu-keunggulan-hingga-habiskan-biaya-230-juta-dollar-as?page=2 diakses pada 2 Maret 2019

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan

twelve − two =