Bagikan Artikel ini di:

Kondisi Danau Michigan, Chicago, AS pada 31 Januari 2019 (Credit: Twitter/David Funk)

Akhir Januari lalu penduduk belahan Bumi bagian utara disuguhkan dengan cuaca ekstrim. Cuaca ini memicu suhu diberbagai wilayah menurun drastis seperti di Amerika bagian Mid-West, Kanada, serta Greendland. Tentu cuaca ini menimbulkan keresahan masyarakat.

Akibat fenomena ini, cuaca di Chicago mencapai minus 28 derajat Celsius bahkan sebagian wilayah di Ontario ada yang mencapai minus 54 derajat Celsius. Di saat yang bersamaan, temperatur di Alaska yang lebih dekat dengan kutub utara malah hanya bertemperatur minus 11 derajat Celcius. [2]

Cuaca ekstrem serupa sempat melanda Kanada dan AS pada 2014. Akibat cuaca dingin yang ekstrem ini sebagian air terjun Niagara membeku. Danau Michigan pun membeku. [2]

Namun disamping itu, sebenarnya apa yang menyebabkan temperatur ini kian menurun drastis?

Polar Vortex jawabannya!

Polar Vortex adalah aliran udara bertekanan rendah dan bertemperatur dingin yang berputar di kutub utara dan kutub selatan Bumi. Aliran ini selalu ada disekitar kutub, tetapi melemah pada saat musim panas dan menguat ketika musim dingin tiba. Makna Vortex ini menunjukkan bahwa aliran udara ini berputar berlawanan arah jarum jam sehingga menjaga temperatur udara disekitar kutub tetap dingin. Selama musim dingin dibelahan bumi utara, Polar Vortex menjadi tidak stabil dan mulai menjalar ke arah selatan. [3]

Penelitian saat ini tentang Polar Vortex belum mengetahui apakah di masa depan akan terjadi kembali fenomena ini atau tidak, tetapi yang jelas Polar Vortex selalu melemah dan menguat setiap tahunnya  karena faktor alamiah. Bisa saja Polar Vortex seperti di Tahun 2014 dan 2019 tidak terjadi di Tahun 2024 karena faktor-faktor tertentu yang masih diperdebatkan.

Menurut beberapa penelitian bahwa pada Tahun 2015-2017 cuaca ekstrim akibat Polar Vortex melemah akibatnya temperatur di Amerika justru malah meningkat menjadi 22 derajat celcius (72 derajat Fahrenheit) , penelitian ini menunjukkan pemanasan di Kutub Utara yang terjadi lebih cepat dari biasanya mempengaruhi Polar Vortex. Namun menurut Judah Cohen dan saintis lainnya dari Atmospheric and Environmental Research (AER) berpikir bahwa penurunan es di laut dan meningkatnya lapisan salju di Siberia merupakan penyebab terganggunya cuaca ekstrim akibat melemahnya Polar Vortex. [5]

Cohen juga berpikir bahwa pulsa energi yang menyebabkan melemahnya polar vortex ini berkaitan dengan daerah-daerah tertentu dengan kadar es di laut yang rendah dan lapisan salju yang tinggi seperti di Siberia. [5]

Namun penelitian ini masih diperdebatkan, ada yang berpendapat bahwa penyebab melemahnya polar vortex yang berdampak pada naiknya temperatur ini tidak dapat diprediksi. [5]

 

Aliran jet menahan udara hangat menembus Artik sehingga udara dingin terperangkap akibatnya Polar Vortex menguat dan tetap stabil (Kiri). Aliran jet melemah menimbulkan udara hangat menembus Artik akibatnya Polar Vortex melemah dan udara dingin menjalar ke bagian selatan (Kanan).

Baca juga:

Dampak Polar Vortex

Terkait dengan fenomena lubang ozon, polar vortex ternyata memiliki pengaruh terhadap penurunan ozon di antartika. Asam nitrat dalam awan stratosfer polar bereaksi dengan CFC sehingga membentuk Klorin, yang mempercepat penghancuran proses fotokimia ozon. Konsentrasi klorin menumpuk selama musim dingin dan akibatnya kerusakan ozon paling besar terjadi ketika musim semi. Awan Stratosfer Polar ini hanya dapat terbentuk pada temperatur dibawah -80 derajat celcius. Karena pertukaran udara besar-besaran antara Artik dan Mid-Latitude, maka penurunan ozon di Kutub Utara lebih parah dibandingkan Kutub Selatan. Akibatnya fenomena pengurungan ozon musiman di Kutub Utara ini disebut “lekukan ozon”. [4]

Pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim terhadap makin seringnya polar vortex terjadi masih menjadi perdebatan. Para peneliti mulai bisa menyibak pengaruh pemanasan global dan perubahan iklim terhadap curah hujan, gelombang panas, kebakaran hutan, dan kekeringan. Tapi mereka masih belum menemukan bukti kalau pemanasan global berpengaruh pada polar vortex. [2]

Perubahan iklim juga disebut belum berpengaruh pada frekuensi berapa sering polar vortex terjadi. Tidak juga ditemukan adanya hubungan perubahan iklim dengan dinginnya temperatur polar vortex. [2]

Referensi:

[1] Diakses dari https://www.weather.gov/safety/cold-polar-vortex pada 2 Februari 2019

[2] Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190201194153-199-365826/mengenal-polar-vortex-penyebab-cuaca-dingin-ekstrem-di-as pada 2 Februari 2019

[3] Diakses dari https://www.noaa.gov/multimedia/infographic/science-behind-polar-vortex pada 2 Februari 2019

[4] Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Polar_vortex pada 5 Februari 2019

[5] Diakses dari https://www.climatecentral.org/news/what-happened-to-the-polar-vortex-19866 pada 8 Februari 2019

Cefri Lupianto

Seorang Mahasiswa yang sedang menekuni Bidang Matematika dan Dunia Jurnalis
Cefri Lupianto
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan

three × 4 =