Bagikan Artikel ini di:

Kemacetan lalu lintas merupakan masalah utama pada kota-kota metropolitan seperti Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Kemacetan harus segera kita pecahkan bersama, mengingat betapa besarnya kerugian yang disebabkan oleh kemacetan lalu lintas dari tahun ke tahun. Diketahui kerugian yang disebabkan oleh kemacetan pada kota Jakarta saja mencapai 67 Triliun per tahun[1].

Kemacetan sering terjadi pada saat jam berangkat kerja yaitu pada jam 07.00 – 08.30 pada pagi hari dan jam pulang kerja yaitu jam 16.00 – 17.00 pada sore hari. Pada jam ini jumlah kendaraan yang menggunakan jalan raya benar-benar padat, sehingga menyumbat lalu lintas dari kedua arah[2][3]. Selain jam tersebut lalu lintas jalan lebih longgar dan mudah untuk dilewati tanpa harus berdesak-desakkan dengan kendaraan lainnya. Kemudian kemacetan juga dapat terjadi pada peringatan-peringatan hari besar, misalnya hari raya idul fitri, seringkali arus puncak terjadi pada saat pulang kampung dan arus balik.

Gambar1. Kemacetan Kendaraan (sumber: www.google.com)

Kemacetan bisa terjadi karena disebabkan oleh jumlah kendaraan yang semakin meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Hal ini dapat kita lihat berdasarkan data yang disediakan secara online oleh BPS (Badan Pusat Statistik) dari tahun 1949-2016. Dari data yang disediakan oleh BPS secara online tersebut dapat kita lihat bahwa jumlah total kendaraan bermotor menurut jenis (mobil penumpang, mobil bis, mobil barang, dan sepeda motor) pada 2016 berjumlah 129.281.079 buah[4]. Jumlah tersebut belum terhitung pada tahun 2017 dan 2018. Diperkirakan jumlah kendaraan akan terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga membutuhkan infrastruktur yang memadai agar dapat menampung seluruh lalu lintas pengguna jalan.

Kemacetan yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia akan terus meningkat seiring dengan semakin bertumbuhnya perekonomian dan pemekaran kota. Semakin membaiknya pertumbuhan perekonomian suatu negara akan menyebabkan semakin meningkatkan pendapatan setiap keluarga, hal ini akan menyebabkan orang-orang untuk membeli kendaraan sendiri sebagai alat transportasi pribadi. Meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang tidak diringi dengan perkembangan infrastruktur jalan yang memadai akan semakin menimbulkan berbagai masalah kemacetan yang tidak ada habis-habisnya di selesaikan.

Dalam upaya mememecahkan permasalahan kemacetan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tidak dapat diselesaikan dengan hanya mengatasi masalah dipermukaan saja seperti membangun infrastruktur jalan layang, membangun terowongan, atau yang lainnya. Pembanguan infrastruktur jalan yang baru akan memangkas dana pembangunan yang sangat besar. Hal seperti ini jika kita hanya berfokus pada penyelesain pada satu titik yang terpusat pada kota-kota saja dapat menghambat penyebaran pembagunan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia lainnya seperti wilayah bagian timur.

Pemecahan lebih lanjut dengan semakin meningkatnya jumlah kendaraan dalam jumlah besar dari tahun ke tahun harus dicari sampai ke titik akar masalahnya. Salah satu upaya yang dapat diandalkan dimasa depan adalah dengan menerapkan teknologi kota pintar (smart city). Sistem kota pintar dapat menjadi solusi karena mampu menjawab 3 (tiga) hal, yaitu, pertama adalah mengetahui (sensing) keadaan kota, kedua memahami (understanding) keadaan kota lebih jauh, dan yang ketiga dapat melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan[5].

Gambar 2. Konsep Smart City (Sumber: www.google.com)

Baca juga:

Pada poin pertama adalah mengetahui (sensing) yang sangat penting dalam kasus kita ini untuk mengetahui jumlah kendaraan yang melewati suatu jalan hingga akhirnya berpeluang menyebabkan kemacetan. Pada artikel ini hanya memberi solusi pada poin pertama saja, karena berfokus pada pemantauan jumlah kendaraan yang melewati suatu jalan umum pada sebuah kota besar. Pada sebuah kota pintar dapat mengetahui jumlah kendaraan yang melewati suatu jalan dengan menggunakan beberapa sensor yang terpasang pada badan jalan. Teknologi sensor yang sangat membantu dalam mengetahui hingga jenis kendaraan apa saja yang melewati suatu jalan raya adalah menggunakan kamera. Teknologi untuk memonitor jumlah pengguna jalan seperti ini disebut sebagai sistem pemantau lalu lintas atau traffic monitoring system (TMS). Hanya saja jika kita menggunakan teknologi kamera sebagai sensor, disini kita harus memperhatikan beberapa hal yaitu berupa tingkat resolusi kamera dan berapa lebar jalan yang harus dihitung jumlah kendaraan yang melewatinya. Semakin tinggi resolusi kamera harganya pun akan semakin tinggi pula, begitu juga dengan semakin lebarnya jalan akan menyebabkan semakin banyak pula jumlah kamera yang dibutuhkan. Hal ini menimbulkan suatu masalah yang dianggap kurang ekonomis karena mahalnya sistem alat monitoring yang digunakan.

Ide yang paling penting dari memonitor jumlah kendaraan ini adalah untuk membatasi jumlah kendaraan yang melewati suatu ruas jalan yang pada akhirnya jika tidak terkendali jumlah akan menyebabkan waktu banyak terbuang dijalan karena masalah kemacetan.

 

Referensi:

  1. Aziza, Kurnia Sari. 2017. “Bappenas: Kerugian akibat Macet Jakarta Rp 67 Triliun Per Tahun“. Kompas Ekonomi, 6 Oktober 2017 (https://ekonomi.kompas.com/read/2017/10/06/054007626/bappenas-kerugian-akibat-macet-jakarta-rp-67-triliun-per-tahun.) diakses pada 6 Januari 2019
  2. Mirlanda, Ayu Mirna. 2011. “Kerugian Ekonomi Akibat Kemacetan Lalu Lintas di Ibukota“. Tugas Karya Akhir diterbitkan, Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Program Studi Ilmu Komunikasi Kekhususan Komunikasi Massa Universitas Indonesia
  3. Mangatur, et al. 2018. “Analisis Dampak Kemacetan Lalu Lintas Terhadap Pendapatan Masyarakat dan Aksesibilitas Di Kota Jambi“. JURNAL PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN eISSN: 2622-2310 (p); 2622-2302 (e), Volume 1. no (1) 2018
  4. Badan Pusat Statistik, Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis, 1949-2016 (https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1133) diakses pada 21 Januari 2019
  5. Prasetyono, Agus Puji. 2016. “IPTEK : Solusi Komprehensif Atasi Kemacetan Lalu-Lintas“. Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, 23 Juli 2016 (https://ristekdikti.go.id/kolom-opini/iptek-solusi-komprehensif-atasi-kemacetan-lalu-lintas/) diakses pada tanggal 23 Januari 2019
  6. https://techxplore.com/news/2019-01-deepwitraffic-wi-fi-based-traffic-deep.html
  7. https://arxiv.org/pdf/1812.08208.pdf

Wayan Dadang

Mahasiswa S1 Teknik Elektro Universitas Sriwijaya, menekuni Kecerdasan Buatan, Sistem Kontrol, dan Robotika. Mencintai kegiatan membaca Paper Sains, Belajar, Menulis, dan Riset.
Wayan Dadang
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan

9 − seven =