Bagikan Artikel ini di:

Tidak ada argumen yang lebih sering digunakan untuk menolak energi nuklir selain kecelakaan Chernobyl. Kecelakaan PLTN yang terjadi pada tahun 1986 ini menjadi senjata utama bagi kaum anti-nuklir untuk menunjukkan betapa bahayanya energi nuklir bagi kehidupan manusia. Kata “radiasi” pun seolah menjadi momok yang mengerikan bagi publik.

Gambar 1. PLTN Chernobyl, Unit 1 paling dekat, Unit 4 paling jauh (sumber: ANS Nuclear Cafe)

Patut diakui bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl adalah kecelakaan parah, dan tidak ada yang berharap kecelakaan sejenis itu terulang lagi. Tapi menjadikan kecelakaan PLTN Chernobyl sebagai bukti bahayanya energi nuklir adalah sama sekali tidak beralasan. Sebaliknya, justru kecelakaan PLTN Chernobyl adalah bukti bahwa energi nuklir itu sangat selamat.

Ada beberapa alasan yang melandasinya. Pertama. PLTN Chernobyl menggunakan desain reaktor yang secara alamiah buruk, yakni RBMK (reaktor bolshoy moshchnosty kanalny/reaktor kanal daya tinggi). Berbeda dengan reaktor nuklir pada umumnya, RBMK menggunakan moderator netron dan pendingin terpisah; moderator berupa grafit dan pendingin air [1]. Tujuan penggunaan pendingin dan moderator terpisah adalah supaya bahan bakar dapat diganti ketika reaktor beroperasi. Hal ini sangat penting karena Uni Soviet kala itu menggunakan PLTN tipe RBMK untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir.

Gambar 2. Desain skematik RBMK (sumber: WNA)

Masalahnya, penggunaan moderator grafit dan pendingin air membuat reaktor memiliki masalah yang melekat; reaktivitas void RBMK bernilai sangat positif. Artinya, ketika terjadi kehampaan (void) dalam reaktor, misalkan karena air pendingin menguap terlalu banyak, daya reaktor akan naik alih-alih turun [1]. Sementara, pada reaktor lain, daya reaktor akan turun ketika terjadi void dalam reaktor (reaktivitas void negatif) [2]. Bahkan para insinyur nuklir Soviet pun sudah paham masalah ini, tapi kemudian diabaikan oleh pemerintah [3]. Hal ini, ditambah dengan berbagai cacat lain pada desainnya, berkontribusi dalam menyebabkan kecelakaan PLTN Chernobyl.

Tidak ada reaktor nuklir yang menggunakan teknologi RBMK di luar bekas negara Uni Soviet. Tipe reaktor nuklir yang paling banyak digunakan saat ini, LWR (light water reactor) memiliki reaktivitas void negatif. Cacat alamiah desain tidak akan ditemukan di LWR yang mendominasi lebih dari 80% reaktor nuklir di dunia. Bahkan, sisa-sisa RBMK di Rusia sudah dimodifikasi agar lebih selamat.

Baca juga: Keunggulan PLTN Terapung Untuk Indonesia

Kedua, dengan berbagai cacat alamiah tersebut, sebenarnya PLTN Chernobyl Unit 4 tidak akan mengalami kecelakaan tersebut seandainya operator dan supervisor tidak melanggar berlapis-lapis protokol keselamatan. Pada saat itu, reaktor dioperasikan dalam kondisi yang tidak mungkin tercapai dalam kondisi operasional. Seluruh sistem keselamatan dimatikan tetapi reaktor dioperasikan dalam keadaan sangat berbahaya, bahkan dilarang oleh peraturan Uni Soviet sendiri [4].

Faktor terbesar kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 adalah human error. Karena sekalipun teknologi yang digunakan sangat cacat, kecelakaan itu tidak akan terjadi jika operator dan supervisor tidak bertindak ceroboh.

Ketiga, ledakan uap dan hidrogen yang terjadi menyebabkan 5% material nuklir terhambur dari dalam reaktor ke lingkungan. Api yang menyambar grafit moderator menyebabkan kebakaran yang membawa debu radioaktif ke berbagai bagian Eropa. Namun, total kematian yang disebabkan oleh kecelakaan ini hanya ± 60 orang. Operator dan supervisor tewas dalam ledakan, 28 orang pemadam kebakaran/likuidator tewas akibat acute radiation sickness (ARS), sementara sisanya karena mengidap kanker tiroid akibat meminum susu yang terkontaminasi I-131 dan tidak bisa terselamatkan [5].

Sempat diproyeksikan bahwa akan ada sekitar 4000 kematian susulan sebagai akibat paparan radiasi dari kecelakaan tersebut. Namun, laporan UNSCEAR tahun 2008 menegasikan proyeksi itu, mengatakannya sebagai, “Tidak bisa dibedakan dengan kematian biasa…” [5] Sehingga, angka kematian di atas bisa dikatakan final.

Dibandingkan dengan 300 ribu orang tewas tiap tahunnya di Cina akibat polusi PLTU batubara [6], angka kematian akibat kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 ini tentu sangatlah sedikit.

Baca juga: Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Keempat, PLTN Chernobyl yang mengalami kecelakaan hanya Unit 4. Sementara, Unit 1-3 tidak terdampak. Pasca kecelakaan, PLTN Chernobyl Unit 1-3 masih tetap dioperasikan, sebelum unit terakhir ditutup permanen pada tahun 2000 [1]. Hal ini menarik, karena kecelakaan PLTN terparah yang mungkin terjadi pun ternyata tidak memengaruhi unit-unit yang berada di sekitarnya!

Kelima, kota Pripyat dan Chernobyl nyatanya tidak menjadi sejenis nuclear wasteland. Memang kedua kota itu ditinggalkan dan tidak banyak yang manusia tinggal di sekitar sana, tapi alih-alih menjadi lahan tandus, hewan-hewan dan tumbuhan tumbuh dan berkembangbiak dengan subur [7]. Bahkan kedua kota itu menjadi destinasi wisata sejak 2011, dan baik-baik saja untuk dikunjungi. Apakah keberadaan manusia justru berdampak lebih negatif pada alam Chernobyl dibandingkan kecelakaan PLTN?

Orang-orang yang hidup di Chernobyl (tepi zona ekslusi), di tahun 2018 ada sekitar 150 orang yang hidup di zona tersebut, Sumber: BBC

Baca juga:

Keenam, level radiasi di kawasan Chernobyl dan negara sekitarnya relatif rendah. Pengukuran dosis radiasi yang dilakukan UNSCEAR menunjukkan bahwa, pada rentang tahun 1986-2005, di daerah yang paling terkontaminasi, dosis yang diterima penduduk rerata sekitar 2,4 mSv di Belarusia, 1,1 mSv di Rusia dan 1,2 mSv di Ukraina. Sebagai perbandingan, rerata dosis radiasi tahunan di bumi adalah 2,4 mSv/tahun. Selain itu, beberapa daerah memiliki radiasi latar jauh lebih tinggi dari angka ini, misalnya Kerala, India (70 mSv/tahun) dan Ramsar, Iran (400 mSv/tahun) [8,9].

Gambar 3. Pengukuran radiasi di stadion olahraga 4 km dari reaktor Chernobyl pada tahun 2008. Dosis radiasi terukur 2,8 µSv/jam, atau 2,5 mSv/tahun (sumber: Jaworowski, 2009)

Kecelakaan nuklir terparah sekalipun tidak menyebabkan paparan radiasi eksternal fatal pada masyarakat.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Ketujuh, kecelakaan PLTN Chernobyl adalah satu-satunya kecelakaan PLTN yang menyebabkan korban jiwa selama sejarah operasionalnya, dengan jumlah korban minimal. Bahkan sekalipun mempertimbangkan angka “4000 kematian tambahan” yang sudah dikoreksi oleh UNSCEAR, tingkat kematian yang disebabkan nuklir masih yang paling rendah dibandingkan moda energi lainnya seperti ditunjukkan oleh gambar berikut[10]

Gambar 4. Jumlah kematian per TWh energi (diolah dari Nextbigfuture)

Demikianlah tujuh alasan mengapa kecelakaan PLTN Chernobyl justru menunjukkan bahwa energi nuklir merupakan energi yang selamat, bahkan paling selamat dibanding moda energi lainnya. Secara praktis, kecelakaan dengan level setara dengan PLTN Chernobyl Unit 4 tidak mungkin terjadi lagi. Padahal, untuk menyamai level bahaya yang diakibatkan PLTU batubara, kecelakaan selevel Chernobyl perlu terjadi 4 kali setiap jam. Ya, 4 Chernobyl tiap jam atau 1 Chernobyl tiap 15 menit harus terjadi agar dampak energi nuklir seburuk energi batubara. Mungkinkah hal itu terjadi, sementara 400 GWe PLTN dalam operasi saat ini masih beroperasi baik-baik saja?

Referensi:

  1. World Nuclear Association. Chernobyl Accident 1986. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/chernobyl-accident.aspx). Diakses 28 Februari 2019.
  2. Max Carbon. 2006. Nuclear Power, Villain or Victim? Our Most Misunderstood Source of Electricity. Madison: Pebble Beach Publisher.
  3. Douglas E. Hardtmayer. Five Things You Probably Didn’t Know About Chernobyl. (http://ansnuclearcafe.org/2018/04/26/five-things-you-probably-didnt-know-about-chernobyl/). Diakses 11 Maret 2019.
  4. Bernard L Cohen. 1990. The Nuclear Energy Option. Pittsburgh: Plenum Press.
  5. United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation. 2011. Sources and Effects of Ionizing Radiation Volume II Annex D. New York: UNSCEAR.
  6. James Conca. Pollution Kills More People Than Anything Else. (https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2017/11/07/pollution-kills-more-people-than-anything-else/#7b8446451a35). Diakses 28 Februari 2019.
  7. G. Deryabina et al. 2015. “Long-term census data reveal abundant wildlife populations at Chernobyl”.Current Biology, vol. 25, pp. 824-826.
  8. Geoff Russell. What can we learn from Kerala? (https://bravenewclimate.com/2015/01/24/what-can-we-learn-from-kerala/). Diakses 11 Maret 2019.
  9. Zbigniew Jaworowski. 2010. “Observations on Chernobyl After 25 Years of Radiophobia”. 21st Century Science & Technology, Summer 2010, pp 30-45.
  10. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 28 Februari 2019.

R. Andika Putra Dwijayanto

Alumni S1 Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. Peneliti Fisika Reaktor dan Teknologi Keselamatan Reaktor.
R. Andika Putra Dwijayanto
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:
2 Comments
  1. Mau nanya nih, berdasarkan gambar 4, jumlah kematian per TWh energi nuklir paling rendah bahkan jika dibandingkan dengan energi alternatif lain. Jadi bahaya dari energi alternatif selain nuklir apa ya sampai bisa seperti itu?

    Penilaian Komentar
    • Kematian saat instalasi, perbaikan, kebakaran dan kerusakan turbin angin (sering terjadi), mungkin cemaran udara (panas bumi), dan masalah bendungan (hidro).

      Penilaian Komentar

Tinggalkan Balasan