Bagikan Artikel ini di:

Perusahaan besutan bilyuner Elon Musk, SpaceX kembali membuat gebrakan dalam bidang teknologi. Perusahaan yang telah dikenal dalam bidang jasa peluncuran satelit tersebut, meluncurkan 60 satelit Starlink menuju orbit Bumi rendah pada tanggal 23 Mei 2019.

Tumpukan 60 satelit Starlink saat diluncurkan menuju orbit Bumi rendah (SpaceX)

Tentang Starlink

Proyek Starlink merupakan usaha SpaceX dalam menyajikan internet tanpa kabel yang dapat menjangkau setiap bagian di permukaan Bumi. Usaha ini dilakukan dengan cara menempatkan ribuan satelit kecil di orbit Bumi rendah yang dapat menunjang internet cepat dengan latensi lebih rendah dibandingkan satelit di orbit geostasioner maupun orbit medium (MEO).[1]

Masing-masing satelit Starlink memiliki desain antena tipis dan datar dengan satu bentangan panel surya di sisi sebaliknya, serta memiliki massa sebesar 227 kg per satelit. Berbeda dengan satelit pada umumnya, desain Starlink yang ramping memungkinkan puluhan satelit untuk ditumpuk dan diluncurkan bersamaan dalam satu roket yang akhirnya dapat menghemat biaya peluncuran.

Antena yang digunakan adalah empat susunan antena berfase dengan beberapa antena high-throughput spektrum Ku-band, Ka-band, serta V-band. Panel surya simpel yang hanya terdiri dari satu bentangan dapat meminimalisasi risiko kegagalan akibat desain yang kompleks. Apabila digabungkan, seluruh panel surya pada 60 satelit yang diluncurkan dapat menghasilkan daya listrik lebih besar daripada Stasiun Luar Angkasa Internasional.

Starlink menggunakan sistem pendorong elektrik “Hall Effect” dengan propelan Kripton, sedikit berbeda dengan pendorong elektrik lain yang umumnya menggunakan Xenon. Sistem pendorong ini memungkinkan tiap satelit untuk menjaga slot orbitnya serta melakukan manuver perpindahan orbit apabila dibutuhkan.

Bersama sistem pendorong, Starlink juga memiliki pelacak objek di orbit yang dapat mendeteksi objek yang dianggap membahayakan. Apabila terdapat suatu objek yang berpotensi tabrakan, Starlink dapat melakukan manuver menghindar menggunakan sistem pendorongnya. Sistem pendorong Starlink juga dapat digunakan untuk menjatuhkannya kembali ke atmosfer Bumi diakhir usia pakainya.

Untuk perhitungan arah, posisi, dan orbit satelit, SpaceX menggunakan sistem yang diadopsi dari wahana antariksa Dragon yang bernama startracker. Sesuai namanya, startracker melacak bintang-bintang untuk mendapatkan informasi posisi dan orientasi satelit.[2]

Animasi satelit Starlink

Ribuan satelit yang saling berhubungan

Jaringan konstelasi Starlink direncanakan berada dalam 3 ketinggian orbit yang berbeda. Pada fase pertama, SpaceX akan meluncurkan 1584 satelit menuju orbit setinggi 550 km diatas permukaan Bumi. Orbit tersebut memiliki inklinasi sebesar 55° serta 40 bidang orbit yang berbeda dengan masing-masing bidang memiliki 66 satelit. Setelah itu, SpaceX akan mulai mengisi dua ketinggian orbit lainnya. Mereka akan mengisi 7518 satelit menuju orbit setinggi 340 km serta 2841 satelit untuk ketinggian 1200 km.[3]

Fase pertama membutuhkan 24 peluncuran dengan 60 satelit di tiap peluncuran untuk dapat mencapai jangkauan global, namun hanya membutuhkan 6 peluncuran untuk dapat menyajikan internet di Amerika Utara. SpaceX berencana melakukan satu hingga lima peluncuran Starlink lagi hingga akhir tahun ini.

Pengguna Starlink nantinya akan dapat mengirim informasi dalam bentuk sinyal radio menuju satelit di luar angkasa. Informasi yang didapat satelit akan dikirimkan ulang menuju satelit lain menggunakan komunikasi antar satelit berupa laser. Informasi tersebut akan dipancarkan ke penerima setelah informasi yang dikirimkan mencapai satelit yang berada diatas jangkauan penerima.

Sistem komunikasi antar satelit (intersat link) merupakan instrumen yang penting dalam bekerjanya jaringan Starlink. Meskipun demikian, CEO SpaceX Elon Musk mengonfirmasi bahwa satelit-satelit pertama Starlink tidak memiliki mekanisme intersat link. Sebagai gantinya, mereka membutuhkan antena di darat sebagai penghubung antar satelit.[4]

Dilansir dari Business Insider, Starlink mampu menyediakan internet dengan latensi yang lebih rendah dibandingkan fiber optic hingga 47% lebih cepat. Perlu diketahui, latensi adalah delay yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti jarak pengirim dengan penerima, bagaimana gelombang radio merambat melalui media jaringan, dsb. Semakin rendah latensi, maka semakin cepat internet dan informasi yang didapat semakin mendekati real-time.[5]

Setahun sebelumnya, SpaceX telah menguji teknologi yang serupa dengan Starlink pada dua satelit bernama Tintin A dan Tintin B. Pusat kendali mengklaim bahwa uji coba yang dilakukan menggunakan kedua satelit tersebut berhasil dilakukan, bahkan mereka sempat melakukan streaming video 4K dan bermain video game menggunakan satelit Tintin.

Satelit uji coba Tintin A dan Tintin B sebelum meluncur (SpaceX)

Sempat beredar kabar bahwa paket internet Starlink memiliki harga antara Rp. 140 ribu hingga Rp. 420 ribu. Meskipun demikian, angka tersebut belum dapat dipastikan mengingat perubahan desain dan jumlah satelit di orbit.

Rintangan dalam menyediakan internet cepat

Dengan ribuan satelit di tiga orbit yang berbeda, tentu muncul pertanyaan tentang bertambahnya sampah antariksa. Jumlah sampah antariksa yang berada di orbit Bumi saat ini telah menjadi sebuah kekhawatiran. Sampah antariksa dapat menabrak satelit-satelit lain hingga wahana antariksa berawak seperti ISS.

Baca juga:

Meskipun demikian, SpaceX menganggap proyek mereka tidak akan menambah jumlah sampah antariksa di orbit Bumi. Setiap satelit didesain untuk melakukan manuver jatuh menuju atmosfer di akhir usia pakainya. SpaceX juga telah menurunkan orbit satelit dari rencana sebelumnya. Dengan perubahan tersebut, memungkinkan satelit yang kehilangan kendali untuk jatuh ke permukaan Bumi dalam 1-5 tahun.[1]

Ilustrasi jaringan satelit Starlink (SpaceX)

Interferensi dengan jaringan satelit lain juga sempat menjadi perbincangan. Dengan spektrum Ku-band yang digunakan oleh Starlink, dikhawatirkan dapat menginterferensi konstelasi satelit internet pesaingnya. Meskipun demikian, Komisi Telekomunikasi Amerika Serikat (FCC) menyanggah hal tersebut. Mereka beranggapan bahwa dengan lebih rendahnya orbit Starlink daripada rencana semula, sinyal yang digunakan tidak akan terlalu kuat hingga menginterferensi satelit lain.

Beberapa jam pasca peluncuran, beberapa pengamat langit dari Indonesia dan Belanda mengamati beberapa titik panjang melintas di langit mereka. Berdasarkan analisis awal dari pengamat penerbangan antariksa Amerika Serikat, Jonathan McDowell, benda tersebut adalah 60 satelit Starlink yang baru saja diluncurkan. Peristiwa tersebut menandakan bahwa satelit Starlink dapat memantulkan cahaya Matahari dengan baik sehingga terlihat bercahaya dari permukaan Bumi.[6][7]

Kenampakan satelit di langit sudah lama menjadi gangguan bagi para astronom dalam mengamati objek astronomis. Kini, mereka harus bersiap dengan ribuan cahaya yang dapat menghalangi pandangan mereka selama beberapa detik.

Perlombaan dalam menyajikan internet berbasis satelit

Tarif yang akan dipatok untuk paket internet global perusahaan SpaceX

Starlink bukanlah satu-satunya proyek internet berbasis satelit yang tengah dikembangkan saat ini.

OneWeb, sudah mulai meluncurkan satelit mereka pada bulan Februari yang lalu. Perusahaan tersebut juga berusaha menyediakan internet berbasis satelit dengan jaringan satelit berjumlah lebih dari 600 buah yang diletakkan di orbit setinggi 1200 km.

CEO Amazon Jeff Bezos juga berencana melakukan hal yang serupa. Beberapa bulan lalu, Ia mencetuskan proyek internet yang bernama Proyek Kuiper. Proyek tersebut berencana menempatkan 3236 satelit di orbit Bumi dibawah kendali Amazon.

Selain ketiga perusahaan tersebut, masih banyak proyek lain yang telah menunjukkan perkembangan.

COO SpaceX Gwynne Shotwell mengungkapkan bahwa mereka berinvestasi lebih dari 10 milyar dolar AS (14,4 triliun rupiah) untuk meluncurkan seluruh satelit Starlink menuju orbit. CEO SpaceX Elon Musk menambahkan dalam sebuah konferensi pers bahwa mereka dapat menghasilkan 30 hingga 50 milyar dolar AS per tahun dari proyek ini. [5]

Referensi:

  1. https://www.starlink.com diakses pada 26 Mei 2019
  2. http://www.spacex.com/sites/spacex/files/starlink_mission_press_kit.pdf diakses pada 26 Mei 2019
  3. https://www.nasaspaceflight.com/2019/05/first-starlink-mission-heaviest-payload-launch-spacex/ diakses pada 26 Mei 2019
  4. https://www.universetoday.com/140539/spacex-gives-more-details-on-how-their-starlink-internet-service-will-work-less-satellites-lower-orbit-shorter-transmission-times-shorter-lifespans/ diakses pada 26 Mei 2019
  5. https://www.businessinsider.com/spacex-starlink-satellite-internet-how-it-works-2019-5 diakses pada 26 Mei 2019
  6. https://youtu.be/ytUygPqjXEc diakses pada 26 Mei 2019
  7. https://twitter.com/LzOskha/status/1131898398313816064?s=20 diakses pada 26 Mei 2019

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:
1 Comment
  1. Has Science Gone too Far

Tinggalkan Balasan

ten + three =