Sebagaimana telah diketahui, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berencana untuk membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di kawasan Puspiptek Serpong. Ide ini muncul mengingat sulitnya untuk langsung membangun PLTN skala komersial di Indonesia. Sementara, tujuan utama dari program RDE adalah untuk mengembangkan kapabilitas nasional sebagai technology provider reaktor nuklir. Sehingga, alih-alih hanya sebagai pengguna, Indonesia juga bisa menjadi desainer, konstruktor, hingga operator sebuah PLTN [1].

Tentu saja program RDE hanya langkah awal, mengingat PLTN ini bersifat non komersial. Nantinya, RDE akan di-scale up ke daya yang lebih tinggi untuk keperluan komersial.

Gambar 1. Perencanaan Kawasan RDE

Rencana ini kedengaran bagus. Tapi mengapa dibangun di Puspiptek? Bukankah di sana pusat penelitian? Kan banyak orangnya? Selamat tidak nih? Nanti kena radiasinya bagaimana?

Baca juga: Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat

Kalau seandainya ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu, mempertanyakan nasib penghuni Puspiptek dan penduduk Serpong bahkan Tangerang Selatan, maka BATAN sudah punya jawabannya. Riset yang dilakukan oleh para Peneliti di Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN ini berfokus pada pelepasan radioaktivitas dan dosis radiasi di sekitar kawasan RDE dan Kawasan Nuklir Serpong (KNS) mengasumsikan RDE telah dibangun dan beroperasi.

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa RDE mengadopsi teknologi high temperature gas-cooled reactor (HTGR). Teknologi ini terkategori reaktor nuklir Generasi IV (GenIV), yang merupakan teknologi reaktor maju dengan berbagai keunggulan dibandingkan reaktor konvensional saat ini. HTGR menggunakan moderator grafit dan pendingin helium, sehingga memiliki densitas daya rendah. Bahan bakar HTGR merupakan pebble bed, dimana bola grafit diisi oleh ribuan partikel bahan bakar TRISO. Bentuk bahan bakar pebble bed menjamin retensi produk fisi maksimal. Sehingga, pelepasan material radioaktif ke lingkungan dapat diminimalisir [2-3].

Gambar 2. Struktur Bahan Bakar Pebble Bed

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Paparan radiasi lingkungan yang salah satu kontributornya adalah pelepasan material radioaktif merupakan pembahasan dari penelitian pertama, yang dilakukan oleh Pande Made Udiyani dkk [4]. Penelitian ini sebenarnya tidak hanya membahas tentang RDE, tetapi juga pelepasan dari Reaktor Serba Guna-G.A. Siwabessy, reaktor riset yang telah lama beroperasi di Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Kalkulasi dosis radiasi yang diterima penduduk sekitar KNS (termasuk daerah Serpong dan Gunung Sindur) dari pelepasan sourceterm RSG-GAS dan RDE dibahas di sini.

Berdasarkan kalkulasi tersebut, diperoleh bahwa pelepasan radiasi dari RSG-GAS memberikan dosis radiasi yang diterima publik sebesar 9.31×10-4 mSv/tahun. Besar? Tentu saja tidak. Nilai Batas Dosis (NBD) yang ditetapkan Bapeten untuk dosis yang diterima oleh masyarakat sebesar 1 mSv/tahun. Artinya, dosis radiasi yang dilepaskan RSG-GAS tidak sampai seperseribunya [4]!

Tapi itu, kan, RSG-GAS. Bagaimana dengan RDE? Ternyata lebih rendah lagi. Dosis radiasi yang diterima publik dari RDE paling tinggi hanya 4.17×10-4 mSv/tahun, kurang dari setengah RSG-GAS. Hal ini bisa dipahami, mengingat daya termal RDE hanya sepertiga RSG-GAS, yakni 10 MW [4]. Jika ditotal, dosis tertinggi yang mungkin diterima oleh penduduk setempat adalah 6.16×10-3 mSv/tahun. Masih jauh lebih rendah daripada NBD yang ditetapkan Bapeten.

Tabel 1. Dosis individual total dari pelepasan radioaktif RDE

Artinya, paparan radiasi ke lingkungan akibat lepasan radioaktif bisa dikatakan minim dan tidak penting untuk ditakuti.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Bagaimana dengan pekerja di kawasan Puspiptek? Bukankah ketika beroperasi, RDE akan memancarkan radiasi gamma? Nah, penelitian dari Amir Hamzah dkk berikut ini menjawabnya [5].

Cara termudah untuk menentukan apakah paparan radiasi dari reaktor selamat atau tidak untuk pekerja Puspiptek adalah dengan menghitung paparan radiasi pada pekerja di dalam kawasan RDE itu sendiri. Karena merekalah yang paling dekat dengan reaktor. Pertanyaannya, berapa dosis radiasi yang mereka terima?

Hasil kalkulasi tersebut ditampilkan pada grafik berikut.

Baca juga:

Gambar 3. Distribusi dosis radiasi di teras reaktor, perisai biologis, dan area kerja RDE

Tampak bahwa di tengah teras reaktor (sumbu x = 0) dosis radiasi sangat tinggi melebihi 109 µSv/jam. Artinya, siapapun yang terkena paparan radiasi sebesar itu akan mati secara instan atau langsung. Namun, ketika melewati perisai biologis yang terbuat dari beton standar, dosis radiasi turun sangat drastis sehingga dosis radiasi yang diterima pekerja tepat di permukaan luar perisai biologis hanya 8 µSv/jam. Angka ini lebih rendah daripada NBD yang ditentukan oleh Bapeten untuk pekerja radiasi, yakni 10 µSv/jam. Pada jarak 7 m dari permukaan luar perisai biologis, dosisnya turun hingga kira-kira 1 µSv/jam. Lebih rendah lagi [5].

Dengan begitu rendahnya dosis radiasi di sekitar perisai biologis reaktor, bisa dikatakan tidak ada radiasi gamma dari reaktor yang sampai ke kawasan Puspiptek. Sehingga tidak akan ada potensi bahaya yang disebabkan oleh paparan radiasi dari operasi normal RDE.

Menilik dari dua penelitian ini, maka jelas bahwa kondisi operasional RDE tidak memberikan dampak kesehatan apa-apa pada masyarakat. Apalagi, memang tidak ada dampak radiasi yang bisa dideteksi pada dosis radiasi dibawah 100 mSv dalam waktu singkat [6-8]. Mengingat NBD yang ditetapkan Bapeten hanya 1 mSv/tahun untuk masyarakat, dan dosis tertinggi yang diterima masyarakat jauh lebih rendah dari itu, tidak ada kekhawatiran yang perlu dipikirkan oleh pekerja di kawasan Puspiptek apalagi penduduk Serpong.

Referensi:

  1. Topan Setiadipura et al. “Cooling passive safety features of Reaktor Daya Eksperimental,” AIP Conference Proceedings 1984, 020034 (2018).
  2. Andika Putra Dwijayanto dan Muhammad Subekti. “Preliminary Study of Temperature Homogenisation in Experimental Power Reactor Hot Gas Chamber.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022019 (2019).
  3. Ihda Husnayani dan Pande Made Udiyani. “Radionuclide Characteristics of RDE Spent Fuels.” Jurnal Teknologi Reaktor Nuklir, Vol. 20, No. 2, pp. 69-76 (2018).
  4. Pande Made Udiyani et al. “Atmospheric Dispersion Analysis for Expected Radiation Dose due to Normal Operation of RSG-GAS and RDE Reactors.” Atom Indonesia, Vol. 44, No. 3, pp. 115-121 (2018).
  5. Amir Hamzah et al. “Preliminary analysis of dose rates distribution of experimental power reactor 10 MW using MCNP.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022038 (2019).
  6. Wade Allison. Radiation and Reason. York: Wade Allison Publishing (2009).
  7. David Bodansky. Nuclear Energy: Principles, Practices, and Prospects 2nd Edition. New York: Springer-Verlag (2004).
  8. World Nuclear Association. Nuclear Radiation and Health Effects. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/radiation-and-health/nuclear-radiation-and-health-effects.aspx), diakses 12 Juni 2019.

R. Andika Putra Dwijayanto

Alumni S1 Teknik Nuklir Universitas Gadjah Mada. Peneliti Fisika Reaktor dan Teknologi Keselamatan Reaktor.
R. Andika Putra Dwijayanto
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan