Wawancara Eksklusif dengan Irmandy Wicaksono – Lulusan S3 MIT dengan Full Research Scholarship

Dibalik banyaknya acara TV yang tidak mendidik, banyaknya video trending di YouTube yang kurang bahkan tidak berfaedah, dan orang “tanda petik” yang viral dan terkenal, kita sebagai generasi penerus Indonesia tidak boleh ikut terwarnai, ikut arus, apalagi ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sosok inspiratif dan prestatif yang jarang diliput TV maupun trending di Youtube, serta jauh dari kata viral. Namun sosok prestatif dan inspiratif tersebut bisa kita jadikan role model atau panutan. Salah satunya adalah kak Irmandi Wicaksono. Irwandi adalah pemuda Indonesia, bersekolah di SMA Lab School Jakarta, kemudian melanjutkan S1 ke Universitas Southampton Inggris, S2 di ETH Zurich, dan S3 di MIT Cambridge Amerika*. Emejing nggak tuh prestasinya?

Momen wisuda Irmandy Wicaksono dari S3 Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 9 Juni 2019 . Sumber: Instagram @irmandyw
Tampilan Google Scholar Irmandy Wicaksono yang memuat berbagai artikel jurnal yang telah ia buat. Sumber: Google Scholar
Di MIT, Irmandy Wicaksono menggeluti bidang fabric and soft wearable electronic. Sumber: Instagram @MITMediaLab

Nah, tim Warstek berhasil mewawancarai kak Mandy (panggilan akrabnya) dan berikut ini adalah hasilnya:

  1. Sebelumnya Warstek ingin tahu sekilas tentang biodata kak Irmandy seperti lahir dimana, tempat tinggal di Indonesia dimana, dan sekolahnya di Indonesia dimana sebelum berkarir di luar negeri.

Halo Warstek, nama saya Irmandy Wicaksono, kelahiran 1993 di Birmingham, Inggris. Saya sekarang Research Assistant di MIT, Cambridge, Amerika. Keluarga saya menetap di Jakarta. Sebelum berkuliah dan berkarir di luar negeri, saya bersekolah di SMA Labschool Jakarta. Profil lengkapnya dapat dibaca di LinkedIn Irmandy Wicaksono.

Kak Mandy sebagai bagian dari tim MIT Media Lab, salah satu laboratorium dan kelompok riset terbaik di dunia. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Apa cita-cita kak Irmandy semenjak kecil? Dan siapa orang yang paling berperan untuk mendorong kak Irmandy merealisasikan cita-cita tersebut?

Sejak kecil saya menyukai berbagai hal, jadi cita-cita saya selalu tidak tentu. Tetapi, dulu saya sangat gemar belajar fisika dan matematika. Saya juga suka mengkoleksi gadget baru. Sebagai penggemar musik, saya ingat betul rasa kebahagiaan saya saat saya menerima iPod pertama saya. Selain itu, saya banyak menghabiskan waktu menonton dan main game superheroes dan sci-fi yang memperlihatkan dampak inovasi teknologi untuk masa depan. Karena ini semua, saya mempunyai cita-cita untuk menjadi technologist atau engineer agar bisa menciptakan teknologi-teknologi terbaru yang dapat memberikan dampak besar dan baik dalam kehidupan manusia. Juga dapat merealisasikan sci-fi atau dunia masa depan yang suka saya impikan saat saya masih kecil.

Lembaran chip yang difabrikasi oleh kak Mandy di MIT Media Lab. Sumber: Instagram @irmandyw

Selain orang tua saya yang selalu mendukung saya, orang yang paling berperan secara tidak langsung adalah guru-guru saya dulu. Saya selalu ingat pesan mereka, yaitu untuk selalu mencoba keluar dari comfort zone dan terus mencari tantangan. Pesan ini memotivasi saya untuk merantau berkuliah di luar negeri untuk menimba ilmu, berkarya, dan membawa nama bangsa di tempat-tempat yang terbaik.

Selama berkuliah di Amerika, kak Mandy juga aktif mengenalkan budaya Indonesia pada dunia, keren banget kan guys? Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Warstek lihat bahwa kak Irmandy mengenyam S1 di Universitas Southampton, Inggris kemudian dilanjutkan mengenyam Pendidikan (master) di kampusnya Albert Einstein (ETH Zurich, Swiss), dan sekarang menjadi graduate researcher di MIT, Amerika, apa sih kak rahasianya bisa se-“wow” itu? Dan apakah itu dengan beasiswa atau mandiri?

Kalau dipikirkan, sebenarnya tidak ada rahasianya. Yang terpenting adalah pastikan hal yang kamu lakukan benar-benar apa yang kamu peduli dan sukai, dan cobalah dengan keras untuk tekuni hal itu. Setiap orang memiliki keunikannya sendiri dan jalannya masing-masing. Jika belum menemukan apa yang kamu ingin lakukan, selalu berani untuk melakukan hal yang baru dan mencari kesempatan. Saya yakin bila kamu terus berjuang, suatu saat, kamu akan menemui lingkungan dan orang-orang yang benar-benar positif dan seirama dengan pola pikir dan budaya kerja kamu. Di sini, teman, kolega, dan profesor di lingkungan ETH maupun MIT selalu menginspirasi saya untuk melakukan riset yang tidak konvensional dan membantu saya untuk merealisasikan ide-ide saya yang berhubungan dengan human-machine interfaces.

Jujur kadang saya masih tidak percaya dan saya selalu bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk studi dan riset di institusi-institusi ini. Sebelumnya saya mendapat Zepler scholarship selama tiga tahun untuk S1. Kemudian karena mendapatkan funding yang signifikan dari pemerintah, biaya kuliah di ETH Zurich bisa dibilang affordable, lebih murah dari kebanyakan top-tier university di Indonesia. Jadi, waktu itu hanya menanggung biaya hidup disana. Saat ini, alhamdulilah saya diberikan full research scholarship dari MIT selama S3. Di MIT dan beberapa graduate-level universitas di Amerika, universitas tersebut biasanya menanggung biaya hidup dan kuliah jika kamu diterima masuk dan disetujui oleh Professor di universitas yang terkait untuk mengenyam S3. Oleh karena itu, disamping menjadi Ph.D. student, saya juga bekerja menjadi research assistant di MIT.

Kak Mandy berfoto bersama salah satu karya seni MIT yang bernama The Alchemist. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Kadang di Indonesia ada istilah study oriented atau mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) bagi yg fokus di akademis, bagaimana kultur di luar negeri dan bagaimana opini kak Irmandy tentang itu?

Kehidupan kampus di sini memang vibrant, disiapkan untuk semua kalangan mahasiswa. Kulturnya bebas, disamping pelajaran kelas, banyak student groups dan event di kampus seperti seminar, conference, workshop, talks, maupun hackhaton. Organisasi dan kegiatan-kegiatan ini menurut saya sangatlah penting untuk mempersiapkan kehidupan kita setelah kuliah. Dari mengikuti kegiatan ini, kita bisa mendapat pengalaman baru, menambah koneksi dengan orang-orang industri dan akademia atau venture capitalist, mungkin kita juga bisa bertemu dengan orang-orang yang akan bekerja dengan kita di masa depan. Karena kehidupan akademik MIT sangatlah demanding, sangat disarankan juga disini untuk membuat study circles sendiri, karena bisa belajar, berdiskusi, dan saling mengingatkan dengan satu sama lain tentang problem sets, exams, etc.

Kalau untuk saya sendiri, karena fokus saya di riset dan teaching, setiap harinya saya tidak hanya kerja di lab dan mengajar kelas, tetapi saya harus sering berdiskusi dengan banyak orang, dari Professor, kolega-kolega, sampai industri sponsor. Saya juga secara teratur mengikuti seminar, workshop, dan konferensi di dalam dan luar kampus. Time-management sangatlah penting, agar kita bisa tetap melakukan hobi kita di waktu luang, dan mendapatkan keseimbangan antara kehidupan kampus dan personal life, antara karir dan self-growth.

Baca juga:
Menyeimbangkan aktivitas kuliah dan self growth termasuk salah satu rahasia kak Mandy. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Warstek pertama tahu kak Irmandy dari IG MIT Media Lab, kak Irmandy sedang riset fabric and soft wearable electronic, bisa dijelaskan mengapa kak Irmandy tertarik untuk meneliti hal tersebut? Kira-kira nanti produk pamungkas dari riset tersebut apa kak?

Ketertarikan saya dengan wearable electronics dimulai saat saya mengambil kelas micro dan nanotechnology di S1 Universitas Southampton. Karena kemajuan di bidang material science dan fabrication technology ini, diperkirakan bahwa elektronik kedepannya akan tertanam di mana-mana, sesuai dengan konsep “Internet of Things”. Oleh karena itu, saya mulai mengeksplorasi tentang subyek human-machine interfaces. Bagaimana di masa depan manusia akan berhubungan dengan komputer yang akan berada di berbagai tempat, dari kulit, pakaian, lingkungan, sampai luar angkasa. Waktu S1, saya juga pernah bekerja sebagai Technology Intern di Studio XO, sebuah fashion technology lab di London. Kliennya adalah Lady Gaga, dan saya mendapat kesempatan untuk bekerja dengan fashion designers dan industrial engineers untuk membuat kostum robotik [1] yang dipakainya saat iTunes festival 2013.

Setelah itu, saya memutuskan untuk mengambil Master degree in Electrical Engineering and Information Technology, khususnya di bidang Wearable Computing di ETH Zurich dan sekarang di MIT Media Lab. Mulailah di sini passion saya untuk menyatukan elektronik dengan berbagai media. Saya sangat tertarik untuk mengubah electronic devices saat ini yang kebanyakan rigid agar menjadi soft, flexible, dan stretchable supaya bisa diintegrasikan ke tekstil atau tubuh kita. Aplikasinya banyak, salah satu contohnya adalah proyek saya yang bernama FabricKeyboard [2]. Kalau saat ini, fokus saya adalah wearable electronics untuk biomedical applications. Bagaimana bila alat-alat kesehatan di rumah sakit yang bulky, ribet karena banyak kabel dan tidak nyaman bisa diubah bentuknya menjadi miniatur, tipis, dan nyaman dipakai layaknya stiker atau kain. Dengan ini, future medical monitoring dan treatment akan bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa harus langsung ke rumah sakit.

Salah satu produk dari riset kak Mandy dalam bidang fabric and soft wearable electronic. Sumber: Instagram @irmandyw
  1. Banyak mahasiswa Indonesia yang juga ingin studi lanjut di luar negeri kak, apakah ada saran bagi mereka?

Saran saya adalah rencanakan dari awal mungkin. Cobalah terus untuk apply dan jangan takut gagal. Carilah program-program dan universitas yang cocok dengan passion kamu dan persiapkan juga source of funding, apakah dari beasiswa, grants, atau research assistantship. Untuk yang ingin mengambil doctoral research, melalangbuanalah ke konferensi dunia, buatlah banyak koneksi dengan researcher luar negeri dan belajarlah dari pengalaman mereka. Lebih baik lagi kalau profesor yang akan menjadi supervisor kamu sudah tahu kenal dari awal, misalnya, dengan bertemu di konferensi, mensitasi paper mereka, atau mengikuti exchange program universitas untuk intern riset di grup profesor tersebut, karena ini akan menambah kesempatan kamu untuk diterima.

Kak Mandy bersama mahasiswa asal Indonesia lainnya yang berkuliah di Amerika, ada Pak Jusuf Kalla ikut berfoto. Sumber: Instagram @irmandyw

Di samping kompetensi, salah satu syarat dari admission, dan yang kadang-kadang dilihat lebih adalah personal statement. Yang saya pelajari dari pengalaman saya adalah universitas di sini tidak hanya melihat skill dan accompIlishment kamu, tetapi mereka ingin melihat juga keunikan dari para kandidat, apakah dirimu dan background kamu tambahan yang bagus untuk meragamkan komunitas dan ekosistem mereka, dan apakah visi dan misi kamu sesuai dengan prinsip mereka. Usahakanlah agar cerita di esai ini, entah pengalaman atau opini kamu tentang suatu hal menggambarkan persona atau karakter diri kamu yang menarik dan stand-out dari applicant lainnya.

  1. Pertanyaan yang agak susah nih, apakah kak Irmandy nantinya akan berkarir di luar negeri apa di Indonesia?

Saya tidak ada preferensi untuk berkarir di luar negeri atau di Indonesia. Selama ini hidup saya nomaden, karena saya sangat suka untuk mencari pengalaman yang baru. Beberapa tahun yang akan datang, kemungkinan besar saya masih bolak-balik Indonesia dan Amerika. Yang pasti, suatu saat nanti saya akan kembali ke tanah air dan mendirikan sesuatu yang baru untuk Indonesia.

Meskipun karirnya fokus di dunia akademik, kak Mandy juga tidak canggung dalam dunia industri. Sumber: Instagram @MITMediaLab

Referensi dalam wawancara:

[1] Pakhchyan, S. 2013. Lady Gaga’s Bubble Machine Dress

[2] Miller, M. 2017. MIT’s Experimental Keyboard Is Unlike Any Instrument You’ve Seen (Or Heard)

Bagaimana apakah Sahabat Warstek termotivasi? Hmm. Kira-kira siapa sosok inspiratif lainnya yang akan Warstek wawancarai nih? Sampaikan namanya di kolom komentar ya gaes, juga pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan pada orang tersebut.


*FYI, Albert Einstein adalah alumni dari ETH Zurich tahun 1900 dan istrinya (Mileva Maric) juga alumni dari ETH Zurich, sedangkan MIT adalah kampus yang menempati peringkat 1 terbaik di dunia secara 8 tahun berturut-turut, termasuk di tahun 2019. Ranking tersebut dirilis pada 19 Juni 2019 oleh Quacquarelli Symonds (QS). QS merupakan perusahaan di bidang pendidikan yang membantu puluhan juta calon mahasiswa membuat pilihan universitas yang tepat. Peringkat universitas terbaik yang dirilis oleh QS termasuk salah satu sistem pemeringkatan yang populer di masyarakat dunia, disamping ada sistem perangkingan lainnya seperti CWUR, Webometrics, Times Higher Education (THE), dll.

Berikut ini adalah 5 kampus terbaik dunia versi QS World University Ranking:

Diakses pada 22 Juni 2019. Sumber: QS World University Ranking

 

Sosial Media

Nur Abdillah Siddiq

Founder at Warstek.com
Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek .
Nur Abdillah Siddiq
Sosial Media
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Satu gagasan untuk “Wawancara Eksklusif dengan Irmandy Wicaksono – Lulusan S3 MIT dengan Full Research Scholarship

  • 23 Juni 2019 pukul 18:59
    Permalink

    Hm…
    Lembaran chipsetnya sama kayak bajunya Spider-Man dari seri far from home.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *