Peneliti Menemukan Masalah Besar Dengan Ketamin, Obat Penyembuh Depresi

Siapa yang tidak pernah mengalami stres dan depresi? Pastinya semua orang pernah mengalami hal tersebut. Stres dapat terjadi apabila kita mengalami tekanan dalam hidup, kurangnya kontrol emosi, dan manajemen diri yang kurang baik. Sebenarnya kitapun dapat menghilangkan stres dari dalam diri kita sendiri dengan cara lebih banyak bersyukur, mengontrol emosi, beribadah untuk mendapatkan ketenangan, makan makanan yang sehat serta pola tidur yang cukup.

Akan tetapi, banyak diluar sana kasus stres yang tidak dapat ditangani karena menyangkut masalah dengan orang lain, sampai-sampai stres berakibat pada kasus bunuh diri yang terjadi di hampir seluruh negara di muka bumi ini. Stres atau depresi dalam dunia pengobatan medis terkadang masih menggunakan obat-obatan sebagai proses penyembuhan. Obat-obatan tersebut digunakan untuk menurunkan aktivitas syaraf di otak dan membuat pikiran menjadi lebih tenang dan rileks, salah satunya dengan menggunakan ketamin.

Ketamin dianggap sebagai obat ajaib untuk antidepresan atau penurun kadar stres. Berbagai penelitian telah melaporkan efek berbagai obat-obatan untuk sistem opioid di otak. Opioid adalah zat kimia psikoaktif yang bekerja di pusat syaraf yang bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri, contohnya morfin. Artinya ketamin berpotensi dan bertindak sebagai opioid seperti morfin dan oksikodon, tetapi dalam mekanisme yang berbeda. Penelitian terbaru yang terbit di The American Journal of Psychiatry pada 29 Agustus 2018 menegaskan bahwa ketamin efektif dalam pengobatan depresi, tetapi para peneliti mengatakan bahwa obat yang akan digunakan sebagai antidepresan mungkin akan sangat terbatas. Hal ini dikarenakan obat dapat memicu permasalahan baru.

Secara khusus, kecanduan opioid dan ketergantungan pada obat penghilang rasa sakit telah memasuki masa-masa krisis di Amerika Serikat. Sebelumnya ketamin dianggap bertindak hanya semata-mata untuk sistem glutamat di dalam otak manusia, namun studi baru yang terbit di di The American Journal of Psychiatry menceritakan cerita yang berbeda. “Sebelum kami melakukan studi, saya tidak yakin ketamin itu benar-benar bekerja untuk mengobati depresi” Kata salah satu peneliti, Alan Schatzberg dari Stanford University School of Medicine di California. “Sekarang saya tahu cara kerja obat itu, akan tetapi cara kerjanya berbeda dengan yang orang lain pikirkan”

FDA (Food and Drug Administration) belum menyetujui ketamin untuk pengobatan depresi, namun beberapa dokter telah meresepkan ketamin sebagai solusi cepat dan jangka pendek dalam pengobatan depresi, meskipun pengaruhnya terhadap depresi di otak tidak sepenuhnya dipahami.

Baca juga:

Dalam percobaan skala kecil, 12 orang menjadi sukarelawan yang sebelumnya telah berjuang untuk mencari pengobatan yang efektif untuk depresi. Mereka diberi dosis ketamin 2x sehari dalam 2 minggu. Setelah diberikan opioid, diberikan pula placebo dan obat anti opioid yang mencegah kecanduan seperti naltrexone. Placebo adalah obat kosong atau tidak berefek yang biasa digunakan pada pasien  penderita kecanduan obat. Hasil penelitian menunjukan gejala-gejala depresi yang jauh lebih baik dalam tes placebo, tetapi tidak pada tes naltrexone yang menunjukan ketamin bekerja pada reseptor opioid otak. “Kita sangat membenci depresi dan wabah bunuh diri yang disebabkan oleh penggunaan ketamin yang berlebih, mungkin hal itu tidak disengaja tumbuh sebagai ketergantungan opioid dikepala mereka” kata Peneliti saraf, Mark George dari Medical University of South Carolina yang menulis penelitian terbaru tentang itu.

Para peneliti menunjukan bahwa ketamin masih bisa berguna sebagai antidepresan yang sangat efektif, akan tetapi itu harus digunakan dengan hati-hati. Penelitian tersebut juga dapat membantu para ilmuan untuk lebih mendalami hubungan antara depresi dan penggunaan obat candu yang berlebihan. Wabah opioid mencatat ada sekitar 49.000 kematian tahun lalu di Amerika Serikat.

Ada batasan untuk mempelajari pengaruh ketamin, termasuk jumlah kecil dari orang-orang yang terlibat sebagai uji coba terhadap keberhasilan ketamin. Penelitian tidak selalu membuktikan bahwa ketamin bekerja melalui sistem opioid, baik itu mungkin obat hanya memerlukan reseptor-reseptor otak yang beroperasi. Hal ini mungkin juga dapat dijelaskan bahwa ketamin hanya melepaskan endorphin di otak, seperti kebanyakan opioid lainnya yang bekerja pada reseptor opioid secara langsung. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apa yang terjadi, tetapi untuk sekarang ilmuwan merekomendasikan untuk hati-hati dalam penggunaan ketamin. “Dengan penemuan baru ini, kita harus berhati-hati tentang penggunaan ulang ketamin sebelum pengujian mekanistik lebih lanjut yang telah dilakukan untuk menentukan apakah ketamin hanya salah satu opioid yang ada di dalam novel saja” Dikatakan oleh George.

Referensi

  • Williams, N.R., Heifets, B.D., Blasey, C., Sudheimer, K., Pannu, J., Pankow, H., Hawkins, J., Birnbaum, J., Lyons, D.M., Rodriguez, C.I. and Schatzberg, A.F., 2018. Attenuation of antidepressant effects of ketamine by opioid receptor antagonism. American Journal of Psychiatry, pp.appi-ajp. https://ajp.psychiatryonline.org/doi/10.1176/appi.ajp.2018.18020138

Gio Suryana Putra

Sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia. Mendalami ilmu Nanoteknologi dan Bioteknologi
Gio Suryana Putra

Latest posts by Gio Suryana Putra (see all)

Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *