Akibat Limbah, Pasar Modern Koba Kab. Bangka Tengah Alami Pencemaran Lingkungan

Ketika lingkungan berubah, pasti ada perubahan yang berhubungan di dalam kehidupan. —Charles Lindbergh

Kata-kata di atas seakan mewakili, setiap perubahan yang ada di muka bumi, tak lepas dari campur tangan manusia. Namun, tanpa kita sadari makhluk hidup yang dinamakan manusia adalah penyumbang limbah terbesar di dunia, akibatnya pencemaran lingkungan semakin sulit untuk diatasi.

Pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah, dapat berdampak pada kesehatan, lingkungan maupun sosial budaya. Salah satu lingkungan yang memiliki tingkat pencemaran yang tinggi adalah pasar, karena merupakan tempat berlangsungnya jual beli yang dibutuhkan oleh setiap komunitas. Dalam lingkungan pasar, limbah yang dihasilkan dipengaruhi oleh jenis barang yang diperdagangkan. Sampah pasar memiliki karakteristik yang khas, volume yang besar, kadar air yang tinggi, serta mudah membusuk. Oleh karena itu, pengelolaan limbah yang berasal dari pasar perlu penanganan yang tepat.

Limbah di Pasar Modern Koba

Pasar Modern Koba, yang berada di lokasi Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah adalah salah satu contoh lingkungan pasar yang mulai tercemar. Beberapa limbah yang berasal dari sisa-sisa sayuran yang membusuk, sampah plastik, air bekas mencuci piring dan lainnya terlihat menggenang di daerah selokan dan berwarna hitam, serta berbau busuk.

Melihat dampak dari limbah pasar yang kurang baik, maka perlu penanganan serius terkait dengan masalah tersebut. Selama ini pengolahan limbah dari sampah organik hanya menitikberatkan pada pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos, padahal sampah dapat dikelola menjadi bahan bakar/sumber energi dan pakan ternak yang baik. Hal ini akan lebih bernilai ekonomis dan lebih menguntungkan. Mirisnya praktik saat ini, hal tersebut belum mendapatkan penanganan yang tepat.

Ada beberapa jenis limbah sayuran pasar yang dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia diantaranya adalah bayam, kangkung, kubis, kecambah, kacang hijau, daun kembang kol, kulit jagung, klobot jagung dan daun singkong. Berdasarkan hasil pengamatan di Pasar Modern Koba, lokasi lingkungan yang tercemar bahkan banyak ditumbuhi sayuran, seperti kangkung dan tumbuh subur.

Kangkung Tumbuh Subur

Pada tahun 1954, sampah yang diberikan bersama-sama dengan limbah sungai ternyata mampu meningkatkan produksi susu dan berat badan ternak milik peternak Schendal dan Johson di Amerika. Bahkan di Amerika pupuk organik yang terbuat dari sampah dan kotoran sungai yang telah dikeringkan sering digunakan sebagai pakan ternak (Mara dan Cairncross, 1994).

Baca juga:

Menurut hasil penelitian, diketahui bahwa sampah yang sering dianggap lebih banyak menyebabkan masalah karena mencemari lingkungan ternyata banyak mengandung mineral, nitrogen, fosfat, kalium, serta vitamin B-12. Vitamin B-12 terkandung dalam sampah karena adanya sejenis bakteri yang dapat menfermentasikan sampah dan mensintesis vitamin B-12. Unsur-unsur tersebut diatas merupakan unsur yang sangat diperlukan ternak. Sebagai pakan pendukung, tentu saja sampah tersebut akan lebih aman digunakan sebagai pakan apabila diproses dahulu, misalnya dengan cara pengeringan atau fermentasi (Widyawati dan Widalestari, 1996).

Limbah yang berasal dari lokasi Pasar Modern Koba terdiri dari bahan-bahan hayati yang dibuang, karena tidak dapat dijual. Limbah ini banyak terdiri dari sayur-sayuran, buah-buahan yang sudah tua atau sudah busuk serta daun-daun lainnya. Sayur-sayuran seperti kentang, ketimun dan buncis mengandung banyak enzim. Enzim-enzim tersebut apabila tidak diinaktifkan akan dapat menimbulkan bau yang menyengat. Untuk menginaktifkan enzim-enzim penyebab bau busuk tersebut cukup dengan pengeringan sebelum difermentasikan. Mikroba tertentu dapat dipakai didalam proses fermentasi untuk mengawetkan pakan. Hasil fermentasi diperoleh sebagai akibat metabolism mikroba-mikroba pada suatu bahan pangan dalam keadaan anaerob. Perombakan yang kompleks pada fermentasi sayur-sayuran dihasilkan oleh serangkaian pertumbuhan bakteri asam laktat Leuconostoc mesentroides. Perombakan ini umumnya memulai proses fermentasi kemudian disempurnakan oleh berbagai species lactobacillus. Walaupun hasil fermentasi menunjukkan adanya kehilangan beberapa zat, namun hal ini diimbangi dengan banyak hal yang menguntungkan. Makanan yang telah difermentasi selain dapat disimpan lama juga kualitas nutrisinya biasanya meningkat (Ishak dan Amrullah, 1985).

Contoh pencemaran lingkungan di atas hanya perwakilan dari sebagian pencemaran yang terjadi di lingkungan pasar, masih banyak lagi contoh pencemaran yang harus dibenahi bukan hanya untuk pemerintah, tapi untuk kita semua. Ingat kita tidak mewarisi bumi dan alam sekitarnya dari nenek moyang kita, tapi kita meminjamnya dari anak-nak kita, maka sudah menjadi sebuah kewajiban untuk mengembalikannya sebagaimana kita meminjamnya – Sindy Ayu Kirana.

Referensi

  • Ishak, Elly dan Sarinah Amrullah. 1985. Ilmu dan Teknologi Pangan. Ujung Pandang: Kerjasama Perguruan Tinggi Negeri Bagian Timur.
  • Mara dan Cairncross.1994. Pemanfaatan Air Limbah Dan Ekskreta. Bandung: Penerbit ITB Bandung.
  • Widyawati dan Widalestari. 1996. Limbah Untuk Pakan Ternak. Jakarta: Rineka Cipta.
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *