Bagikan Artikel ini di:

Salah Satu Pesawat All Nippons Airport (Sumber : Forbes)

Siapa yang tidak kenal negara Jepang? Berbagai macam penemuan unik dan aneh berasal dari negeri ini. Jika sebelumnya kita pernah mendengar tentang penemuan teknologi virtual reality untuk para jomblo, maka ada satu penemuan lagi yang sama anehnya dengan penemuan tersebut. Pada musim gugur 2019 nanti, All Nippon Airways (ANA), maskapai penerbangan asal Jepang, akan mencoba menerbangkan pesawat dengan bahan bakar yang sangat unik dan aneh, yaitu bahan bakar dari kotoran kelinci[1].

Kotoran Kelinci sebagai Sumber Biofuel (Sumber : Media Indonesia)

Kotoran kelinci? Yup, anda tidak salah baca. Wakil pimpinan ANA, Akihiko Miura, menyatakan bahwa maskapainya akan melakukan uji coba penerbangan pesawat dengan bahan bakar yang berasal dari kotoran kelinci. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya yang sedang berkembang  untuk menurunkan jejak karbon industri dan untuk menghindari pajak emisi yang diberlakukan baru-baru ini oleh beberapa negara[2].

Tapi kenapa harus kotoran kelinci? Dilansir dari Forbes, ternyata di dalam kotoran kelinci terdapat mikroba unik yang mampu mengkonversi gas-gas emisi kaya karbon menjadi ethanol. Ethanol merupakan bahan yang bertindak sebagai pencampur oksigen dalam bensin, dan berperan dalam mengurangi jumlah karbon monoksida dan jelaga yang diemisikan oleh mesin. Walaupun para kritikus telah memperingatkan bahwa ethanol (terutama dalam konsentrasi yang lebih tinggi) dapat merusak mesin, namun penyataan tersebut masih bersifat lemah menurut beberapa pihak[1].

Teknologi Lanzatech untuk mengkonversi emisi gas karbon menjadi biofuel (Sumber : Airline Ratings)

Bagaimana proses pengubahan gas emisi kaya karbon ini menjadi ethanol? LanzaTech, perusahaan yang bekerja sama dengan ANA dalam proyek ini, menggunakan teknologi fermentasi gas bertenaga mikroorganisme canggih (dari kotoran kelinci) untuk menciptakan ethanol. Teknologi ini selanjutnya dikembangkan oleh Pacific Northwest National Labs (PNNL) dan memungkinkan produksi bahan bakar penerbangan menjadi lebih sustainable[4].

PNNL mengembangkan proses termokatalitik unik untuk mengubah etanol menjadi ATJ-SPK (Alcohol to Jet Synthetic Paraffinic Kerosene). ATJ-SPK merupakan bahan bakar alternatif yang dibuat dari isobutanol secara bioteknologi. Langkah pertama dari proses ini adalah mengubah etanol menjadi etilen dengan metode dehidrasi[3]. Dehidrasi adalah proses penghilangan kandungan air dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Lalu tahap selanjutnya adalah tahap oligomerisasi. Pada tahap oligomerisasi, molekul-molekul etilen secara kimiawi dikombinasikan untuk membentuk molekul hidrokarbon yang dibutuhkan untuk bahan bakar penerbangan. Hidrokarbon-hidrokarbon tersebut kemudian dihidrogenasi, dan diikuti oleh fraksinasi untuk menghasilkan ATJ-SPK dengan karakteristik yang sesuai dengan yang diinginkan. Hidrogenasi adalah proses penambahan hidrogen pada hidrokarbon . Fraksinasi adalah proses pemisahan campuran cairan, gas atau padatan ke dalam komponennya[4].

Baca juga:

Biofuel ini direncanakan akan dicampurkan dengan avtur, dengan komposisi 50 persen bioavtur dan 50 persen avtur komersial. Dilansir dari Green Car Congress, ANA dikabarkan telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan Mitsui & Co., Ltd., pada tahun 2018, untuk mengembangkan bersama bisnis manufaktur bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang menggunakan teknologi katalitik inovatif dari LanzaTech. Dan kabarnya, jika proyek ini berhasil, maka di tahun 2020 penerbangan dengan bahan bakar unik ini dapat dinikmati di jepang[2]. Bagaimana? Apakah anda tertarik untuk mencoba pesawat dengan bahan bakar kotoran kelinci?

Sumber :

[1] Dan Reed. 2019. A Wild Hare Of An Idea: Japanese Airline ANA Will Test Biofuel Derived From Rabbit Poop. Diakses pada tanggal 6 Juli 2019 di : https://www.forbes.com/sites/danielreed/2019/06/28/a-wild-hare-of-an-idea-japanese-airline-will-test-biofuel-derived-from-rabbit-pellets/#eda3a8e5152c

[2] Green Car Congress. 2019. ANA signs offtake agreement with LanzaTech for alcohol-to-jet sustainable aviation fuel. Diakses pada tanggal 6 Juli 2019 di : https://www.greencarcongress.com/2019/06/20190618-ana.html

[3] Richter, Sandra, Clemens Naumann, Uwe Riedel. 2017. Experimental Study on the Combustion Properties of an Alcohol-to-Jet Fuel. Proceedings of the 2nd World Congress on Momentum, Heat and Mass Transfer

[4] Steve Creedy. 2019. Microbes to Help Power All Nippon Airways Planes. Diakses pada tanggal 6 Juli 2019 di : https://www.airlineratings.com/news/microbes-help-power-nippon-airways-planes/

Putera Rakhmat

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia yang Tertarik dan Sedang Mendalami Dunia Biokimia.
Putera Rakhmat
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan