Tingkat Pendidikan Orang Tua Sangat Berpengaruh terhadap Kualitas Pendidikan Seks Pada Anak

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya. Orang tua tidak hanya sekedar mendidik, melainkan juga harus selalu memberikan kualitas pendidikan lainnya (non formal) seperti pendidikan seks pada anak. Yang mana hal tersebut terkadang tidak diajarkan di sekolah formal. Padahal pendidikan seks merupakan bekal pergaulan di jaman modern saat ini agar tidak terjerumus kepada hubungan seks bebas atau tindakan kriminal [1].

Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa membicarakan mengenai seks pada anak adalah hal yang tabu, sehingga dari ketidak fahaman tersebut anak-anak merasa tidak bertanggung jawab dengan kesehatan anatomi tubuhnya. Selain masih tabu, orang tua beranggapan seks merupakan masalah yang akan diketahui dengan sendirinya oleh anak ketika sudah mencapai tingkat perkembangannya. Padahal yang diharapkannya ketika anak mendapat pendidikan seks dari orang terdekat yaitu orang tua maupun keluarga, maka anak akan tumbuh menjadi seorang remaja yang dapat mengetahui perkara yang dibolehkan atau tidak dibolehkan secara norma maupun agama.

Jika tidak diberitahu terlebih dahulu oleh orang tua, maka ada kecenderungan bahwa anak akan diberi pengetahuan seks yang keliru oleh teman, televisi, media sosial, internet, maupun lingkungannya. Salah satu contoh pendidikan seks pada anak adalah menjelaskan risiko jika anak atau remaja melakukan hubungan seksual sebelum waktunya (dibawah 20 tahun) dan bukan hanya pada 1 orang (berganti-ganti).

Adapun manfaat lain dari pendidikan seks pada anak yang diberikan oleh orang tua adalah:

  • Jika dilakukan dengan cara yang tepat, membahas tentang seks justru akan membuat anak menganggapnya sebagai hal yang penting. Anak akan menyadari bahwa tidak ada yang boleh memaksanya melakukan atau menerima perlakuan buruk pada tubuhnya.
  • Pemahaman yang tepat bisa membuat anak belajar untuk memilih, bersikap, dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
  • Penelitian membuktikan bahwa anak dari orang tua yang mendiskusikan seks secara terbuka, lebih cenderung memilih menunggu waktu dan pasangan yang tepat untuk berhubungan seksual.
  • Pembelajaran anatomi tubuh pada mata pelajaran biologi di sekolah akan menjadi lebih lengkap dengan adanya orang tua yang memberikan pemahaman tentang aspek moral dari hubungan seksual antara pria dan wanita.
  • Seks adalah hal yang manusiawi. Di dalamnya terkandung banyak aspek mulai dari budaya, agama, moral, hingga konsep manusia tentang kebahagiaan. Membicarakannya dengan baik-baik akan membuat anak pada nantinya mampu melihat dunia dan diri sendiri secara beradab dan lebih bijak menentukan pilihan-pilihan yang tepat.

Dalam memberikan arahan maupun bimbingan kepada anak, orang tua harus lebih aktif dalam memberikan arahan maupun bimbingan mengenai pendidikan seks anak. Dari hasil penelitian (skripsi) yang dilakukan oleh Dewi Setyawati dari IAIN Surakarta membuktikan bahwa kualitas pendidikan seks pada anak sangat bergantung pada tingkat pendidikan orang tua [2].

Penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif yang dilaksanakan di Desa Kemasan Sawit Boyolali. Jumlah sampelnya sebanyak 40 kepala keluarga yang memiliki anak usia 7-10 tahun. Teknik Sampling menggunakan random sampling, pengumpulan data menggunakan angket.  Adapun komposisi tingkat pendidikan dalam sampel tersebut adalah orang tua yang tergolong memiliki tingkat pendidikan kategori tinggi (lulusan institut, perguruan tinggi, atau akademi) adalah 22,50%, tingkat pendidikan kategori sedang (lulusan SMA) adalah 40%, dan kategori rendah (lulusan SD dan SMP) adalah 37,50%.

Analisis hasil penelitian didasarkan pada skor kuesioner (angket). Jenis angket yang digunakan dalam penelitian adalah angket tertutup yakni pada tiap-tiap item telah tersedia alternatif jawaban, dimana responden tinggal memilih alternatif respon yang dianggap benar atau yang sesuai dengan keadaan dirinya.

Penyusunan angket menggunakan skala likert yaitu dengan menggunakan rentang mulai dari pernyataan sangat positif sampai pernyataan sangat negatif, alternatif jawaban adalah Selalu (S), Sering
(SR), Kadang (KD), Jarang (J) dan Tidak Pernah (TP).

Dengan berbagai pengujian seperti uji prasyarat analisis, uji homogenitas varian, dan uji hipotesis diperoleh hasil bahwa orang tua yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai nilai rata-rata 92,56, pendidikan menengah memiliki nilai rata-rata 82,88 dan pendidikan dasar mempunyai nilai rata-rata 75,73. Nilai maksimum adalah 100.

Adapun pertanyaan yang digunakan dalam angket tersebut adalah:

Baca juga:

Lantas bagaimana dengan orang tua yang sudah tidak ingin melanjutkan pendidikan tapi tetap ingin  mendapat pendidikan seks pada anak yang berkualitas? Orang tua hendaknya aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti kegiatan PKK, penyuluhan, atau pengajian agar dapat mendapatkan wawasan yang lebih banyak mengenai cara mendidik anak dengan baik, salah satunya adalah pemberian pendidikan seks. Atau bisa juga secara mandiri melalui membaca buku-buku dengan topik pendidikan seks pada anak.

Referensi:

[1] Alodokter.com. Pendidikan Seksual untuk Anak. Diakses pada tanggal 21 Juli 2019.

[2] Dewi, S. and Hardi, S.P., 2017. PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN ORANG TUA TERHADAP CARA MEMBERIKANPENDIDIKAN SEKS PADA ANAK DI DESAKEMASAN SAWIT BOYOLALI TAHUN AJARAN 2016/2017 (Skripsi, IAIN Surakarta).

Sosial Media

Nur Abdillah Siddiq

Founder at Warstek.com
Mahasiswa S3 Fisika ITS, menekuni bidang Optoelektronik dan Elektromagnetika Terapan. Sangat mencintai aktivitas membaca dan mendesain. Profil lebih lengkap dapat dilihat di www.facebook.com/fisrek .
Nur Abdillah Siddiq
Sosial Media
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *