Bagikan Artikel ini di:

Gambar 1. Ilustrasi Pengguna Twitter[7]

Sebagai suatu platform media sosial yang telah cukup lama diluncurkan yakni sejak 2006, Twitter nyatanya masih memiliki banyak pengguna setia hingga saat ini. Bahkan, kepopuleran Twitter merambah ke platformplatform media sosial lain. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya screenshoot cuitan dan thread dari Twitter yang tersebar di akun-akun Instagram, postingan Line, hingga laman Facebook. Menurut para pengguna setianya, fitur-fitur sederhana yang ditawarkan oleh Twitter justru menjadi daya tarik tersendiri, sebab mereka bisa dengan leluasa mengekspresikan diri, mengungkapkan opini, berbagi cerita dan pengalaman, hingga mencari teman baru tanpa berpotensi untuk terbebani secara mental karena kepo dengan story orang lain atau pusing mempercantik feed seperti di Instagram.

Karena Twitter adalah salah satu ruang digital yang memungkinkan penggunanya untuk mengekspresikan diri, maka tidak heran jika kita bisa menilai orang lain melalui cuitan, hal yang sering ia sukai dan bagikan, bahkan foto profilnya. Tim peneliti dari Sekolah Kedokteran Universitas Pennsylvania telah mencoba menyelidiki adanya korelasi antara kualitas foto yang diposting dan diatur sebagai foto profil di Twitter dengan tingkat depresi dan kecemasan pada diri seseorang melalui pendekatan data visual komputer dan kecerdasan buatan[1].

Gambar 2. Gejala Depresi dan Kecemasan[8]

Dalam ilmu psikologi, depresi didefinisikan sebagai suatu gangguan mood atau suatu kondisi emosional berkepanjangan yang mempengaruhi proses berfikir, berperasaan, dan berperilaku seseorang[2]. Penderita depresi memperlihatkan tanda-tanda kehilangan energi dan minat, merasa bersalah, sulit berkonsentrasi, kehilangan nafsu makan, serta berfikir ingin bunuh diri[3]. Karena depresi merupakan gangguan mood yang berlangsung lama dan rentan kambuh, identifikasi dan penanganan dini pada kasus depresi memegang peran yang sangat penting dalam mencegah berkembangnya gejala-gejala episode depresi penuh yang lebih berbahaya[3].

Kecemasan (anxiety) merupakan keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan aprehensif bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi[4]. Gejala-gejala umum kecemasan meliputi merasa khawatir, merasa tidak berdaya, merasa sesuatu yang berbahaya akan datang, kesulitan bernafas, gemetar, serta merasa lemah atau lelah[5]. Meskipun tergolong normal, kecemasan yang telalu sering hingga menganggu aktivitas sehari-hari, memperburuk kesehatan fisik, dan menjurus pada perilaku ingin bunuh diri harus segera diatasi dengan pergi ke ahli kesehatan mental dan dukungan dari lingkungan sekitarnya[5].

Pada tahun 2018, tim peneliti dari Universitas Pennsylvania tersebut menemukan bahwa depresi dapat diprediksi tiga bulan sebelum dilakukan diagnosa menggunakan kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi kata kunci yang diisyaratkan oleh pengguna media sosial[1]. Karena saat ini media sosial termasuk Twitter, mayoritas mengandung konten gambar, sangat dimungkinkan untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan psikis seseorang melalui konten gambar tersebut untuk keperluan medis. Tim peneliti tersebut menggunakan algoritma untuk memilah fitur-fitur, seperti warna, ekpresi wajah, dan ukuran estetik yang berbeda (simetri, pencahayaan, dan ketajaman/fokus) dari foto yang diposting oleh lebih dari 4.000 sampel pengguna Twitter[6]. Kemudian, mereka menganalisis 3.200 cuitan terakhir dari masing-masing pengguna dan melakukan survei tradisional terhadap 887 pengguna untuk mengetahui skor tingkat depresi dan kecemasan mereka[6]. Selanjutnya, mereka menghubungkan antara skor tersebut dengan fitur-fitur foto yang telah dipilah tersebut.

Penelitian yang dipresentasikan di International AAAI Conference on Web and Social Media pada 11-14 Juni 2019 di Munich, Jerman tersebut akhirnya mengungkapkan bahwa pengguna Twitter yang mengalami depresi dan kecemasan memiliki kecenderungan untuk memposting gambar dengan nilai estetik yang lebih rendah dan warna mencolok yang lebih sedikit[1]. Sebaliknya, mereka suka memposting gambar atau foto yang memiliki warna dengan rentang gradasi hitam dan putih (grayscale). Jika ditinjau dari foto profilnya, pengguna Twitter yang mengalami depresi dan kecemasan juga memperlihatkan adanya penekanan emosi positif dalam diri mereka, seperti cenderung memasang muka datar daripada menunjukkan lebih banyak emosi negatif, semisal dengan mengerutkan dahi[1]. Selain itu, pengguna Twitter yang depresi terlihat lebih sering memposting foto sendirian, tanpa keluarga, teman, dan orang-orang disekitarnya serta jarang memposting foto mengenai aktivitas yang berkenaan dengan rekreasi atau minat mereka, dimana hal tersebut sangat umum ditunjukkan oleh pengguna yang non-depresi[6]. Menurut Sharath Guntuku, PhD, seorang peneliti di bidang kesehatan digital Sekolah Kedokteran Universitas Pennsylvania, yang turut berkecimpung dalam penelitian ini, alasan dari kondisi tersebut adalah depresi umumnya disertai oleh “emosi datar” yang dicirikan oleh berkurangnya ekpresi dan daya tarik pada hobi atau aktivitas lain yang umumnya dinikmati oleh orang lain[6].

Baca juga:

Guntuku, PhD mengungkapkan bahwa hasil penelitian timnya tersebut masih jauh dari sempurna untuk bisa diaplikasikan dalam mendiagnosa depresi dan kecemasan guna keperluan medis. Meskipun demikian, hasil penelitian ini sangat berpotensi untuk dikembangkan dengan versi yang lebih otomatis, sehingga dapat digunakan oleh petugas kesehatan dengan harga terjangkau untuk memonitor akun pengguna media sosial yang diduga mengalami depresi dan kecemasan dengan izin dari yang bersangkutan[1]. Apabila pengguna media sosial tersebut menunjukkan skor yang tinggi pada tingkat depresi dan kecemasan, petugas kesehatan wajib mengarahkannya untuk menjalani metode skrining yang lebih formal[6]. Hal ini dinilai merupakan terobosan baru yang menjanjikan bagi metode skrining depresi dan kecemasan di era digital seperti saat ini.

REFERENSI

[1] Anonim. 2019. Twitter Image Colors and content Could Help Identify Users With Depression, Anxiety. http://www.pennmedicine.org/news/news-releases/2019/may/twitter-image-colors-and-content-could-help-identify-users-with-depression-anxiety. Diakses pada 11 Juli 2019.

[2] Kaplan, H.I., Saddlock, B.J., dan Grebb, J.A. 1997. Sinopsis Psikiatri. Edisi Ketujuh Jilid I. Terjemahan Widjaja Kusuma. Jakarta: Bina Rupa Aksara.

[3] Saputri, A.R. 2017. Hubungan Tingkat Stres, Kecemasan, dan Depresi dengan Tingkat Prestasi Akademik pada Santri Aliyah di Pondok Pesantren Darul Ihsan TGK. H. Hasan Krueng Kalee, Darussalam, Aceh Besar, Aceh. Skripsi. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Jakarta.

[4] Nevid, J.S., Spencer, A. R., dan Greene, B.2005. Psikologi Abnormal. Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

[5] Anonim. 2012. Anxiety (Kecemasan): Materi Kuliah Online Bagi Anggota Keluarga, Relawan Kesehatan Jiwa dan Perawat Pendamping. Purworejo: Tirto Jiwo.

[6] Anonim. 2019. Twitter Image Colors and Content Could Help Identify Users With Depression, Anxiety. https://www.sciencedialy.com/releases/2019/05/190515115827.htm. Diakses pada 11 Juli 2019.

[7] D’Onfro, J. 2013. Twitter Admits 5% of Its Users are Fake. https://www.businessinsider.com /5-of-twitter-monthly-active-users-are-fake-2013-10?IR=T. Diakses pada 11 Juli 2019.

[8] Turnbull, L. 2018. Mental Health 201: Anxiety and Depression by Lindsey Turnbull. https://www.missheardmedia.com/mental-health-201-anxiety-and-depression-by-lindsey-turnbull. Diakses pada 11 Juli 2019.

Honesty Nurizza Pinanti

Alumni Jurusan BIologi, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga. Tertarik dengan dunia tulis menulis dan sains alam. Memiliki minat di bidang penelitian biologi molekuler dan bioteknologi.
Honesty Nurizza Pinanti
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan