Bagikan Artikel ini di:

Ditulis oleh Isna Rasdianah Aziz 

Penggunaan plastik dalam sektor industri sandang, pangan, papan, pendidikan, medis, transportasi, peralatan rumah tangga, mainan menjadi sangat populer dan masif di kalangan masyarakat Indonesia. Salah satu jenis konsumsi plastik adalah kantong plastik, dengan berbagai jenis dan warna. Kemasan plastik menjadi pilihan masyarakat karena nilai kepraktisan, harga lebih murah, awet, unik, daya tarik dalam warna, tulisan dan gambar serta memberi nilai higienis. Konsumsi kantong plastik di Indonesia diklaim lebih dari 1 juta per menit, dan dalam kurun tahun 2017, konsumsi plastik tercatat meningkat hingga 5,6 juta ton [1]–[3]. Hal ini menjadi kekhawatiran semua pihak akan dampak dalam penggunaan plastik. Mikroplastik yang tidak sengaja termakan oleh biota laut dan darat, dalam rantai makanan akan masuk ke dalam tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, seperti kanker, jantung, gangguan saraf, gangguan reproduksi, gangguan pencernaan, disfungsi tiroid, dan lainnya. Yayasan Kanker Indonesia (YKI), menyatakan bahwa penderita kanker usia muda di Indonesia mencapai 30% dari seluruh penderita kanker di Indonesia.

Selain berdampak pada kesehatan masyarakat, sampah plastik juga mencemari lingkungan hidup. Temuan komunitas Divers Clean Action (DCA) sebesar 63% sampah plastik di lautan Indonesia telah merusak berbagai habitat dan ekosistem laut [4]. Begitu pula sampah plastik yang menumpuk pada tempat pembuangan akhir (TPA). Minimnya proses konversi limbah plastik pada berbagai TPA tidak mampu mengatasi peningkatan kuantitas limbah plastik dari masyarakat. Plastik yang menumpuk sukar terurai karena sifatnya yang hidrofobik dan tersusun oleh polimer kuat, sehingga tidak mudah terdegradasi di lingkungan dalam waktu singkat. Sampah plastik membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terurai dan ratusan tahun jika dalam proses pembuatannya ditambahkan berbagai bahan kimia yang memperkuat struktur plastik tersebut. Kantong plastik umumnya membutuhkan 20 tahun untuk hancur dan terurai dalam tanah.

Dalam penelitian ini, lokasi penelitian bertempat di TPA Antang, Makassar sebagai tempat pengelolaan berbagai jenis sampah, termasuk sampah jenis kantong plastik. Limbah plastik jenis ini menumpuk pada 5 stasiun TPA. Proses degradasi alami dalam tanah berlangsung lambat, sehingga plastik puluhan tahun masih dapat ditemukan di lokasi (Gambar 1).

Gambar 1. Kondisi sampah kantong plastik pada stasiun TPA Antang, Makassar

Salah satu cara dalam pengelolaan sampah kantong plastik adalah dengan memanfaatkan potensi mikroorganisme sebagai upaya biodegradasi yang ramah lingkungan, tidak menimbulkan pencemaran dan masalah baru. Pada proses biodegradasi plastik ini, senyawa kimia dan polimer plastik akan dipecah oleh bantuan bakteri menjadi monomer yang lebih sederhana, tercerai-berai dan menjadi hilang sama sekali. Bakteri tanah yang diisolasi pada sampah tanah TPA Antang diformulasikan mampu melakukan proses biodegradasi kantong plastik hitam dan putih jenis LDPE selama 3 bulan.

Kolom Winogradsky merupakan miniatur ekosistem mikroorganisme yang dikondisikan dengan bioekologi mikroorganisme tersebut dalam waktu tertentu [5], [6]. Pada kolom Winogradsky, adanya perbedaan kekeruhan dan warna membentuk zona yang berbeda menunjukkan adanya mikroorganisme yang mampu tumbuh secara aerob dan anaerob. Mikroorganisme anaerob menempati lapisan terbawah di dalam tanah, sedangkan mikroorganisme aerob menempati kolom atas yang terkena cahaya matahari.

Gambar 2. Uji biodegradasi pada kolom winogradasky untuk memperoleh isolat bakteri yang potensial dalam mengurangi limbah kantong plastik hitam dan putih

Baca juga:

Diperoleh 12 isolat bakteri yang mampu melakukan proses biodegradasi pada kantong plastik hitam dan putih. Masing-masing isolat tersebut memiliki karakteristik koloni, warna dan bentuk elevasi yang menunjukkan perbedaan familia antara satu dengan yang lainnya. Isolat-isolat tersebut mampu mengurai plastik hitam dan putih dalam waktu 3 bulan. Proses biodegradasi pada plastik hitam jauh lebih cepat dibandingkan pada plastik putih. Hal ini menunjukkan bahwa formulasi pada kolom Winogradsky memaksa bakteri-bakteri tersebut memakan plastik sebagai sumber karbon dalam proses metabolismenya. Bakteri ini secara potensial dapat diaplikasikan pada sampah kantong plastik untuk mempercepat proses penguraian sampah kantong plastik di lingkungan.

Referensi:

[1]      D. N. Ainiyah and M. Shovitri, “Bakteri Tanah Sampah Pendegradasi Plastik dalam Kolom Winogradsky,” J. Sains Dan Seni Pomits, vol. 3, no. 2, pp. E63–E66, 2014.

[2]      INAPLAS, “Inaplas: Kebijakan Cukai Plastik Berpotensi Matikan Industri,” Jakarta: Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia, 2017.

[3]      KEMENPERIN, “Semester I, Konsumsi Plastik 1,9 Juta Ton,” Jakarta: Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2013.

[4]      D. C. Action, “Dynamic and courageous youth-led organization with aim to create Clean Ocean, Clean Future,” 2018.

[5]      D. J. Esteban, B. Hysa, and C. Bartow-McKenney, “Temporal and spatial distribution of the microbial community of winogradsky columns,” PLoS One, vol. 10, no. 8, pp. 1–21, 2015.

[6]      S. Parks, “Microbial Life in a Winogradsky Column: From Lab Course to Diverse Research Experience,” J Microbiol Biol Educ, vol. 16, no. 1, pp. 82–82, 2015.

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:
4 Comments
  1. Selamat Bu Isna. Sampah di TPA Antang perlu dicarikan solusi, salah satunya dengan pendekatan ilmiah ini.

    Penilaian Komentar
  2. Semoga hasil riset ini mampu mengatasi polusi plastik di Indonesia

    Penilaian Komentar
  3. Sangat membantu

    Penilaian Komentar
  4. Excellent article

    Penilaian Komentar

Tinggalkan Balasan