Pendidikan punya cerita : Era digitalisasi, Siapa Takut?

Ditulis Oleh Swasti Maharani

Tak terkecuali di dunia pendidikan, efek dari era digitalisasi mengharuskan pendidikan pun juga ikut perkembangan jaman. Pemikiran yang selama ini dipakai para pakar dalam ilmu komputer adalah computational thinking. Apa itu computational thinking? Computational Thinking atau berpikir komputasi merupakan sebuah metoda pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program. Berpikir komputasi tidak berarti berpikir seperti komputer, melainkan berpikir tentang komputasi di mana sesorang dituntut untuk (1) memformulasikan masalah dalam bentuk masalah komputasi dan (2) menyusun solusi komputasi yang baik (dalam bentuk algoritma) atau menjelaskan mengapa tidak ditemukan solusi yang sesuai. Kemampuan kognitif yang menjadi dasar dalam computational thinking adalah kemampuan spasial, kemampuan bernalar, dan kemampuan memecahkan masalah (Román-González, Pérez-González, & Jiménez-Fernández, 2017).

Perbedaan menonjol dari computational thinking dibanding proses-proses berpikir lainnya adalah di dalam computational thinking seseorang akan memecah masalah yang kompleks menjadi masalah yang lebih sederhana yang lebih mudah diselesaikan. Dalam kehidupan sehari-hari pun sangat diperlukan computational thinking. Sebagai contoh, saat seseorang akan pergi bekerja ke kantor, maka ia akan melakukan serangkaian kegiatan mulai dari bangun tidur hingga siap berangkat ke kantor. Jika Ia melakukan computational thinking, serangkaian kegiatan tersebut akan runtut dan efektif, sehingga waktu yang digunakan untuk melakukan serangkaian kegiatan tersebut akan minimal.

Jannete Wing di tahun 2006 merupakan orang pertama yang memperkenalkan computational thinking dalam disiplin ilmu yang lain. Namun, yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah computational thinking dalam dunia pendidikan.  Di Kanada, provinsi Nova Scotia dan British Columbia telah mengumumkan bahwa mereka akan memperkenalkan computational thinking sebagai tujuan kurikulum lintas kelas K-12 (Kotsopoulos et al., 2017). Di New Zaeland, sejak Juli 2016 menteri pendidikan sudah mencanangkan program teknologi digital untuk masuk ke dalam kurikulum sekolah. Rencana tersebut terimplementasikan pada tahun 2018 dengan nama New Zealand Curriculum and Te Marautanga o Aotearoa. Adapun subjek/materi dari teknologi digital tersebut antara lain Algorithms, Programming, Data Representation, Digital Devices and Infrastructure, Digital Applications, and Humans and Computers. Computer Science, Computational Thinking, and Programming akan menjadi topic baru di pendidikan dasar (Duncan, Bell, & Atlas, 2017). Guru pendidikan dasar di Italia sudah beberapa yang mengetahui secara eksplisit definisi dan pentingnya computational thinking dalam pembelajaran (Corradini, Lodi, & Nardelli, 2017). Beberapa guru di beberapa Negara di Eropa dan Amerika Serikat  sudah terlibat dalam kegiatan yang memiliki potensi kuat untuk memperkenalkan beberapa aspek computational thinking (Mannila et al., 2014). Separuh dari seluruh jumlah sekolah dasar di Lithuania memiliki antusiasme yang tinggi dalam menggunakan teknologi informasi di pembelajaran (Dagiene & Stupuriene, 2016).

Pendidikan informatika harus ditanggapi dengan serius dan menggabungkan berbagai kekuatan. Untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang konsep-konsep informatika, pelajaran formal tidak cukup menarik untuk menjaga motivasi siswa. Siswa harus didorong untuk bermain dengan konsep-konsep Informatika ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Integrasi computational thinking juga memberikan pendekatan baru untuk pemecahan masalah matematika, dan memperluas jangkauan matematika yang dapat digunakan siswa (Gadanidis, Cendros, Floyd, & Namukasa, 2017). Guru adalah salah satu pemain kunci terpenting dalam sistem pendidikan, dan mereka menerapkan dan menyampaikan kurikulum di sekolah sehingga pendapat mereka tentang kurikulum Informatika sangat penting untuk perbaikan di masa depan. Guru juga perlu tahu bagaimana mengenali dan memecahkan masalah yang mungkin timbul di dalam kelas ketika mereka menyampaikan kurikulum (Dagiene & Stupuriene, 2016).

Lalu, bagaimanakah posisi computational thinking ini di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan? Sebaiknya perlu adanya inovasi yang dapat menunjang kemajuan perkembangan teknologi di dalam pendidikan, misalnya dengan survey atau penelitian yang mengkaji kondisi guru-guru di Indonesia baik dari tingkat dasar sampai tingkat menengah. Bagaimana pengetahuan mereka tentang teknologi digital, apa saja yang sudah mereka lakukan untuk menunjang kemajuan jaman ini di bidang pembelajaran di sekolah, sarana dan prasarana apa saja yang mereka gunakan dalam pembelajaran, apakah sudah memanfaatkan teknologi informasi yang berhamburan sekarang. Jika kemajuan teknologi ini diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dan guru dapat memanfaatkannya dengan baik, bisa jadi pendidikan di Indonesia akan berkembang seiring dengan era digitalisasi. Salah satu hal yang penting untuk dikaji adalah apakah perlu untuk memasukkan computational thinking ke dalam kurikulum di Indonesia dimana kemampuan tersebutlah yang dirasa mampu membuat siswa dapat mengikuti arus perkembangan jaman yang serba digital ini. Hal tersebut sejalan dengan Hsu, Chang, & Hung (2018) yang menyebutkan bahwa tren penelitian dan potensi masalah penelitian computational thinking diusulkan sebagai referensi bagi para peneliti, instruktur, dan pembuat kebijakan. Memang perlu adanya inovasi dalam bidang pendidikan di Indonesia salah satunya dengan mengintegrasikan computational thinking ke dalam kurikulum pendidikan.

Penulis bermaksud ingin melakukan penelitian tentang computational thinking siswa sekolah dasar menggunakan aplikasi Scratch Jr.

Baca juga:

Scratch Jr merupakan sebuah aplikasi yang bisa digunakan dalam pembelajaran. Di dalam nya terdapat beberapa task yang dapat melatih siswa untuk coding.

Misalkan gambar tersebut, siswa diberikan tugas untuk menentukan langkah terpendek yang harus ditempuh agar tidak terkena hewan laut.

Daftar Pustaka

Corradini, I., Lodi, M., & Nardelli, E. (2017). Conceptions and Misconceptions about Computational Thinking among Italian Primary School Teachers. Proceedings of the 2017 ACM Conference on International Computing Education Research – ICER ’17, 136–144. https://doi.org/10.1145/3105726.3106194

Dagiene, V., & Stupuriene, G. (2016). Informatics Concepts and Computational Thinking in K-12 Education: A Lithuanian Perspective. Journal of Information Processing, 24(4), 732–739. https://doi.org/10.2197/ipsjjip.24.732

Duncan, C., Bell, T., & Atlas, J. (2017). What do the teachers think? Introducing computational thinking in the primary school curriculum. Proceedings of the Nineteenth Australasian Computing Education Conference on – ACE ’17, 65–74. https://doi.org/10.1145/3013499.3013506

Gadanidis, G., Cendros, R., Floyd, L., & Namukasa, I. (2017). Computational Thinking in Mathematics Teacher Education. Contemporary Issues in Technology and Teacher Education, 17(4), 458–477. https://doi.org/10.1007/978-3-319-52691-1_13

Hsu, T., Chang, S., & Hung, Y. (2018). How to learn and how to teach computational thinking: Suggestions based on a review of the literature. Computers & Education, 126, 296–310. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2018.07.004

Kotsopoulos, D., Floyd, L., Khan, S., Namukasa, I. K., Somanath, S., Weber, J., & Yiu, C. (2017). A Pedagogical Framework for Computational Thinking. Digital Experiences in Mathematics Education, 3(2), 154–171. https://doi.org/10.1007/s40751-017-0031-2

Mannila, L., Dagiene, V., Demo, B., Grgurina, N., Mirolo, C., Rolandsson, L., & Settle, A. (2014). Computational Thinking in K-9 Education. Proceedings of the Working Group Reports of the 2014 on Innovation & Technology in Computer Science Education Conference – ITiCSE-WGR ’14, (23), 1–29. https://doi.org/10.1145/2713609.2713610

Román-González, M., Pérez-González, J. C., & Jiménez-Fernández, C. (2017). Which cognitive abilities underlie computational thinking? Criterion validity of the Computational Thinking Test. Computers in Human Behavior, 72, 678–691. https://doi.org/10.1016/j.chb.2016.08.047

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

4 gagasan untuk “Pendidikan punya cerita : Era digitalisasi, Siapa Takut?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *