Bagikan Artikel ini di:

Ditulis Oleh Berthianna Nurcresia

“Are we alone? Maybe Kepler today has told us indirectly, although we need confirmation, that we are probably not alone” (Mario Perez – Kepler Scientist)

Ilustrasi planet Venus dan Bumi (www.sciencepally.com)

Di alam semesta ini ada banyak sekali benda – benda langit yang tidak jarang bisa kita lihat menggunakan mata telanjang. Tidak hanya komet atau Matahari, namun ada juga planet – planet yang menghiasi indahnya langit malam. Jika selama ini kita menyangka bahwa hanya ada Sembilan planet saja (termasuk Pluto), ternyata masih ada banyak planet – planet yang tidak kita ketahui, sehingga sejak abad ke 16, seorang filsuf dari Italia yang bernama Giordano Bruno mengemukakan pendapatnya mengenai “dunia lain.” Setelah itu, hingga saat ini semakin banyak ilmuwan yang mencari tahu keberadaan dunia lain tersebut. Apakah dunia lain itu? Mari kita simak pada pembahasan berikut.

Dunia Lain = Planet Layak Huni

Pernah mendengar istilah “dunia lain”? Ya, tentu saja kita sering mendengar dari film – film horor atau dunia supernatural sering memakai istilah tersebut. Dunia dimana para mahluk yang tidak kasat mata berkumpul dan dipakai untuk bahan uji nyali. Tapi tunggu, dunia lain disini bukan dipakai untuk bahan uji nyali. Jadi apa itu “dunia lain” yang dimaksud?

Pada umumnya, dunia lain memang dikaitkan dengan suatu tempat yang rupanya adalah dalam bentuk nyata atau imajinasi. Namun, dunia lain disini tentunya adalah tempat yang sangat nyata sekali walaupun harus dicari bertahun – tahun menggunakan akal sehat. So, dunia inilah yang diberi istilah “Planet layak huni,” karena letaknya yang berada di dalam zona layak huni. Hingga tahun 2017, planet – planet ini masih menjadi pembahasan yang sangat menarik [1]. Mengapa? Bila kita ketahui hanya Bumi yang termasuk ke dalam kategori layak huni, ternyata planet – planet di luar tata surya kita, baik yang besar (planet raksasa) dan planet yang kecil (planet terran) bisa juga dikatakan layak huni. Hanya saja, pada tahun 2013, Sara Seager mengungkapkan bahwa planet yang berada di zona layak huni tidak menjamin dapat dihuni [2].

Zona Layak Huni

Jika manusia memiliki kategori zona untuk mengamankan dirinya (contohnya zona khusus wanita di busway), tentunya planet – planet di luar tata surya juga punya. Salah satu syaratnya adalah zona layak huni yang digunakan untuk menentukan apakah planet tersebut tergolong layak huni atau tidak. Menurut perhitungan dari Stellar Habitable Zone Calculator oleh Universitas Washington, zona layak huni bagi sistem tata surya berkisar 0.5 Satuan Astronomi untuk batas dalam dan 3.0 Satuan Astronomi untuk batas luar. Hal ini tentunya membuat banyak anggapan dari beberapa ilmuwan astronomi mengenai nilai batas dari zona layak huni tersebut.

Namun ada hal unik dari riset yang dilakukan oleh peneliti yang berasal dari Universitas Sumatera Utara dibawah bimbingan Tua Raja Simbolon, M.Si dan Dr. rer. nat. Johny Setiawan (Astrofisikawan Indonesia yang berdomisili di Jerman) [3] menunjukkan bahwa 3.0 Satuan Astroni itu terlalu far…far…away. Dengan bantuan software sederhana, Microsoft Excel 2017, sebagai software pemodelan, maka didapatkan nilai sekitar 0,54 Satuan Astronomi untuk batas dalam dan 1,66 Satuan Astronomi untuk batas luarnya. Bukan hanya itu, ketelitian model ini pun sudah 91%.

Seberapa Banyak Planet yang Layak Huni yang Sudah Ditemukan?

Menurut Penelitian yang dilakukan Brack pada tahun 1993 [4], yang dimuat dalam laporan ilmiah “Liquid Water and the Origin of Life, in Originsof Life and Evolution of the Biosphere,” Pencarian kehidupan di sistem surya lain di dasarkan pada anggapan bahwa kehidupan di luar Bumi harus mengikuti karakteristik dasar layaknya kehidupan di Bumi, termasuk kondisi air yang berada pada fasa cair sebagai pelarut dan dapat mempertahankan siklus karbon. Namun, untuk menentukan planet – planet yang layak huni, harus terlebih dahulu diketahui bahwa planet layak huni harus berada pada zona layak huni dan tidak memandang karakteristik fisik planet seperti ukuran atau kondisi planet (apakah berbentuk gas atau batuan). Nah, peneliti dari Universitas Sumatera Utara ini [2] juga melaporkan bahwa ternyata, setelah mengolah data dari Katalog Ensiklopedia Planet Ekstrasolar Planet – planet tersebut kebanyakan mengorbit bintang seperti Matahari dengan kelas spektrum F – M, walaupun ada beberapa planet yang mengorbit bintang induknya dengan kelas spektrum A dan B.

Diagram banyaknya planet layak huni berdasarkan kelas spektrum bintang induk

Baca juga:

Pada diagram tersebut, diperlihatkan bahwa kebanyakan planet layak huni lebih banyak mengorbit bintang induknya dengan tipe kelas spektrum K yang memiliki temperatur sekitar 4000 K karena planet – planet tersebut memiliki temperatur yang memungkinkan dapat mempertahankan air dalam bentuk cair di permukaannya. Planet – planet tersebut juga tetap stabil lebih lama di fase utama  daripada Matahari [5], sehingga memungkinkan waktu yang lebih panjang untuk kehidupan terbentuk di planet yang mengeilingi bintang deret utama pada kelas spektrum K [6]. Namun, planet yang mengorbit bintang pada kelas spektrum K yang berusia lanjut diperkirakan tidak dapat mempertahankan kehidupan di dalamnya.

Untuk mendeteksi planet layak huni, metode kecepatan radial telah mendominasi pendeteksian baik untuk planet layak huni yang mengitari bintang induk berkelas spektrum F, G, K, maupun M. dalam spektrum kelas tersebut, planet – planet masih dapat mempertahankan temperatur permukaannya tetap stabil.

Lalu bagaimana jika dilihat dari sisi sumbu semi mayornya? Mari kita lihat tabel dibawah ini.


Data planet layak huni menurut sumbu semi mayornya

Berdasarkan sumbu semi mayornya, planet yang paling banyak di deteksi dalam zona layak huni adalah planet yang memiliki sumbu semi mayor sebesar 0.75 SA – 3.04 SA dengan total planet yang terdeteksi adalah 205 planet. Planet – planet layak huni yang memiliki sumbu semi major tersebut mengelilingi bintang induknya dengan tipe kelas spektrum G dan K, serta memiliki batas dalam dan luar zona layak huni sebesar 0.405 SA – 5.045 SA. Batas dalam zona layak huni tersebut masih memasuki batas dalam dan batas luar zona layak huni yang digunakan yaitu 0.54 SA – 1.66 SA, sehingga dapat dikatakan bahwa batas tersebut cukup efektif digunakan sebagai batas dalam dan batas luar untuk sistem surya Matahari.

So bagaimana guys? Mau mencoba suasana dengan mencoba tinggal di planet lain?

REFERENSI

[1] Bean, J. L., Abbot, D. S., and Kempton, E. M. –R. (2017). A Statistical Comparative Planetology Approach to the Hunt for Habitable Exoplanets and Life Beyond the Solar System. ArXiv: Astro-ph/1705.06288v1.

[2] Seager, S. (2013). Exoplanet Habitability. Science. 340 (577): 577

[3] Nurcresia, B., Simbolon, T. R., dan Setiawan, J. (2019). The Simple Linear Modeling of Habitable Zone for the Main Sequence Stars. International Journal of Innovative Science and Research Technology. 4(4): 739 – 744.

[4] Brack, A. (1993). Liquid Water and the Origin of Life, in Originsof Life and Evolution of the Biosphere. Springer. 23(1): 3 – 10.

[5] Shiga, D. (2014). Orange Stars are Just Right for Life. New Scientist. Diakses pada: 7 Juli 2019

[6] Vieru, T. (2014). Life could Easily Develop Around Orange Dwarfs. Softpedia. Diakses pada: 7 Juli 2019

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan