Penggunaan Sociometric Badge bagi Dosen di Indonesia terkait efektivitas organisasi Perguruan Tinggi demi Indonesia Emas

Ditulis Oleh Astadi Pangarso

Permasalahan penting yang dihadapi bangsa Ini dari sudut pandang pendidikan tinggi adalah menyiapkan bonus demografi Indonesia pada tahun 2030-2045 (Indonesia Emas). Banyaknya jumlah tenaga kerja produktif pada usia produktif harus disiapkan kualitasnya melalui pendidikan tinggi yang baik dimulai dari sekarang. Proses pembelajaran utama di pendidikan tinggi dapat diketahui dari peran dosen. Kualitas pembelajaran dosen sangat berpengaruh terhadap kualitas pendidikan tinggi untuk menghasilkan kualitas lulusan menjadi tenaga kerja yang berkualitas.

Ide solutif yang saya tawarkan terkait dengan penggunaan teknologi. Teknologi yang saya usulkan adalah penggunaan sociometric badge (Pangarso, 2016). Sociometric badge adalah suatu teknologi untuk mendokumentasikan perilaku seseorang melalui video dan atau percakapan untuk selanjutnya dapat dianalisis lebih lanjut dalam rangka efektivitas organisasi. Penggunaan sociometric badge ini akan membantu universitas untuk memetakan para dosen menjalanan pekerjaannya dengan tepat sesuai dengan karakteristik unik yang dimiliki.

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa ada beberapa pertanyaan penting antara lain: (1) bagaimana seseorang mengetahui kebiasaannya berinteraksi?; (2) bagaimana cara meningkatkan efektivitas organisasi?; (3) apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan interaksi dan komunikasi organisasi? (Whittaker  et.al, 1994). Komunikasi digital penting di tempat kerja modern, interaksi tatap muka masih mewakili bagian besar dan penting dari komunikasi organisasi, pertukaran informasi, sosialisasi dan koordinasi informal. Komunikasi tatap muka adalah media yang kaya karena menyediakan banyak isyarat sosial baik melalui bahasa alami maupun bahasa tubuh, dan karenanya dapat sangat mengurangi ketidakpastian pemaknaan (Waber et.al, 2011) (Daft &Lengel, 1986).

Sociometric badge adalah lencana elektronik yang bentuknya mirip name tag yang dapat secara otomatis mengukur jumlah interaksi tatap muka, waktu percakapan, gaya komunikasi, kedekatan fisik dengan orang lain, dan tingkat aktivitas fisik, menggunakan sinyal sosial yang berasal dari fitur vokal, gerakan tubuh, dan lokasi (Olguın & Pentland, 2007) (Olguín, 2007). Sociometric badge adalah alat pengukuran yang memfasilitasi studi tentang perilaku kolektif dan membantu organisasi memaksimalkan kecerdasan kolektif kelompok mereka melalui perangkat lunak khusus yang menganalisis pola perilaku dan menghasilkan laporan umpan balik otomatis dan visualisasi dinamis (Olguın & Pentland, 2010). Bentuk fisik sociometric badge dapat dilihat pada penelitian Kim et.al, 2007 seperti pada gambar dibawah ini.

Sumber: (Kim et.al, 2007)

Sociometric badge berguna untuk mendapatkan, mengumpulkan, mengklasifikasikan, dan menganalisis data perilaku yang nantinya dapat dikenal sebagai pola perilaku untuk memprediksi perilaku yang mungkin terjadi (Olguín, 2007). Sebaliknya, kemampuan untuk secara otomatis menangkap tidak hanya karakteristik perilaku manusia yang terlihat seperti interaksi tatap muka tetapi juga proses psikologis yang terjadi selama interaksi sosial, pada saat yang sama dan dengan satu alat (Olguın & Pentland, 2007). Dengan menggunakan sensor ditubuh dalam kelompok besar orang untuk jangka waktu yang lama dalam situasi yang naturalistik, alat ini mampu mengidentifikasi dan mengukur interaksi sosial, perilaku kelompok, dan dinamika organisasi (Waber et.al, 2009).

Dengan adanya sociometric badge pada dosen maka didapatkan data tentang pola kerja dosen, pola komunikasi, pola interaksi, karakter, kepribadian. Data ini menjadi bahan untuk peningkatan kualitas kerja dosen khususnya terkait tri dharma terlebih lagi dharma pengajaran. Dharma pengajaran ini yang sangat terkait langsung terhadap kualitas lulusan. Jika dosen dapat mengoptimalkan dharma pengajarannya dengan memberikan pola dan gaya ajar yang sesuai dengan generasi sekarang dan juga ditambah materi yang up to date, sesuai dengan apa yang mereka hadapi dan dibutuhkan baik pada saat belajar maupun setelah lulus. Setiap dosen dapat melakukan analisis SWOT dalam rangka peningkatan kualitas dirinya terkait dharma pengajaran.

Baca juga:

Disarankan dilakukan percobaan penggunaan sociometric badge ini dengan sampel di beberapa PTN dan PTS di pulau jawa sebagai pilot project jika hasil pilot project tersebut selesai akan dilakukan evaluasi perbaikan untuk selanjutnya secara bertahap dapat diterapkan di seluruh Indonesia. Untuk sementara ini mungkin diutamakan universitas/kampus yang sudah baik sarana dan prasarana IT (mendukung penggunaan sociometric badge lebih optimal), sebagai contoh untuk PTN ITB dan untuk PTS Universitas Telkom. Nanti di tiap universitas akan dipilih sampel beberapa program studi dan fakultas yang para dosennya menggunakan sociometric badge tersebut. Data yang didapat dari sociometric badge ini merupakan data rahasia dan perlu keamanan khusus serta penggunaannya akan digunakan pada hal-hal yang terkait langsung dengan tri dharma khususnya pengajaran. Jadi dosen tidak perlu merasa seperti tidak bebas dan diawasi. DI lingkungan universitas mungkin hanya beberapa pihak yang berkepentingan saja yang dapat mengetahuinya selalin dosen yang bersangkutan. Ide awal sociometric badge ini awalnya didapat dari peneliti di MIT Amerika Serikat. Kedepannya hal ini dapat dijadikan kerjasama riset. Hal ini juga memungkinkan kerjasama dengan beberapa perusahaan telekomunikasi seperti contohnya Telkomsel dan perusahaan-perusahaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa efek domino yang baik dapat diestimasi. Hal lain yang memerlukan perhatian adalah sociometric badge ini membutuhkan pengadaan dana yang cukup besar.

Referensi:

  1. Kim, T., Chang, A., & Pentland, A. S. (2007). Enhancing organizational communication using sociometric badges. In Proceedings of the 11th International Symposium on Wearable Computers (Submitted).
  2. Olguın, D. O., & Pentland, A. S. (2007). Sociometric badges: State of the art and future applications. In Doctoral colloquium presented at IEEE 11th International Symposium on Wearable Computers, Boston, MA.
  3. Olguín Olguín, D. (2007). Sociometric badges: Wearable technology for measuring human behavior (Doctoral dissertation, Massachusetts Institute of Technology).
  4. Olguín, D. O., Waber, B. N., Kim, T., Mohan, A., Ara, K., & Pentland, A. (2008). Sensible organizations: Technology and methodology for automatically measuring organizational behavior. IEEE Transactions on Systems, Man, and Cybernetics, Part B (Cybernetics), 39(1), 43-55.
  5. Olguín, D. O., & Pentland, A. (2010, February). Assessing group performance from collective behavior. In Proc. of the CSCW (Vol. 10).
  6. Pangarso, A. (2016). Lecturer Sociometric Badge as Digital Platform in Indonesia Higher Education Institutions from Organizational Effectiveness Perspective. Advanced Science Letters, 22(12), 4308-4311.
  7. Waber, B. N., Aral, S., Olguin Olguin, D., Wu, L., Brynjolfsson, E., & Pentland, A. (2011). Sociometric badges: A new tool for IS research. Available at SSRN 1789103.
  8. Whittaker, S., Frohlich, D., & Daly-Jones, O. (1994, April). Informal workplace communication: What is it like and how might we support it?. In Proceedings of the SIGCHI conference on Human factors in computing systems (pp. 131-137). ACM.

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

8 gagasan untuk “Penggunaan Sociometric Badge bagi Dosen di Indonesia terkait efektivitas organisasi Perguruan Tinggi demi Indonesia Emas

  • 04 Agustus 2019 pukul 20:18
    Permalink

    Penelitian yg bagus utk menunu Indonesia Emas

    Balas
  • 04 Agustus 2019 pukul 20:26
    Permalink

    Pengetahuan yang sangat bermanfaat sekali

    Balas
  • 04 Agustus 2019 pukul 22:10
    Permalink

    Pengetahuan yang sangat bermanfaat sekali ??

    Balas
  • 05 Agustus 2019 pukul 06:58
    Permalink

    Bagus untuk perkembangan masa depan, bagaimana mendeteksi prilaku manusia dengan teknologi

    Balas
  • 05 Agustus 2019 pukul 07:01
    Permalink

    Sangat bagus sekali & sangat bermanfaat isi dari artikel nya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *