Krisis Air Tanah dan Pesan Apokaliptik

Ditulis Oleh Dasapta Erwin Irawan

Artikel pendek ini awalnya disusun sebagai tanggapan saya dari KK Geologi Terapan/Prodi Teknik Geologi, FITB – ITB atas berita krisis air di media daring Detik[1], Merdeka.com[2][3]. Sebagai komentar umum, para peneliti harus berhati-hati saat menyampaikan pesan-pesan yang menceritakan skenario mendekati kiamat (apokalips) yang bersifat menakut-nakuti, bukan menyadarkan[4][5]. Beberapa berita skenario apokaliptik yang terkait dengan krisis air umumnya memperlihatkan proyeksi penurunan muka air tanah, penurunan debit mata air, atau menyatakan kapan air akan habis, atau menggunakan pemilihan kata yang menyeramkan seperti “bom waktu”[6][7] dan “kiamat”[8]. Apakah ini efektif? Indikasi cepatnya, sejak hampir 20 tahun lalu, berita sejenis sudah muncul[9][10], tapi belum mengubah keadaan.

blank

Gambar 1 Siklus air atau siklus hidrologi dan dua komponen utama yang mempengaruhi resapan air

Apakah air tanah bisa habis? Untuk menjelaskannya, kita perlu memahami siklus air atau siklus hidrologi di alam (lihat Gambar 1 atas). Komponen utamanya adalah air hujan, evapotranspirasi, imbuhan (peresapan), dan air larian permukaan (run off). Dari gambar di bawah ini dapat dilihat bahwa air tanah bisa berubah bentuk menjadi air permukaan. Selain volume air yang meresap, ada setidaknya dua komponen lain yang mempengaruhi, yakni: jenis tanah atau bebatuan dan tutupan lahan (Gambar 1 bawah). Makin berpori tanah dan batuan, makin banyak air hujan dan atau air permukaan yang meresap ke bawah permukaan. Tutupan lahan berupa pemukiman, jalan, lapisan semen akan mengurangi jalan masuk air.

Setelah meresap ke bawah permukaan, air tanah tersimpan dan mengalir di dalam lapisan akuifer (lapisan tanah/bebatuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air). Lapisan akuifer ini bisa banyak dan bertumpuk, bisa beraturan atau tidak beraturan. Ada yang bersifat tidak tertekan, atau disebut akuifer dangkal dan ada yang bersifat tertekan (artesis) atau disebut akuifer dalam. Tapi tata letak akuifer pasti tidak sama pada daerah yang berbeda.

Istilah sumur dangkal dan dalam dibuat agar mudah, berasal dari standar pengebor sumur. Akuifer dangkal biasanya digunakan oleh rumah tangga (maksimum 20 meter) diisi oleh resapan air hujan, sedangkan akuifer dalam biasanya diambil oleh industri, kedalamannya bisa sampai 100 m, bahkan lebih. 

Air tanah bisa diukur umurnya menggunakan isotop lingkungan, seperti 3H dan 14C. Umur air di sini adalah waktu relatif air meresap ke dalam tanah sebelum diukur kandungan isotopnya. Kita mengukurnya untuk memperkirakan berapa proses aliran air tanah hingga muncul di mata air atau sumur. Beberapa data umur air tanah di Bandung yang pernah ditelaah oleh grup kami, didapatkan data hingga 20 tahun untuk wilayah Bandung bagian utara dan barat, yaitu lapisan air yang mengalir di dalam bebatuan gunung api. Tapi memang ada yang berusia hingga ratusan tahun (lihat tabel 1[11]). Sampel nomor 16, 17, 20 yang memperlihatkan umur modern. Artinya air tersebut berasal dari imbuhan air hujan.

Agar hasilnya baik, perlu berhati-hati saat mengambil sampel air, karena air tanah dangkal dan dalam bisa bercampur saat diambil sampelnya, atau telah bercampur sebelumnya di bawah permukaan. Perlapisan akuifer (contoh di Bandung) yang banyak dan rumit telah ditelaah oleh Sunarwan[12][13][14][15]. Peneliti bersama pembimbingnya Prof. Deny Juanda Puradimaja dan Dr. Imam A. Sadisun juga menyimpulkan bahwa kandungan isotop stabil 18O dan 2H bisa bervariasi pada pada lokasi dan waktu yang berbeda, tidak seragam.

Tabel 1 Data umur air (Satrio 2008)

blank

Saya hanya menegaskan kembali solusi-solusi di bawah ini dengan argumen-argumen yang lebih jelas. Dasar pemikirannya adalah hasil pemodelan numerik oleh Prof. Lambok Hutasoit (2009)[16] dan Nuliana dan Widodo (2009)[17] yang menjelaskan bahwa air tanah di Bandung sangat mungkin dikelola dengan memperhatikan keseimbangan antara jumlah suplai (imbuhan dari hujan secara natural dan buatan) dengan jumlah pengambilan air. Masalah utamanya adalah sering terjadi perubahan tata guna lahan, dari lahan terbuka menjadi kawasan pemukiman, industri, atau komersial, yang menyebabkan air hujan yang tadinya meresap ke dalam tanah, berubah status menjadi air larian permukaan (run off). Air run off buatan harus diubah kembali menjadi resapan air tanah melalui teknologi peresapan buatan. Jadi prinsipnya adalah mengubah air hujan menjadi air baku untuk mengurangi penggunaan air tanah.

blank

Gambar 2 Usulan solusi pengelolaan air menggunakan instalasi penangkap air dan sumur ASR

Solusi untuk kawasan permukiman di perkotaan adalah bagaimana agar sebanyak mungkin air hujan dapat ditangkap dan disimpan. Penangkapan air hujan ini biasa disebut rain water harvesting, secara individual atau komunal, untuk mengurangi air hujan yang mengalir ke saluran air (lihat Gambar 2 kiri). Kawasan komersial seperti hotel, gedung pertemuan, mal, dan kawasan industri menjadi salah satu kawasan ideal untuk penangkapan air hujan, karena atapnya yang luas. Bayangkan berapa volume air hujan yang dapat dikumpulkan dari atap Mal Paris van Java yang luasnya tidak kurang dari 30.000 m2 dengan curah hujan tahunan di Bandung mencapai 2300 mm[18]. Air sebanyak itu dapat disimpan di bawah permukaan tanah menggunakan sumur ASR (aquifer storage and recover) (Gambar 2 kanan). Sumur ini berperan ganda, yakni menyuntikkan air ke bawah tanah saat musim hujan, dan mengambil air tanah saat musim kemarau. Dengan sumur ASR, maka muka air tanah dapat dikembalikan, untuk mengkompensasi penurunannya selama ini.

Jadi menurut saya pendapat bahwa air tanah akan habis perlu penjelasan lebih dalam, karena dapat mengakibatkan keresahan masyarakat. Sama halnya dengan berita-berita katastrofik lainnya di Indonesia, perlu ada penjelasan tambahan secara lebih spesifik tanpa harus membuat artikel populer menjadi lebih rumit. Tapi saya juga mendukung pendapat narasumber yang menekankan bahwa air tanah harus dikelola, terutama sejak pembatalan UU Sumber Daya Air No 7/2004[19] pada tahun 2013.

Disadari bahwa sebuah liputan yang terbatas panjangnya akan sulit untuk menjelaskan sebuah fenomena secara lengkap, belum lagi peluang kesalahan atau pemilihan tema sentral yang keliru oleh jurnalis, saran saya:

  1. berhati-hati dalam berpendapat terutama untuk isu-isu apokaliptik, sekaligus pengingat bagi diri saya sendiri,
  2. informasi kontak penulis harus disertakan untuk klarifikasi,
  3. ketersediaan data dan informasi dalam berbagai format harus terbuka luas. Ini juga memerlukan kesadaran dari para pemimpin perguruan tinggi.

Pembaca yang budiman dapat menghubungi penulis via surel di erwin at fitb dot itb dot ac dot id.

Daftar pustaka

1.  “Peneliti ITB: 50 Tahun Lagi Bandung Terancam Krisis Air Tanah.” 3 Aug. 2019, https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4651182/peneliti-itb-50-tahun-lagi-bandung-terancam-krisis-air-tanah. Accessed 5 Aug. 2019.

2. “Peneliti ITB Sebut Permukaan Tanah di Bandung Turun sampai 10 ….” 3 Aug. 2019, https://www.merdeka.com/peristiwa/peneliti-itb-sebut-permukaan-tanah-di-bandung-turun-sampai-10-cm-per-tahun.html. Accessed 5 Aug. 2019.

3. “Bali dan Bom Waktu Krisis Air Bersih | BALIPOST.com.” 11 Dec. 2018, http://www.balipost.com/news/2018/12/11/63457/Bali-dan-Bom-Waktu-Krisis…html. Accessed 5 Aug. 2019.

4. “Communicating effectively with vulnerable populations during water ….” https://iwaponline.com/jwh/article/6/S1/63/344/Communicating-effectively-with-vulnerable. Accessed 5 Aug. 2019.

Baca juga:

5. “Ebola Crisis—Communication Chaos We Can Avoid: Journal of ….” 30 Oct. 2014, https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/10810730.2014.977680. Accessed 5 Aug. 2019.

6. “Kita Duduk di Atas Bom Waktu, Pasokan Air Tanah Global Terancam ….” 24 Jan. 2019, https://www.hitekno.com/sains/2019/01/24/140000/kita-duduk-di-atas-bom-waktu-pasokan-air-tanah-global-terancam-krisis. Accessed 5 Aug. 2019.

7. “Menghindari bom waktu krisis air – SINDOnews.” 31 Mar. 2014, https://nasional.sindonews.com/read/849125/18/menghindari-bom-waktu-krisis-air-1396227244. Accessed 5 Aug. 2019.

8. “Mengerikan! Ini Fakta Kiamat Sudah Dekat, Tandanya Searah dengan ….” 21 May. 2018, https://manado.tribunnews.com/2018/05/21/mengerikan-ini-fakta-kiamat-sudah-dekat-tandanya-searah-dengan-kondisi-bumi-dan-kepercayaan-agama?page=all. Accessed 5 Aug. 2019.

9. “Mewaspadai Krisis Air – kiprah.” http://kiprah.pu.go.id/assets/uploads/magazine/43/files/assets/downloads/page0013.pdf. Accessed 5 Aug. 2019.

10. “Krisis Air Perkotaan Ancaman Serius – Suara Pembaruan.” 24 Mar. 2011, https://sp.beritasatu.com/home/krisis-air-perkotaan-ancaman-serius/4903. Accessed 5 Aug. 2019.

11. “Makalah-makalah penting tentang umur air di Bandung – OSF.” https://osf.io/r8czh/. Accessed 5 Aug. 2019.

12. “Hidrostratigrafi CAT Bandung-Soreang berdasarkan … – ITB Repository.” 24 Apr. 2019, http://eprints.itb.ac.id/36/. Accessed 5 Aug. 2019.

13. “Revisiting hydrostratigraphy in Bandung-Soreang … – AIP Publishing.” 30 Sep. 2015, https://aip.scitation.org/doi/10.1063/1.4930776. Accessed 5 Aug. 2019.

14. “Makalah-makalah penting tentang umur air di Bandung – OSF.” https://osf.io/r8czh/. Accessed 5 Aug. 2019.

15. “perubahan karakter isotop 2h dan 18o air tanah pada … – Digilib-BATAN.” http://digilib.batan.go.id/ppin/katalog/file/1858-3601-2013-_61-67.pdf. Accessed 5 Aug. 2019.

16. “Kondisi Permukaan Air Tanah dengan dan tanpa peresapan … – Neliti.” 24 Mar. 2009, https://media.neliti.com/media/publications/66950-ID-kondisi-permukaan-air-tanah-dengan-dan-t.pdf. Accessed 5 Aug. 2019.

17. “Makalah-makalah penting tentang umur air di Bandung – OSF.” https://osf.io/r8czh/. Accessed 5 Aug. 2019.

18. “Rainwater Harvesting Calculator, Formulas, and Equations.” https://www.watercache.com/resources/rainwater-collection-calculator. Accessed 5 Aug. 2019.

19. “BEBAN GANDA PENGELOLAAN AIR TANAH DI … – E-journal Undiksha.” https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JISH/article/view/9720. Accessed 5 Aug. 2019.

Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar