Kisah Panji Semirang sebagai bentuk Nasionalisme RI dan Kesetaraan Gender

Ditulis Oleh Faiqotus Silvia

Di era teknologi semakin canggih, banyak sekali anak zaman sekarang terbawa arus globalisasi terutama kebudayaan. Banyak menyukai budaya luar bahkan dengan mudahnya mampu menguasai bahasa asing. Namun, khawatirnya budaya di setiap daerah wilayah Indonesia mulai dilupakan karena dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Padahal mendalami kebudayaan sangat penting bagi penerus bangsa sebagai bentuk identitas jadi diri dalam bentuk cinta tanah air. Indonesia merupakan negara sangat kaya dengan kebudayaan maupun sejarah. Sejarah merupakan suatu mata pelajaran penting saat diterapkan bangku sekolah. Dianggap sebagai pelajaran pengantar tidur. Ketika dijelaskan terbawa rasa kantuk dan tidur. Menceritakan hal-hal berbau tempo dulu, terdengar membosankan. Saat guru menjelaskan tentang Kisah Panji Semirang, seluruh anak mengentahui semua karakter di antara yaitu: Raden Inu Kertapati atau Panji Asmarabangun, Galuh Candrakirana atau Dewi Serkartaji, Prabu Lembu Hamiluhur dari Kerajaan Jenggala (Ayah Panji Asmarabangun), Prabu Lembu Hamijaya dari Kediri (Ayah Dewi Sekartaji), dan Galuh Ajeng. Cerita rakyat ini berasal dari Jawa Timur periode klasik, dari masa Kerajaan Kediri yang kemudian berkembang zaman Kerajaan Singasari pada abad XIII dan populer masa Kerajaan Majapahit. Cerita Panji berkembang dan menyebar di berbagai daerah di Jawa maupun luar Jawa sampai ke wilayah semenanjung Asia Tenggara. Cerita Panji di negara Thailand dan Kamboja telah banyak dipengaruhi oleh cerita-cerita Panji pada karya-karya sastra Melayu. Cerita Panji bukanlah cerita fiktif murni, tetapi juga terinspirasi beberapa peristiwa sejarah melibatkan para bangsawan di beberapa kerajaan sebelumnya. Cerita Panji tidak sepopuler cerita Ramayana dan Mahabarata berasal dari India menurut dalam Jurnal Penelitian Sumaryono [1].

Gambar [1]: Karakter Dewi Sekartaji dalam Festival Panji 2019 di Kediri

Kisah Panji Semirang termasuk folklor lisan karena disampaikan dari mulut ke mulut berperan sebagai rekaman budaya sebagai bentuk ekspresi seni spiritual bangsa [2]. Awal cerita ini terjadi Intergrasi (Pertemuan), Disentegrasi (Perpecahan), dan Reintegrasi (Perpisahan). Alur ini seperti kehidupan sehari-hari ketika melakukan interaksi sosial antar manusia pendapat dari Seminar Panji Nusantara Kabupaten Kediri Tahun 2019 oleh Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum [3]. Lahirnya cerita Panji berhubungan dengan peristiwa sejarah terjadi pada masa sebelumnya. Setidaknya unsur kesamaan antara cerita Panji dengan keadaan sejarah telah terjadi sebelumnya. Sejarah mencatat bahwa tahun 1049, sebelum turun tahta raja Airlangga di Kahuripan membagi kerajaan menjadi dua untuk anak-anaknya dari selir. Pembagian dua wilayah tersebut dibatasi oleh sungai Brantas. Di sebelah timur sungai Brantas, wilayah tersebut dinamakan Jenggala, dan di sebelah barat sungai Brantas bernama Panjalu, kemudian hari terkenal dengan sebutan Kediri atau Daha. Dalam arti kata bahwa penguasa wilayah Jenggala dan Panjalu atau Kediri dalam sejarah adalah dua bersaudara yang merupakan putra raja Airlangga. Selain itu, di dalam sejarah juga tercatat bahwa Galuh Candrakirana atau Dewi Serkartaji biasa disebut Garwa Padmi adalah permaisuri Raja Kediri bernama Kameswara. Candrakirana sendiri adalah seorang putri yang berasal dari Jenggala.

Artinya dua raja bersaudara itu masih memperkuat hubungan kekeluarganya melalui ikatan-ikatan perkawinan antar anggota keluarga raja. Jenggala dan Kediri adalah dua raja kakak beradik, yaitu Prabu Lembu Hamiluhur (Kerajaan Jenggala) dan Lembu Hamijaya (Kerajaan Kediri). Lembu Hamiluhur adalah kakak dari Lembu Hamijaya yang keduanya adalah putra Resi Gatayu di Kerajaan Kahuripan. Dewi Sekartaji dan Panji Asmarabangun dijodohkan oleh orang tua mereka. Perjodohan mereka mendapatkan berbagai ujian. Permaisuri Daha, meninggal karena diracuni oleh Paduka Liku, selir dan Ibu dari Galuh Ajeng. Raja Jenggala mendengar kabar kematian Permaisuri Daha. Beliau dan Panji Asmarabangun mengirim dua boneka yang tebuat dari emas dan perak yang bertujuan untuk menghibur Dewi Sekartaji. Boneka terbuat dari emas dibungkus dengan kain lusuh sedangkan boneka terbuat dari perak dibungkus dengan kain sutra. Paduka Liku menyuruh Galuh Ajeng untuk memilih terlebih dahulu. Ia pertama kali memilih bungkusan dari kain sutra yang ternyata berisi boneka perak. Berbeda dengan Dewi Sekartaji mendapat boneka emas. Galuh Ajeng merebut boneka emas dari Dewi Sekartaji tetapi Dewi Sekartaji tetap menolaknya dan Paduka Liku bertindak dengan memotong rambut Dewi Sekartaji hingga membuat menangis dan sedih.

Akhirnya Dewi Sekartaji merasa hidupnya tidak bahagia ketika di Istana dan kabur dengan menyamar sebagai Panji Semirang serta membawa para pengikutnya mendirikan kerajaan baru diperbatasan antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Kediri. Panji Semirang merampas dan merampok orang-orang melewati kotanya. Bahkan, telah menyerang Kerajaan Mentawan. Raja Mentawan menyerahkan kerajaannya dan memberikan kedua putrinya. Raja Jenggala mengirim utusan membawa harta benda dan surat ke Kediri sebagai bentuk lamaran untuk Dewi Sekartaji. Pada utusan dihadang serta harta dirampas oleh Kuda Perwira dan Kuda Peranca. Panji Asmarabangun bertemu dengan Panji Semirang untuk mengambil kembali harta yang dirampas. Panji Asmarabangun malah bersahabat dan tinggal di kota yang dibangun oleh Panji Semirang. Beberapa lama waktu Panji Asmarabangun pun mulai tertarik dan merasakan bahwa Panji Semirang adalah perempuan. Panji Asmarabangun meminta izin kepada Panji Semirang untuk ke Kerajaan Kediri dengan tujuan  melamar Dewi Sekartaji. Saat tiba keberadaann  tidak ada, hal ini Paduka Liku membujuk Raja Jenggala untuk menikahkan Galuh Ajeng. Pernikahan pun dimulai tetapi acara itu dirusak oleh Panji Semirang. Panji Asmarabangun menatap wajah Panji Semirang dan menyadari bahwa pernikahan ini bersifat memaksa bahkan tidak suka perilaku Galuh Ajeng. Panji Semirang pun mulai khawatir penyamarannya ketahuan dan melarikan diri ke Gunung Wilis untuk menemui Biku Gandasari. Panji Asmarabangun bangun juga menyusul ke tempat Panji Semirang tetapi sudah berada di Gunung Wilis untuk menemui Biku Gandasari dan mulai menyadari bahwa Panji Semirang adalah Dewi Sekartaji yang telah lama dicari.

Baca juga:

Panji Asmarabangun pergi ke Kerajaan Gagelang untuk berkunjung menemui Raja Gagelang dan menginap. Biku Gandasari menyuruh Dewi Sekartaji menyusul Kerajaan Gagelang dan menyamar menjadi pemain gambuh laki-laki. Panji Asmarabangun menyuruh Nilawati menyelidiki pemain gambuh tersebut adalah perempuan. Panji Asmarabangun melihat ternyata Dewi Sekartaji membawa boneka emas dan langsung mengajak pergi ke Kerajaan Jenggala. Disambut meriah oleh Raja dan Ratu Jenggala serta rakyatnya. Pernikahan antara Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji berlangsung meriah cerita ini menurut dari Hikayat Panji Kuda Semirang [4]. Dewi Sekartaji dilambangkan bulan sabit warna merah dan Panji Asmarabangun dilambangkan seperti matahari warna putih menurut penelitian dari Henry Nurcahyo dalam Seminar tentang Panji Nusantara DISBUDPARPORA Kota Kediri Tahun 2019[5]. Kombinasi ini seperti bendera merah putih Indonesia telah merdeka 17 Agustus 1945 serta bendera ini telah ada sejak perjuangan Kerajaan Majapahit (Abad ke-13) sekaligus perjuangan  Pangeran Diponegoro (Abad ke-19) dari video Kok Bisa [6]. Dewi Sekartaji artinya bunga berduri dibalik kecantikannya menyamar sebagai Panji Semirang menegakkan keadilan, kesetiaan, dan kekuatan bagi perempuan mengahadapi diskriminasi gender pada era modern untuk menjaga diri sendiri dalam berbagai bahaya.

Referensi:

 [1] Sumaryono. 2011. Cerita Panji Antara Sejarah, Mitos, dan Legenda. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

[2] Endraswara, Suwardi. 2013. Folklor Nusantara (Hakikat, Bentuk, dan Fungsi). Yogyakarta: Penerbit Ombak.

 [3] Drs. M. Dwi Cahyono, M. Hum (Dosen Sejarah UM), Seminar tentang  Budaya Panji Nusantara Kabupaten Kediri Tahun 2019.

[4] Wahyono, Ahmad Budi. 2018. Hikayat Panji Kuda Semirang. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

[5] Henry Nurcahyo (Budayawan Surabaya), Seminar tentang Panji Nusantara DISBUDPARPORA Kota Kediri Tahun 2019.

[6] Youtube Kok Bisa, Kenapa Bendera Indonesia Merah Putih.

Gambar:

[1] Ilustrasi Karakter Dewi Sekartaji dalam Festival Panji 2019 di Kediri/ https://pikdo.net/p/ojek_wisata_kediri/2074017194338416951_4678170522

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *