Teknologi Pertahanan Kerajaan-Kerajaan di Nusantara: Mematahkan Gambaran Primitif Yang Keliru

Ditulis Oleh Fawwaz Ibrahim

Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan adalah himpunan kerajaan-kerajaan. Menurut berbagai buku sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah saat ini, dahulu nenek moyang bangsa ini dijajah selama 350 tahun oleh Belanda. Salah satu faktor yang membuat waktu penjajahan berkepanjangan adalah kurang majunya teknologi pertahanan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Banyak bantahan bermunculan terkait lama waktu penjajahan yang belum pasti tersebut. Namun, narasi bantahan terkait teknologi pertahanan masih sedikit.

Narasi yang sering digaungkan adalah “Para pendahulu kita melawan penjajah hanya bermodalkan bambu runcing hingga mereka berhasil merebut senjata api dari musuh”. Tidak mustahil bila terjadi beberapa perlawanan dalam bentuk demikian. Namun yang mustahil ialah pesan tersirat yang terkandung, yaitu seluruh pendahulu kita tidak mengenal senjata api hingga merebut dari para penjajah tersebut. Padahal terdapat berbagai penemuan yang menunjukkan bahwa pendahulu kita telah mengenal senjata api sebelum kolonialisme Eropa datang.

Pada 1293, Kaisar Dinasti Yuan Kubilai Khan mengirim pasukan untuk menyerang Kerajaan Kediri, yang pada masa itu dikuasai Jayakatwang. Raden Wijaya memanfaatkan momentum ini untuk bekerjasama dengan pasukan Cina-Mongol demi menghancurkan Kerajaan Kediri. Dalam serangan yang berhasil itu, Pasukan Cina-Mongol menggunakan meriam yang disebut pao [1]. Dari situlah bangsa Jawa mengenal meriam dan mengembangkan meriamnya sendiri di kemudian hari.

Keberhasilan ini mengantarkan Raden Wijaya pada pembentukan Kerajaan Majapahit. Pada abad 14 di masa raja setelahnya, Hayam Wuruk, telah diadakan produksi meriam khas Majapahit yang berbeda dengan model meriam Eropa. Meriam ini disebut cetbang, diproduksi di Bojonegoro dengan bahan mesiu utama yang diproduksi di Biluluk sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Sekar [2].

Gambar 1. Meriam Cetbang

 

Gambar 2. Meriam Cetbang di Museum Bali

Selain meriam produk lokal, ditemukan pula meriam impor dari Cina yang mana pada meriam tersebut tertulis tahun 1421 [3]. Belum dapat dipastikan kerajaan mana yang mengimpor meriam tersebut, yang pasti kerajaan tersebut masih di Pulau Jawa. Kemungkinan kerajaan tersebut adalah Kerajaan Majapahit mengingat hubungan kerajaan tersebut dengan Dinasti Ming –yang dipresentasikan Laksamana Cheng Ho– cukup baik. Hubungan baik itu ditunjukkan dengan pengangkatan orang-orang peranakan Cina sebagai pejabat di beberapa posisi penting. Termasuk pengangkatan Swan Liong alias Arya Damar sebagai kepala pabrik mesiu di Semarang [4].

Yang menarik, memasuki abad 16 ketika orang-orang pertama dari Eropa datang ke nusantara hampir seluruh kerajaan di Nusantara telah memiliki senjata berat yang ampuh. Di Malaka, Albuquerque pada tahun 1511 dapat merebut 3.000 buah meriam, 2.000 dari perunggu dan 1.000 dari besi, yang teknik pembuatannya sangat bagus tak tertandingi, tidak pula oleh Portugal [5]. Pada abad 16 ini pula pengaruh ilmu teknik dari Eropa masuk ke ranah pembuatan meriam. Pengaruh itu datang terutama dari Kesultanan Turki Ottoman. Pada 1528, Sultan Trenggono dari Demak menghadiahi Fatahillah sebuah meriam besar bernama Ki Jimat atas keberhasilannya menaklukkan Banten dan Sunda Kelapa. Meriam besar ini dalam pembuatannya melibatkan sekelompok ahli teknik dari Turki dan Aceh yang dipimpin seorang muallaf Portugis bernama “Coje Geinal” (Khoja Zainal) dari Algarve [6].

Gambar 3. Meriam Ki Jimat/Ki Amuk di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama

Beaulieu memberitakan pada 1620 Sultan Aceh memiliki 2.000 meriam, di antaranya 800 yang besar-besar. Rijklof van Goens yang mengunjungi gudang senjata Mataram pada tahun 1651, tidak dapat mengemukakan angka untuk meriamnya, tetapi menurut taksirannya yang cukup tepat ada 112.500 serdadu bersenapan [7]. Dapat dilihat, pada abad 17 kerajaan-kerajaan di Nusantara sudah mapan dalam persenjataan.

Selain meriam, kapal sebagai salah satu unsur pertahanan juga menarik untuk dibahas. Kapal Jung dari Demak bisa dijadikan contoh. Sebagaimana diungkapkan kapten armada Portugis, Ferdinando Perez de Andrade bahwa kapal ini adalah kapal terbesar yang pernah dilihat orang Portugis. Dibandingkan kapal Anunciada miliknya, kapalnya tak terlihat seperti kapal karena saking besarnya Kapal Jung tersebut. Kapal ini sangat tebal berlapis-lapis. Bahkan, peluru meriam terbesarnya tak mampu menembus badan kapal tersebut [8]. Selain itu ada pula kapal laksamana Aceh yang pada tahun 1629 membuat tercengang orang Portugis dengan panjang sekitar seratus meter, memiliki tiga tiang, dan seratus pucuk artileri [9].

Gambar 4. Lukisan sebagai ilustrasi ukuran Kapal Jung Jawa

Apabila memperhatikan fakta di atas, tentu membuat kita bertanya “Jika leluhur kita mampu membuat sedemikian rupa, berarti keilmuan teknik pada masa itu cukup mumpuni. Lantas darimana mereka mampu mempelajari ilmu tersebut?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para sejarawan lokal maupun asing tidak dapat bersepakat. Namun, setidaknya kita dapat memadukan teori-teori mereka.

Baca juga:

Dalam hal meriam, kita dapat melihat pengaruh Cina masuk sebelum pengaruh Eropa. Yang mendasari daripada teknik pembuatan meriam yaitu teknik pengolahan logam (metalurgi), bisa pula dikatakan terpengaruh oleh Cina yang sejak abad 13 sudah menjadi pemasok besi di Palembang dan Jawa. Selain itu Cina juga pemasok utama tembaga sebagai bahan dasar pembuatan perunggu. Baru kemudian Eropa memasok baja besar-besaran terutama pada abad 19 [10].

Gambar 5 Pandai Besi Cina di Batavia

Meski demikian, tidak berarti masyarakat Nusantara tak dapat mengenal ilmu teknik tersebut bila tak ada pengaruh Cina maupun Eropa. Di antara buktinya ialah keris dan adanya impor besi dari Palembang dan Ternate oleh Kerajaan Malaka. Keris dibuat dari besi dan memerlukan keahlian untuk membentuk sedemikian rupa. Kenyataan bahwa tidak ditemukan keris produk luar Nusantara merupakan contoh kemahiran masyarakat Nusantara dalam bidang metalurgi. Selain itu, salah satu rahasia kekuatan Kapal Jung Jawa adalah penggunaan bahan kayu Jati yang pohonnya tidak banyak tumbuh selain di pesisir utara Jawa. Hal ini selain menjadi keuntungan ekonomis, juga membentuk kemahiran teknik bagi masyarakat Jawa.

Sementara ini, riset yang dilakukan penulis banyak berkutat pada kerajaan di Jawa dan Sumatera sekitarnya disebabkan kemudahan mendapat referensi dibanding wilayah lainnya. Penulis bertekad akan melakukan riset pada kerajaan di wilayah lainnya juga insya Allah.

Referensi

[1] Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Alih Bahasa: Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf. PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 208. Lihat pula: Suryanegara, Ahmad Mansur. Api Sejarah 1. CV.Tria Pratama, hal. 122.

[2] Dr. J.L.A. Brandes, T.B.G., LII (1910). Diakses melalui https://id.wikipedia.org/wiki/Cetbang pada 9 Agustus 2019.

[3] Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Alih Bahasa: Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf. PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 208. Meriam itu kini disimpan di Museum Für Völkerkunde di Berlin

[4] Prof. Dr. Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. PT. LKiS Printing Cemerlang, hal.62-63.

[5] Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Alih Bahasa: Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf. PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 208.

[6] Abdullah, Rachmad. 2015. Kerajaan Islam Demak Api Revolusi Islam di Tanah Jawa. Penerbit Al Wafi, hal.92 & hal.135.

[7] Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Alih Bahasa: Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf. PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 208.

[8] Abdullah, Rachmad. 2015. Kerajaan Islam Demak Api Revolusi Islam di Tanah Jawa. Penerbit Al Wafi, hal. 50-51. Lihat pula: Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Alih Bahasa: Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf. PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 94.

[9] Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2: Jaringan Asia. Alih Bahasa: Winarsih Partaningrat Arifin, Rahayu S. Hidayat, Nini Hidayati Yusuf. PT. Gramedia Pustaka Utama, hal. 270.

[10] Ibid, hal.264-268.

Sumber Gambar

  1. Diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Cetbang
  2. Diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Cetbang
  3. Diambil dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/meriam-ki-amuk/
  4. Diambil dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2018/01/23/kapal-besar-jung-jawa-armada-terbesar-indonesia-di-masa-lampau-yang-jarang-orang-ketahui
  5. Diambil dari Buku Nusa Jawa Silang Budaya Jilid 2 hal. 265

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *