387.500 Ton Feses Ternak!!! Sebuah Masalah Ataukah Anugerah? Upaya Swasembada Energi, Pangan dan Penyehatan Lingkungan Melalui Peran Pemuda Desa Wonoagung

Ditulis Oleh Muhammad Ainurrohman

Usaha peternakan sapi di Indonesia sampai saat ini masih mementingkan produktivitas ternak dan belum mempertimbangkan aspek lingkungan atau dampak peternakan terhadap lingkungan. Jumlah stok sapi nasional berjumlah sekitar 13 juta hingga 14 juta ekor, Provinsi Jawa Timur sendiri merupakan salah satu Provinsi penghasil daging nasional, dimana produksi sapi potong pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 97.728.512 ekor atau naik 7.564.794 ekor dari tahun sebelumnya (disnak jatim, 2018). Potensi ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat, dimana sapi tidak hanya diambil daging atau susunya saja, melainkan juga dapat memanfaatkan limbah dari kotoran sapi yang dihasilkan. Setiap satu ekor sapi dengan bobot 450 kg dapat menghasilkan limbah berupa feses dan urin kurang lebih 25 kg per hari (Ditjennak, 2015). Berdasarkan data di atas, maka jumlah limbah kotoran sapi yang dihasilkan secara nasional mencapai kurang lebih mencapai 387.500 ton per tahun.

Berdasarkan hasil pengamatan di beberapa kecamatan di daerah Pasuruan, Malang, dan Batu, diperoleh informasi bahwa limbah kotoran ternak sapi sebagian besar dibuang langsung ke lingkungan. Beberapa gas yang dihasilkan dari kotoran sapi antara lain gas NH4, H2S, CO2 dan CH4. Gas tersebut mempunyai efek rumah kaca, menimbulkan bau dan mengganggu kesehatan manusia. Salah satu sentra peternakan sapi adalah wilayah Desa Wonoagung di Kabupaten Malang yang menjadi penghasil susu terbaik di Kabupaten Malang dalam segi kualitas dan kuantitasnya. Secara geografis Kecamatan Kasembon merupakan salah satu dari 33 Kecamatan di Kabupaten Malang, berjarak ± 33 km dari pusat pemerintahan Kabupaten Malang di Kepanjen (Kecamatan Kasembon, 2014).

Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan, 70% warga desa adalah peternak dan setiap peternak rata-rata memiliki 2—3 sapi perah tiap kandangnya. Desa Wonoagung sendiri sudah mengenal bagaimana proses pembuatan biogas, kompos, dan bio-slurry. Namun dalam beberapa tahun terakhir penduduk desa lebih memilih enggan untuk mengelola dikarenakan tidak tahu cara manajemen produk limbah yang sudah jadi menjadikan produk limbah menumpuk di dalam gudang. Untuk itu pengelolaan limbah berbasis kepemudaan sebagai upaya Zero Waste dan optimalisasi metode Farming Integrated System (FIS) Di Desa Wonoagung perlu dilakukan agar pengelolaan limbah sapi pada wilayah ini dapat secara simultan menjawab permasalah limbah sapi (Lingkungan dan kesehatan) serta pengelolaan limbah juga menguntungkan secara finansial (ekonomi dan energi) bagi masayarakat Desa Wonoagung.

Konsep zero waste yaitu seluruh limbah dari proses produksi didaur ulang  dan dimanfaatkan kembali ke dalam [Maaf Artikel Terpotong, baca selengkapnya di buku berikut (klik gambar)]

blank

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar