Riset dan Inovasi sebagai Penggerak Roda Perekonomian: Melirik Kultur Embrio “Kopyor” ala Pak Nandar

Ditulis Oleh Jumardin Rua

Daging buah (endosperma) lepas dari batoknya, berstektur remah (gembur), jumlah air lebih sedikit dan aroma yang khas adalah ciri kelapa yang tampak aneh bagi yang pertama kali melihatnya. Namun bagi yang pernah mengkonsumsinya, mereka akan mengenalinya sebagai “kelapa kopyor”. Tak perlu memperhatikan bentuknya yang aneh, jika mencicipinya anda akan menikmati rasa yang lebih manis, gurih dan lezat. Sehingga tidak mengherankan jika di pasaran harganya dapat mencapai sepuluh kali lipat dari kelapa biasa. Di Indonesia terdapat dua tipe  kelapa kopyor yaitu tipe dalam dan tipe genjah yang dapat dibedakan dari pohonnya. Ciri tampak aneh pada buah yang mendapat julukan The Delights of Indonesia Fruit ini disebabkan oleh mutasi genetik secara alamiah[1].

blank

Gambar 1. kelapa kopyor tipe genjah (atas) dan tipe dalam (bawah) (http://www.litbang.pertanian.go.id)

Salah seorang petani mengaku buah ini diminati oleh masyarakat dari Grobogan, Maluku, Cilacap, Demak dan daerah lain di Indonesia. Bahkan beliau menambahkan kewalahan dengan pesanan mencapai 200 hingga 500 buah per harinya yang berasal dari Jakarta. Terlebih setelah kelapa kopyor genjah telah memiliki sertifikat dari Kementerian Pertanian membuat buah ini mampu merambah hingga ke swalayan dan restoran[2].

blank

Gambar 2. seorang petani sedang menyiapkan bibit kelapa kopyor (https://radarkudus.jawapos.com)

Secara alami, tanaman yang dibudidayakan hanya akan menghasilkan 10 hingga 30 persen buah kopyor dalam satu tandan. Hal ini terjadi karena petani masih menggunakan cara tradisional dalam pembibitannya. Mereka mengambil buah dari pohon kelapa kopyor kemudian ditumbuhkan untuk dijadikan bibit. Alhasil daerah-daerah penghasil kopyor seperti Jombang, Kalianda, Pati, Purbalingga, dan daerah-daerah di Jawa Tengah tidak dapat memenuhi permintaan pasar yang begitu banyak[3]. Hal itulah yang memantik semangat pak Sisunandar untuk mengatasinya dengan perbanyakan bibit melalui kultur embrio. Teknik yang awalnya hanya sebuah hipotesis (dugaan) dan kemudian dapat dibuktikan tersebut didasarkan atas keyakinan bahwa sel-sel muda organ vegetatif dan generatif mampu membentuk individu baru dan mempunyai sifat identik dengan induknya[4].

blank

Gambar 3. Sisunandar, dosen Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto/UMP (http://sumberdaya.ristekdikti.go.id)

Lalu apa yang dimaksud dengan kultur embrio? Apa bedanya dengan kultur jaringan? Untuk membedakannya dapat dipahami bahwa kultur embrio sudah pasti kultur jaringan, sementara kultur jaringan belum tentu kultur embrio. Jadi, pada dasarnya untuk memperoleh bibit dari tanaman tertentu dapat dilakukan hanya dengan menumbuhkan sel batang, daun, akar (organ vegetatif) serta embrio (organ generatif)[1]. Teknik kultur jaringan yang menggunakan embrio kemudian memunculkan istilah “kultur embrio”.

Sisunandar yang telah satu dekade lebih konsen dalam pengembangan teknik tersebut telah mampu menghasilkan bibit yang lebih banyak dengan pembelahan embrio (embrio incision). Pada salah satu  publikasinya beliau melaporkan bahwa pembelahan 30 zigot embrio telah menghasilkan 56 bibit (tunas). Hasil tersebut diperoleh dari penggunaan media kultur murashige dan skoog (MS)  dengan volume zat pengatur tumbuh asam butirat indol (IBA) dan 6-furfuril amino purin (kinetin) masing-masing 2 dan 15 µM (mikromolar)[5]

blank

Gambar 4. penggunaan media MS dan zat pengatur tumbuh IBA dan kinetin sebanyak 2 dan 15 µM: (A) tunas tampak hijau-kecoklatan setelah 4 minggu dalam media kultur (B) mulai tumbuh setelah 8 minggu (C) setelah aklimatisasi (D) penanaman di kebun bibit[5].

Embrio yang digunakan merupakan hasil isolasi pada kelapa kopyor yang diperoleh dari petani di Purbalingga dan Pati (Jawa Tengah). Perbanyakan bibit dengan teknik  tersebut terdiri atas 4 tahap yaitu perkecambahan embrio (germination), pembelahan kecambah menjadi dua bagian (incision), masing-masing belahan dibelah kembali menjadi dua (splitting) dan menumbuhkan tunas yang telah terbentuk pada media kultur yang sesuai (recovery)[5].

blank

Gambar 5. (A) kelapa kopyor dengan zigot embrio (B) embrio mulai berkecambah setelah 4 minggu kultur dan siap untuk dilakukan pembelahan pertama/incision (C) pembelahan berikutnya/splitting setelah 4 minggu kultur menghasilkan 4 tunas dari 1 embrio dan siap ditumbuhkan pada media yang sesuai[5].

Pada prosesnya embrio disterilkan terlebih dahulu pada media kultur embrio hibrid (HEC) untuk menghindari kontaminasi bakteri dan jamur. Kemudian diinkubasi pada kondisi gelap dengan temperatur kurang lebih 27 C selama 4 minggu hingga kecambah muncul (Gambar 5B). Tunas yang telah terbentuk selanjutnya ditumbuhkan pada dua varian media MS dan HEC. Variasi volum zat pengatur tumbuh IBA dan kinetin yang digunakan yaitu pada kisaran 2-4 dan 5-15 µM[5].

Kultur dipertahankan selama 14 jam setiap harinya untuk mengamati respon penyinaran terhadap perkembangannya. Selain itu media kultur yang digunakan secara rutin diganti dengan yang baru 1 bulan sekali selama 4 bulan. Aklimatisasi (penyesuaian terhadap iklim) dilakukan setelah terbentuk 2 hingga 3 daun selama 2 minggu sebelum ditanam pada kebun bibit. Namun para peneliti menambahkan untuk memperoleh tunas terbaik waktu aklimatisasi sebaiknya dilakukan 4 minggu di dalam bangunan sederhana dengan intensitas cahaya sedang (screen house)[5].

Baca juga:

blank

Gambar 6. pengaruh penggunaan media MS dan HEC dan zat pengatur tumbuh IBA dan kinetin terhadap (A) jumlah tunas (B) panjang tunas (C) jumlah akar[5].

 Metode pembelahan yang digunakan pada teknik kultur embrio telah menghasilkan bibit kelapa kopyor yang lebih banyak. Tetapi masalah mulai muncul kemudian pada tahap aklimatisasi dimana tingkat keberhasilannya hanya 20%. Doktor jebolan University of Queensland Australia ini mengatasinya dengan penggunaan mini growth chamber yang diletakkan pada lingkungan berintensitas cahaya tinggi (1400 lux) dan sistem pencahayaan 14 jam terang dan 10 jam gelap[3]. Pada akhirnya metode yang dikembangkannya telah mampu meningkatkan perolehan kelapa kopyor lebih dari 90%[6]

blank

Gambar 7. panen perdana kelapa kopyor bersama pejabat Kemenristekdikti, wakil rektor UMP dan peneliti kelapa kopyor Sisunandar Ph.D di Science Techno Park UMP, Rabu 22/5/2019 (https://satelitpost.com)

Perjalanan panjang dan berliku telah dilakoni oleh pak Nandar. Perjuangan dan pengorbanannya telah dibalas dengan dukungan pemerintah untuk menjadikan UMP sebagai Pusat Unggulan Kelapa Kopyor (PUKK)[3]. Pencapain yang telah ditorehkan pak Nandar telah membuka peluang para petani untuk terus mengembangkan bisnisnya, dan pada akhirnya akan menyediakan lapangan pekerjaan.

Referensi

  1. Mashud, N., dan Manaroinsong, E., 2007, Teknologi Kultur Embrio untuk Pengembangan Kelapa Kopyor, Buletin Palma, 3, 37-44.
  2. Putjiwati, S., 2018, Permintaan Kelapa Kopyor Tinggi, Petani Kewalahan Terima Pesanan, https://radarkudus.jawapos.com, diakses pada 12 Agustus 2019 pukul 17.27 WITA.
  3. Anonim, 2016, Tekad Baja Sisunandar Kembangkan Bibit Kopyor True-to-Type, http://sumberdaya.ristekdikti.go.id, diakses pada 12 Agustus 2019 pukul 15.56 WITA.
  4. Thorpe, A., 1981, Plant tissue culture methods and applications in agriculture, Academic Press: New York, London, Toronto, Sydney, dan San Fransisco.
  5. Sisunandar, Alhikmah, Husin, A., Suyadi, A., 2015, Embryo Incision as a New Technique for Double Seedling Production of Indonesian Elite Coconut Type “Kopyor”, Math. Fund. Sci., 47(3), 252-260.
  6. Anonim, 2019, UMP Panen Kelapa Kopyor Hasil Penelitian, https://satelitpost.com, diakses pada 14 Agustus 02.37 WITA.

Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Yuk Ajukan Pertanyaaan atau Komentar