Bagikan Artikel ini di:

Ditulis Oleh Jeffry Kurniawan

Bunyi merupakan sesuatu yang susah kita hindari dalam ber-aktivitas pasalnya semua aktivitas menghasilkan bunyi sekalipun tidur. Dalam ilmu fisika bunyi merupakan salah satu bentuk energi seperi energi panas, energi gerak dan sebagainya. Bunyi dihasilkan dari getaran yang berjalan kearah telinga kita ketika kita mendengarnya. Getaran yang merambat ini membawa energi yang dinamakan gelombang. Bunyi sendiri merupakan gelombang mekanik yaitu gelombang yang membutuhkan media untuk merambat seperti udara, air dan yang lain. Jadi bunyi tidak bisa merambat pada udara hampa atau vacum. Terkadang bunyi disukai oleh manusia seperti bunyi musik, bunyi ketika berbicara dan yang lainnya. Namun bunyi yang terlalu keras atau kebisingan dapat mengganggu aktivitas kita, biasanya bunyi yang bising dihasilkan oleh mesin. Berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 menyatakan bahwa kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan[1]. Dalam keteknik-an ukuran kebisingan bunyi dinyatakan dalam satuan desibel seperti massa yang dinyatakan dalam gram. Dalam ilmu fisika semakin tinggi kebisingan maka energi yang dibawanya semakin besar. Dalam aktivitas sehari-hari kita sering mendengar kebisingan seperti saat di jalan raya suara mesin motor, saat di bandara suara pesawat dan ditempat lainnya namun hanya terlewat begitu saja. Padahal bunyi tersebut membawa energi yang sejatinya dapat dikonversi kedalam bentuk energi lain. Bunyi yang memiliki sumber yang melimpah, sering kita jumpai dalam aktivitas-aktivitas kita dapat dijadikan sebagai sumber energi listrik yang tidak ada habisnya, namun pemanfaatannya masih jarang digunakan.

Gambar Tim Riset PKM Pencentus SINTING [3].

Program Kreativitas Mahasiswa yang merupakan event tahunan Menristekdikti telah berhasil membuat mahasiswa indonesia melirik fenomena tersebut. 3 mahasiswa Universitas Diponegoro Ragil Adi Nugroho, Yudha Cindy Pratama dan Rifki Rokhanudin yang tergabung dalam suatu Tim PKM Karsa Cipta membuat terobosan alat yang fungsinya mengubah kebisingan atau energi bunyi menjadi energi listrik. Alat ini diberi nama “Sinting” yang merupakan kepanjangan dari Sound Energy Harvesting[2].

Gambar SINTING (Sound Energy Harvesting)[3].

Menurut tim ini, latar belakang dibuatnya alat ini karena selama ini kebisingan di bandara belum dimanfaatkan dan dibiarkan terbuang percuma. Selain itu juga untuk menghilangkan kebisingan di bandara karena intensitasnya tinggi dan cenderung mengganggu[3]. Dengan berbekal keilmuannya di teknik elektro dan bimbingan dosennya Catur Edi Widodo tim ini melakukan riset sejak Maret hingga Juli 2019[4]. Prinsip kerja alat ini menggunakan induksi elektromagnetik dan terbagi menjadi dua tahap. Pertama ketika bunyi datang, suara dikumpulkan menggunakan reflektor parabola sehingga bisa difokuskan ke sistem tranduser. Sistem transduser ialah sebuah komponen yang mengubah bentuk energi. Ketika bunyi datang melewati transduser, bunyi yang merupakan gelombang (membawa energi) menggetarkan bagian-bagian dalam transuder sehingga terjadi perubahan energi bunyi menjadi energi gerak (getaran). Kedua ialah dihasilkannya energi listrik yang prinsip kerjanya berbasis induksi elektromagnetik. Jadi terdapat 2 magnet yang kutubnya berlawanan dan kedudukannya tetap, diantara magnet tersebut terdapat loop yang dapat berputar. Getaran yang dihasilkan oleh transduser tadi akan membuat loop berputar diantara magnet. Perputaran loop yang dilalui medan magnet ini dinamakan induksi elektromagnetik yang menghasilkan gaya gerak listrik (tegangan) yang nantinya bisa disimpan ke baterai[5]. Analoginya seperti PLTA yang energi listriknya diperoleh dari gerakan kincir atau turbin yang digerakkan oleh air, namun pada alat SINTING ini energi listriknya diperoleh dari gerakan loop dalam medan magnet yang digerakkan oleh bunyi (getaran). Alat ini menghasilkan listrik dengan capaian tegangan 11,14 volt pada tingkat kebisingan 108,4 dBA[2]. Nilai tingkat kebisingan tersebut dihasilkan oleh pesawat terbang serta mesin transportasi besar lainnya. Tentu saja jika riset dikembangkan dan dilakukan berkelanjutan, tegangan yang dihasilkan akan meningkat serta bisa diterapkan pada bunyi dengan tingkat kebisingan rendah dan sedang. Dan jika riset tersebut berhasil diproduksi dan memenuhi spesifikasi standar, alat ini dapat digunakan sebagai sumber listrik pada bandara atau kawasan-kawasan yang ramai. Selain itu juga dapat diterapkan dalam alat-alat keseharian seperti power-bank bertenaga suara, kipas mini-bertenaga suara karena sejatinya kita terus menerus mendengar suara di sekitar kita seperti saat dalam perjalanan menggunakan motor, powerbank akan otomotis terisi dayanya karena kebisingan disekitar. Hal tersebut akan berdampak mengurangi ketergantungan energi listrik yang bersumber terhadap batu-bara yang sumbernya sulit untuk diperbaharui.

Baca juga:

Referensi:

[1] Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996

[2] www.ristekdikti.go.id. Tiga Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Sinting’ untuk Mengubah Kebisingan Menjadi Energi Listrik.19 Juli 2019

[3] www.undip.ac.id. Tiga Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Sinting’ untuk Mengubah Kebisingan Menjadi Energi Listrik. 17 Juli 2019

[4] Mukti, Akbar Hari. Briliant! Mahasiswa Undip Ciptakan Alat Pengubah Bising Jadi Energi Listrik. 22 Juli 2019. www.jateng.tribunnews.com

[5] Halliday & Resnick, Fisika 2, 1990, Jakarta, Penerbit Erlangga

Warstek Media

Warung Sains Teknologi (Warstek) adalah media SAINS POPULER yang dibuat untuk seluruh masyarakat Indonesia baik kalangan akademisi, masyarakat sipil, atau industri.
Warung Sains Teknologi
Nilai Artikel Ini
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:
Bagikan Artikel ini di:

Tinggalkan Balasan