SOKAVIT : Meningkatkan Produksi Kepiting Soka Melalui Suplemen

Kepiting Soka, Salah Satu Kuliner Favorit di Balikpapan. Sumber : Okezone

Siapa yang tidak suka kepiting soka? Kepiting soka merupakan salah satu makanan kesukaan banyak orang. Rasanya yang khas dan nutrisi yang tinggi membuat makanan ini menjadi salah satu hidangan yang wajib untuk anda rasakan. Bahkan, Balikpapan menjadikan makanan ini sebagai salah satu makanan khas daerahnya. Banyak orang mengatakan belum lengkap ke Balikpapan kalau tidak makan hidangan ini.

Tahukah anda, ternyata kepiting soka tidak begitu saja didapatkan. Kepiting soka merupakan kepiting bakau yang sedang mengalami fase ganti kulit, atau secara ilmiah kita kenal sebagai molting. Nah untuk mencapai fase molting tersebut, dibutuhkan waktu sekitar 120 hari [5]. Hal ini tentunya bukan waktu yang sebentar, terlebih untuk para petani tambak yang penghasilan utamanya berasal dari kepiting soka. Sehingga diperlukan suatu metode budidaya kepiting soka agar proses molting bisa dipercepat.

Saat ini, ada dua metode budidaya yang sering dimanfaatkan untuk mempercepat proses molting pada kepiting soka. Metode tersebut adalah metode mutilasi dan metode injeksi hormon. Metode mutilasi dilakukan dengan cara memotong capit dan kaki kepiting[4]. Akan tetapi, metode ini mempunyai kekurangan, diantaranya kepiting soka jadi memiliki bobot yang tidak memenuhi Permen Nomor 1 Tahun 2015, dimana peraturan ini mewajibkan kepiting memiliki berat minimal 200 gram untuk dapat diperjualbelikan[7]. Metode kedua adalah metode yang lebih baik dari metode pertama, akan tetapi metode ini juga memiliki beberapa kelemahan diantaranya harganya mahal dan hanya dapat dilakukan pada skala laboratorium. Selain itu, apabila metode ini diterapkan pada kepiting dengan berat diatas 150 gram, dapat meningkatkan kematian pada kepiting soka[4].

Lalu, cara yang bagaimana yang efektif? Beberapa mahasiswa asal Kalimantan telah berhasil membuat sebuah inovasi baru agar proses molting pada kepiting menjadi lebih cepat dan lebih efektif. Inovasi tersebut berupa pemberian suplemen yang kita kenal sebagai SOKAVIT. Penemuan tersebut saat ini sedang dikompetisikan di salah satu perlombaan bergengsi untuk mahasiswa, yaitu PKM (Pekan Kreatifitas Mahasiswa).

SOKAVIT, Inovasi Terbaru Ala Mahasiswa Kalimantan, Sumber : itk.ac.id

Apa itu SOKAVIT? SOKAVIT merupakan sebuah “suplemen” yang terdiri atas ekstrak Amaranthus sp., ekstrak Morus sp., dan ekstrak kapur yang dapat merangsang kepiting agar dapat melakukan proses molting dalam waktu yang singkat. Amaranthus sp., atau secara umum kita kenal sebagai bayam, ternyata mengandung fitoekdisteroid[1]. Senyawa eksdisteroid adalah hormon yang menyebabkan molting pada kepiting. Selain bayam, Morus sp., atau yang secara umum kita kenal sebagai murbei, ternyata juga memiliki senyawa yang sama (yaitu eksdisteroid) sehingga cocok untuk dikombinasikan dengan bayam[6].

Menurut Ghifar, ketua kelompok PKM asal Kalimantan ini, Penelitian tentang pemanfaatan bayam untuk mempercepat proses molting sebenarnya sudah ada sebelumnya. Penelitian tersebut pertama kali diperkenalkan oleh Fujaya[3], dan dikenal dengan nama vitomolt. Akan tetapi, penelitian tersebut baru berhasil mencapai proses molting dengan waktu selama 30 hari. Waktu tersebut masih cukup lama sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut[3].

Tim Asal ITK yang Berhasil Membuat Inovasi SOKAVIT. Sumber : itk.ac.id

Penelitian dari tim mahasiswa tersebut dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia ITK dibawah bimbingan Ibu Umi Sholikah, S.Si., M.T., yang merupakan dosen teknik lingkungan di ITK, dan di Tambak Kepiting Soka KUB Patra Bahari Mandiri Desa Salok Oseng, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan 8 variabel kombinasi campuran ekstrak bayam dan murbei dengan masing-masing variabel dilarutkan dalam etanol 80%. Larutan tersebut kemudian disemprotkan pada 80 ekor kepiting, dengan 10 ekor kepiting untuk satu variabel. Pada penelitian juga diperhatikan pH, suhu dan salinitas yang dicek setiap 2 hari sekali[2].

Baca juga:
Kepiting yang Telah Mengalami Proses Molting, Sumber : Penulis

Bagaimana hasilnya? Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perbandingan yang optimal untuk bayam dan murbei adalah 8 : 9. Dengan perbandingan tersebut, kepiting mampu mencapai fase molting pada hari ke-23 dan tingkat mortalitas sebesar 0%. Hasil tersebut lebih cepat 23,3 % dari penelitian sebelumnya[3], dan 77.5% lebih cepat dari fase molting normal[5].

Ghifar berharap agar penelitian ini dapat dikembangkan kedepannya. Penelitian ini akan dipublikasikan di jurnal riset akuakultur kementerian kelautan dan perikanan. Mari kita dukung kelompok ini agar penelitiannya dapat bermanfaat di masa depan.

Sumber :

[1] Aslamyah S, Fujaya Y. 2011. Efektivitas pakan buatan yang diperkaya ekstrak bayam dalam menstimulasi molting pada produksi kepiting bakau cangkang lunak. Jurnal Akuakultur Indonesia. Vol 10, No 1, Hlm. 8-16.

[2] Fauzi, Ghifar, A. H. K. Hakim, D. A. K. Sari, Umi Sholikah. 2019. Optimalisasi kombinasi ekstrak Amaranthus sp., Morus sp., dan kapur untuk molting Scylla sp. Jurnal Riset Akuakultur Kementerian Kelautan dan Perikanan.

[3] Fujaya, Y., Trijuno, D. D., & Suryati, E. 2008. Pengembangan Teknologi Produksi Rajungan Lunak Hasil Pembenihan dengan Memanfaatkan Ekstrak Bayam Sebagai Stimulan Molting. Laporan Penelitian Tahun II,             RISTEK-program insentif riset terapan, MENRISTEK. Makasar: Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.

[4] Harianto, Eko. 2012. Efisiensi Budidaya Kepiting Bakau Scylla serrata Cangkang Lunak pada Metode Pemotongan Capit dan Kaki Jalan, Popey, dan Alami. Bogor : Institut Teknologi Bandung.

[5] Hosamani N,  Reddy SB, Reddy  RP. 2017. Crustacean Molting: Regulation and  Effects of  Environmental Toxicants. Journal of Marine Science vol 7 Hal 236.

[6] Kim S. Y., J.J. Gao, and H.K. Kang. 2000. Two flavonoids from the leaves of Morus alba induce differentiation of the human promyelocytic leukemia (HL-60) cell line. Biology Pharmacy Bulletin 23(4):Hal 451-455.

[7] Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2016. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia nomor 56/PERMEN-KP/2016 Tentang Larangan Penangkapan dan/atau Pengeluaran Lobster (Panulirus spp.), Kepiting (Scylla spp.), dan Rajungan (Portunus spp.) dari Wilayah Negara Republik Indonesia. Indonesia

Putera Rakhmat

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia yang Tertarik dan Sedang Mendalami Dunia Biokimia.
Putera Rakhmat
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Satu gagasan untuk “SOKAVIT : Meningkatkan Produksi Kepiting Soka Melalui Suplemen

  • 11 September 2019 pukul 01:19
    Permalink

    Ikut bangga juga 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *