Kebocoran Sumur Bor PERTAMINA Karawang, Ancaman atau Potensi?

Indonesia kembali dikejutkan oleh bocornya salah satu sumur bor PERTAMINA pada tanggal 12 Juli 2019 di lepas pantai Karawang. Hingga artikel ini dibuat, PERTAMINA masih berupaya untuk menutup sumur tersebut agar tumpahan minyak mentah tidak melebar ke daerah-daerah sekitarnya.

Ilustrasi Minyak Mentah Karawang
Tumpahan Minyak Mentah Karawang

Tumpahan minyak mentah turut merugikan masyarakat sekitar terutama bagi nelayan dan petani udang tambak. Nelayan tidak melaut karena laut yang tercemar oleh minyak mentah. Petani udang tambak terpaksa untuk memanen lebih cepat daripada biasanya sebab untuk mencegah timbulnya kerugian yang lebih besar akibat tumpahan minyak mentah. Penghasilan masyarakat menjadi berkurang akibat menurunnya kualitas panen udang tambak. Belum lagi kerugian keseimbangan ekosistem yang terjadi di sekitar wilayah bocornya sumur yang mengganggu prinsip daur biogeokimia yang terjadi.

Baca juga: Kreatif, Cara Mengukur Kedalaman Sumur atau Jurang Hanya Dengan Batu dan Stopwatch

Di balik segala kerugian yang timbul dari bocornya sumur bor PERTAMINA di Karawang, terdapat potensi yang tersimpan. Potensi itu berupa minyak-minyak mentah yang menyebar di pantai atau di lautan lepas. Minyak-minyak mentah yang selama ini dianggap merugikan namun bisa jadi terdapat potensi yang menguntungkan.

Tentu sudah menjadi hal yang mafhum bahwa koloni mikroba terdapat di berbagai tempat di sekitar kita. Di tanah, air sumur, dedaunan, buah-buahan atau bahkan di kulit kita terdapat koloni mikroba. Misalkan pada kulit, mikroba hidup di mikro habitat kulit dengan berkompetisi satu sama lain supaya mendapat nutrisi. Bahkan warna buah anggur berupa bercak-bercak putih merupakan koloni mikroorganisme khamir. Khamir hidup secara alami di lapisan atas buah anggur. Peran khamir akan semakin tampak saat anggur dibuat jus dan didiamkan dalam periode tertentu niscaya akan terbentuk alkohol.

Demikian pula pada sebaran minyak mentah hasil dari bocornya sumur bor PERTAMINA. Bisa dipastikan walaupun dalam skala kecil di dalam minyak mentah terdapat mikroba golongan bakteri yang mampu mendegradasi limbah tersebut. Mikroba memanfaatkan minyak mentah sebagai sumber nutrisi atau perangkat reaksi biokimia selnya untuk memenuhi proses metabolisme tubuhnya sehingga tetap dapat bertahan hidup.

Baca juga:

Langkah yang baik yang perlu dilakukan oleh para ilmuwan atau para ahli mikrobiologi yaitu melakukan perbanyakan sel mikroba bakteri pendegradasi minyak mentah. Hal pertama yang dapat dilakukan yaitu melakukan proses inokulasi dari substrat minyak mentah. Setelah itu dilakukan proses karakterisasi terhadap mikroba pendegradasi minyak mentah. Kemudian setelah ditemukan bakteri pendegradasi minyak mentah, dilakukan proses perbanyakan secara kuantitas. Hal ini bertujuan untuk optimasi kuantitas proses bioremediasi minyak mentah supaya lebih cepat terdegradasi.

Daftar Referensi

  1. https://www.liputan6.com/bisnis/read/4021764/kronologi-terjadinya-tumpahan-minyak-di-pantai-utara-karawang Diakses pada 1 Agustus 2019.
  2. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190901161730-22-426565/foto-banjir-minyak-pertamina-di-pesisir-karawang/9 Diakses pada 4 September 2019.

Yudha Waskita

Alumni SMA Trensains, angkatan 2014
Alumni Pesantren Tebuireng 2, angkatan 2014
Mahasiswa Biologi FMIPA UNS, angkatan 2017

Bisa dihubungi lewat email waskitatbi@gmail.com
Yudha Waskita
Artikel Berhubungan:

Sponsor Warstek.com:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *